Tadi baru saja aku mengantar Teresa berlomba nyanyi bersama di TMII. Setelah berlomba, T minta naek skylift alias kereta gantung. Sehubungan aku juga belum pernah (padahal rumah deket dengan TMII loh!) jadilah aku dan T naik kereta gantung. ketika mengantri, bertemulah kami dengan sepasang ibu dan anak perempuan persis seperti aku dan T. Usia anak tsb pun seusia dengan T meski beda sekolah. Ternyata ngobrol punya ngobrol dengan si ibu, anak tsb katakan bernama F, juga baru berlomba ucap syair. Karena T dan F tampak langsung akrab meski baru saja berkenalan. Maka aku memutuskan untuk mundur sedikit dan mempersilahkan dua orang di belakangku untuk maju, agar aku dan T bisa masuk satu gerbong dengan F dan ibunya itu.
Di tempat antri, F tiba-tiba berbisik-bisik kepada ibunya sambil melirik2 aku tersenyum lucu. Dia langsung bilang dengan polos, "Kok mamanya Teresa sipit ya matanya, Teresa juga... kayak orang Cina..." Aku langsung spontan tertawa lepas dan berkata, "Iya memang ada keturunan Cina dan memang kan Teresa anak Tante jadi sama dong sipit.." Dalam hati aku tertawa geli menyaksikan komentar si F yang sangat polos tanpa pretensi apapun. Berbeda kalo aku ditanya oleh orang dewasa di sikon lain yg mungkin pertanyaan semacam itu dianggap sensitif serta bernada hati-hati. Memang ya judgemental budaya seperti itu terbukti dipelajari bukan terberi.
Di dalam kereta rupanya kami berempat cukup klop. layaknya tour guide, aku dan si ibu menyebutkan beberapa gedung dan pemandangan yg terlintas di bawah. untung ga ada yg parno ketinggian hehehe... Lalu ketika sampai di tempat beribadah, kami, si ibu dan aku, menyebutkan satu per satu tentang nama tempat ibadah dan umat beragamanya masing-masing. Aku senang ternyata respon F dan T cukup baik tanpa memberikan komentar-komentar yang berbau SARA. Karena aku sangat memperhatikan hal ini, bahwa banyak anak di sekitar masyarakat pada umumnya akan memberikan komentar-komentar yang menunjukkan bahwa pembedaan SARA dan mengutamakan golongannya sendiri sudah 'ditularkan' sejak dini. Sehingga anak cenderung merasa curiga dan membedakan orang lain berdasarkan golongan.
Ketika kembali melewati rumah ibadah ketika dalam rute kembali ke stasiun tempat kami naik, sang ibu berkomentar dengan nada ringan cenderung bangga, "Cuma di Indonesia nih bisa ada berbagai rumah ibadah berjejeran seperti ini..." Aku berkomentar, "Betul, bu. Mangkanya sangat menyebalkan kalo ada oknum-oknum yang bikin rusuh." Ibu itu menanggapi, "Iya. memang... makanya saya males liat berita, yg penting sy bisa kerja. memang jadi apatis sih ya... tapi mau gimana lagi..." Aku pun menanggapi menyetujuinya.
Aku yang mendengarnya merasa senang sekaligus terkejut, karena topik semacam ini berani diucapkan olehnya, mengingat banyak orang, termasuk aku, sangat berhati-hati membicarakan topik seperti ini. Mungkin karena teringat berbagai isu kerusuhan berlatar belakang perbedaan SARA. Dan ditambah lagi fakta bahwa kebetulan si ibu memakai kerudung yg identik dengan perempuan muslim, yang merupakan kaum beragama yg mayoritas di masyarakat kita. Dan saya, yg notabene berwajah Cina ini tentu dengan mudah disangka non muslim (dan memang begitu keadaannya). Meski aku banyak juga mengenal dan berteman baik dengan perempuan muslim berjilbab yang moderat, tetap aku kagum dan senang mendengar komentar si ibu yang membuatku damai.Artinya kami berdua berhasil membangun komunikasi yang mengabaikan atau meminimalisir prasangka buruk terhadap kelompok/individu yang berbeda. Artinya juga kami mempraktekkan toleransi keberagaman. Artinya kami berhasil menolak segala provokasi bahwa berbeda itu salah, berbeda itu harus dilawan. Karena kami berdua yg nyata berbeda ini bisa saling berinteraksi dengan damai bahkan memiliki kebanggaan yg sama, yaitu bisa hidup di Indonesia yang amat plural ini.
Aku menjadi semakin yakin bahwa kejadian2 provokatif kerusuhan berdasarkan isu SARA terutama perbedaan keyakinan, yg akhir-akhir ini marak terjadi, hanyalah "rekayasa" pihak2 yg tidak bertanggungjawab dan rendah hati nuraninya. Karena ketika aku berhubungan dengan berbagai macam masyarakat dengan bermacam SARA, ternyata perbedaan itu tidak menciptakan permusuhan. Bahkan persahabatan bisa terus berlangsung. Perbedaan malah membuat aku dan teman2ku itu 'kaya'. Aku pun jadi merasa bahwa bhineka tunggal ika itu tetap bergaung dalam masyarakat secara murni.
Jadi, semakin juga menguat pertanyaan di hati saya, sebenarnya siapa sih yang mau rusuh?
Marooned Mom
Sit Back and Enjoy My thoughts, My feelings, My World. Let's Share to Grow.
Selasa, 15 Mei 2012
Senin, 02 Januari 2012
Hal-hal yang Sangat Disyukuri
Salah satu resep agar hidup semakin berkualitas adalah dengan bersyukur. Maka terlintaslah beberapa hal yang membuatku merasa bersyukur :
- Makanan2 enak
- Keluarga yang baik, terutama my angel Teresa
- Good books n wonderful writers
- Good friends, yg mau mendengarkan ketika kita perlu mengeluarkan semua kata-kata kita, yg bisa berbagi mimpi, berdiskusi tentang berbagai hal.
- Good Movies
(to be continued)
Baca, baca, baca!
Sekali lagi, sangat bersyukur bisa punya waktu utk membaca buku2 bagus! kl gambaran kutu buku biasanya adl berkacamata tebal, berpakaian rapi, kalo sy : berpakaian santai di rmh (mostly kaos rumahan, celana pendek hehe), tanpa kacatmata, membaca di sela2 kegiatan IRT plus2 ini : ketika nunggu kompi loading, nunggu anak sikat gigi, pis dll, ngisi waktu ketika anak tdr d mobil, dll :D
* baru selesai membaca buku Jalinan Jiwa, by Divakaruni ;)
" Kadang-kadang, sambil membaca buku baru, aku begitu bergairah sampai lupa bernapas. Begitu banyak yang harus dipelajari, dan aku telah kehilangan begitu banyak waktu. Setiap hari dunia-dunia baru bersinar-sinar di sekitarku. Aku seperti orang rabun ayam memakai kacamata pertamanya. Apartheid. Midnight's Children. Internet. Aung San Suu Kyi. Lalu aku berpikir, apa manfaat semua informasi ini? Apa yang akan diubahnya dalam hidupku? ..." (Anju, dalam buku Jalinan Jiwa, Divakaruni)
Yap! semakin banyak buku aku baca semakin sadar aku tidak tahu apa-apa tentang berbagai hal.
Baca, baca, baca!
Selasa, 11 Oktober 2011
Mimpi Itu
Mimpi selalu indah. Mimpi selalu ada dalam hati untuk menyemangati langkah kita, untuk menyalakan lagi api semangat ketika negativistik melanda. Ketika hidup hadir tanpa mimpi, pastilah hidup yang tak 'hidup' lagi.
Buat aku, mimpi adalah hal yang tersimpan paling dalam di hati, di jiwa. Beberapa mimpi sudah terwujud perlahan. Karena kadang mimpiku tidak terwujud di satu titik saja, tapi lambat laun aku sadar mimpi itu adalah kondisi yang berproses terus. Yang akan mematikan mimpi itu jika berhenti dan berkata bahwa aku sudah berada di tujuan.
Abstrak? Mungkin dan memang. Karena hidup adalah lukisan yang subjektif bagi masing-masing orang. Satu kejadian secara objektif dan deskriptif adalah sama. Namun manusia-manusia yang terlibat di dalamnya memiliki interpretasinya masing-masing. Tidak ada yang sama satu sama lain. Kebenaran dalam dunia interpretasi sangat relatif artinya. Tak akan ada satu kebenaran yang mutlak. Karena manusia diberikan anugerah untuk berpikir dan merasa secara fleksibel dan multifaset.
Tadi, aku melihat suatu tayangan di televisi. Diberitakan mengenai sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) bernama Friends di Pnom Penh, Manila, yang memiliki program-program komprehensif yang menangani anak jalanan sampai ke akar permasalahannya. Di LSM tersebut para anak jalanan mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan serta mendapatkan skill kerja, sehingga akhirnya mereka bisa mencari nafkah menopang keluarga. Selain itu LSM tersebut juga memiliki rumah-rumah singgah yang disediakan sebagai tempat anak-anak jalanan beristirahat. Untuk memenuhi kebutuhan finansialnya, LSM ini memiliki restoran-restoran yang secara dijalankan secara komersil sehingga mampu membiayai kegiatan LSM tersebut sebesar kurang lebih 40% dari keseluruhan kebutuhan finansial mereka.
Kisah LSM ini sungguh menggugah hatiku. Mengapa? Karena ada keinginan pribadiku untuk mewujudkan LSM semacam itu, LSM yang bergerak untuk anak-anak jalanan yang memiliki pendekatan komprehensif.
Mimpi ini bukan baru saja terpikirkan. Sudah lama terpupuk namun masih mencari bentuknya. Dengan melihat liputan tadi, semua pertanyaan tentang apa dan bagaimana rasanya sebagian kecil sudah terjawab. Minimal memberi kerangka.
Tapi sebagaimana aku sebutkan tadi, ini masih merupakan mimpi. Karena masih ada pertanyaan besar di samping mimpi itu selalu, mengenai realisasinya. Agar mimpi tidak jadi ide yang berkarat dan lumutan di sudut peti.
Malam ini ijinkan aku sekadar berbagai mimpi ini dulu. Semoga lain kali bisa berbagai tentang perwujudannya.
Adakah mimpi yang ingin kau impikan malam ini? Selamat bermimpi :-)
Buat aku, mimpi adalah hal yang tersimpan paling dalam di hati, di jiwa. Beberapa mimpi sudah terwujud perlahan. Karena kadang mimpiku tidak terwujud di satu titik saja, tapi lambat laun aku sadar mimpi itu adalah kondisi yang berproses terus. Yang akan mematikan mimpi itu jika berhenti dan berkata bahwa aku sudah berada di tujuan.
Abstrak? Mungkin dan memang. Karena hidup adalah lukisan yang subjektif bagi masing-masing orang. Satu kejadian secara objektif dan deskriptif adalah sama. Namun manusia-manusia yang terlibat di dalamnya memiliki interpretasinya masing-masing. Tidak ada yang sama satu sama lain. Kebenaran dalam dunia interpretasi sangat relatif artinya. Tak akan ada satu kebenaran yang mutlak. Karena manusia diberikan anugerah untuk berpikir dan merasa secara fleksibel dan multifaset.
Tadi, aku melihat suatu tayangan di televisi. Diberitakan mengenai sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) bernama Friends di Pnom Penh, Manila, yang memiliki program-program komprehensif yang menangani anak jalanan sampai ke akar permasalahannya. Di LSM tersebut para anak jalanan mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan serta mendapatkan skill kerja, sehingga akhirnya mereka bisa mencari nafkah menopang keluarga. Selain itu LSM tersebut juga memiliki rumah-rumah singgah yang disediakan sebagai tempat anak-anak jalanan beristirahat. Untuk memenuhi kebutuhan finansialnya, LSM ini memiliki restoran-restoran yang secara dijalankan secara komersil sehingga mampu membiayai kegiatan LSM tersebut sebesar kurang lebih 40% dari keseluruhan kebutuhan finansial mereka.
Kisah LSM ini sungguh menggugah hatiku. Mengapa? Karena ada keinginan pribadiku untuk mewujudkan LSM semacam itu, LSM yang bergerak untuk anak-anak jalanan yang memiliki pendekatan komprehensif.
Mimpi ini bukan baru saja terpikirkan. Sudah lama terpupuk namun masih mencari bentuknya. Dengan melihat liputan tadi, semua pertanyaan tentang apa dan bagaimana rasanya sebagian kecil sudah terjawab. Minimal memberi kerangka.
Tapi sebagaimana aku sebutkan tadi, ini masih merupakan mimpi. Karena masih ada pertanyaan besar di samping mimpi itu selalu, mengenai realisasinya. Agar mimpi tidak jadi ide yang berkarat dan lumutan di sudut peti.
Malam ini ijinkan aku sekadar berbagai mimpi ini dulu. Semoga lain kali bisa berbagai tentang perwujudannya.
Adakah mimpi yang ingin kau impikan malam ini? Selamat bermimpi :-)
Little Stories : Menghitung & Kutub Es
Menghitung :
Ketika habis sikat gigi, tiba-tiba T nyeletuk : Mah, satu ditambah dua sama dengan tiga kan? Mama : iyaaa benerr... (dengan senyum lebar) T : Teresa bukannya mikirin itu (1+2=3) loh... tp T udah tau aja... (maksudnya sudah hafal kayanya) Mama : oooo gitu... hehehe... (sambil mikir, waduhhhh ni anak kok pinter bener dah bisa mengenali cara kerja pikirannya bravooo!)
Kutub Es
T sedang menggambar kutub es lengkap dengan iglo dan orang eskimo. Lalu ada juga gambar semacam mobil dan seseorang yang katanya akan pulang ke Indonesia. Atas permintaan T, Mama menggambar dan yang digambar Mama adalah beruang kutub. T : ini beruangnya ikut ke Indonesia sebagai oleh-oleh. Mama : Loh, kasian dong beruangnya nanti kepanasan. T : nanti dikasi AC yang dingiiiinnnn banget... 25 (suhu udara maksudnya hehe...) itu dingin kan? Mama : hehehe.. itu dingin tapi kurang dingiiinnn banget utk beruang... T : berapa dong jadinya? Mama : wahhh bisa2 0 derajat... T : Ya udah, nti dikasi AC nya 0 derajat... Mama : iyaaa bisa jadi bekuuu seperti di Krusty Crab nya Mr. Crab dooonnggg (salah satu adegan di film Spongebob)
-Fun conversation n imaginative ;D
Ketika habis sikat gigi, tiba-tiba T nyeletuk : Mah, satu ditambah dua sama dengan tiga kan? Mama : iyaaa benerr... (dengan senyum lebar) T : Teresa bukannya mikirin itu (1+2=3) loh... tp T udah tau aja... (maksudnya sudah hafal kayanya) Mama : oooo gitu... hehehe... (sambil mikir, waduhhhh ni anak kok pinter bener dah bisa mengenali cara kerja pikirannya bravooo!)
Kutub Es
T sedang menggambar kutub es lengkap dengan iglo dan orang eskimo. Lalu ada juga gambar semacam mobil dan seseorang yang katanya akan pulang ke Indonesia. Atas permintaan T, Mama menggambar dan yang digambar Mama adalah beruang kutub. T : ini beruangnya ikut ke Indonesia sebagai oleh-oleh. Mama : Loh, kasian dong beruangnya nanti kepanasan. T : nanti dikasi AC yang dingiiiinnnn banget... 25 (suhu udara maksudnya hehe...) itu dingin kan? Mama : hehehe.. itu dingin tapi kurang dingiiinnn banget utk beruang... T : berapa dong jadinya? Mama : wahhh bisa2 0 derajat... T : Ya udah, nti dikasi AC nya 0 derajat... Mama : iyaaa bisa jadi bekuuu seperti di Krusty Crab nya Mr. Crab dooonnggg (salah satu adegan di film Spongebob)
-Fun conversation n imaginative ;D
Langganan:
Entri (Atom)