Marooned Mom
Sit Back and Enjoy My thoughts, My feelings, My World. Let's Share to Grow.
Senin, 02 Januari 2012
Hal-hal yang Sangat Disyukuri
Salah satu resep agar hidup semakin berkualitas adalah dengan bersyukur. Maka terlintaslah beberapa hal yang membuatku merasa bersyukur :
- Makanan2 enak
- Keluarga yang baik, terutama my angel Teresa
- Good books n wonderful writers
- Good friends, yg mau mendengarkan ketika kita perlu mengeluarkan semua kata-kata kita, yg bisa berbagi mimpi, berdiskusi tentang berbagai hal.
- Good Movies
(to be continued)
Baca, baca, baca!
Sekali lagi, sangat bersyukur bisa punya waktu utk membaca buku2 bagus! kl gambaran kutu buku biasanya adl berkacamata tebal, berpakaian rapi, kalo sy : berpakaian santai di rmh (mostly kaos rumahan, celana pendek hehe), tanpa kacatmata, membaca di sela2 kegiatan IRT plus2 ini : ketika nunggu kompi loading, nunggu anak sikat gigi, pis dll, ngisi waktu ketika anak tdr d mobil, dll :D
* baru selesai membaca buku Jalinan Jiwa, by Divakaruni ;)
" Kadang-kadang, sambil membaca buku baru, aku begitu bergairah sampai lupa bernapas. Begitu banyak yang harus dipelajari, dan aku telah kehilangan begitu banyak waktu. Setiap hari dunia-dunia baru bersinar-sinar di sekitarku. Aku seperti orang rabun ayam memakai kacamata pertamanya. Apartheid. Midnight's Children. Internet. Aung San Suu Kyi. Lalu aku berpikir, apa manfaat semua informasi ini? Apa yang akan diubahnya dalam hidupku? ..." (Anju, dalam buku Jalinan Jiwa, Divakaruni)
Yap! semakin banyak buku aku baca semakin sadar aku tidak tahu apa-apa tentang berbagai hal.
Baca, baca, baca!
Selasa, 11 Oktober 2011
Mimpi Itu
Mimpi selalu indah. Mimpi selalu ada dalam hati untuk menyemangati langkah kita, untuk menyalakan lagi api semangat ketika negativistik melanda. Ketika hidup hadir tanpa mimpi, pastilah hidup yang tak 'hidup' lagi.
Buat aku, mimpi adalah hal yang tersimpan paling dalam di hati, di jiwa. Beberapa mimpi sudah terwujud perlahan. Karena kadang mimpiku tidak terwujud di satu titik saja, tapi lambat laun aku sadar mimpi itu adalah kondisi yang berproses terus. Yang akan mematikan mimpi itu jika berhenti dan berkata bahwa aku sudah berada di tujuan.
Abstrak? Mungkin dan memang. Karena hidup adalah lukisan yang subjektif bagi masing-masing orang. Satu kejadian secara objektif dan deskriptif adalah sama. Namun manusia-manusia yang terlibat di dalamnya memiliki interpretasinya masing-masing. Tidak ada yang sama satu sama lain. Kebenaran dalam dunia interpretasi sangat relatif artinya. Tak akan ada satu kebenaran yang mutlak. Karena manusia diberikan anugerah untuk berpikir dan merasa secara fleksibel dan multifaset.
Tadi, aku melihat suatu tayangan di televisi. Diberitakan mengenai sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) bernama Friends di Pnom Penh, Manila, yang memiliki program-program komprehensif yang menangani anak jalanan sampai ke akar permasalahannya. Di LSM tersebut para anak jalanan mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan serta mendapatkan skill kerja, sehingga akhirnya mereka bisa mencari nafkah menopang keluarga. Selain itu LSM tersebut juga memiliki rumah-rumah singgah yang disediakan sebagai tempat anak-anak jalanan beristirahat. Untuk memenuhi kebutuhan finansialnya, LSM ini memiliki restoran-restoran yang secara dijalankan secara komersil sehingga mampu membiayai kegiatan LSM tersebut sebesar kurang lebih 40% dari keseluruhan kebutuhan finansial mereka.
Kisah LSM ini sungguh menggugah hatiku. Mengapa? Karena ada keinginan pribadiku untuk mewujudkan LSM semacam itu, LSM yang bergerak untuk anak-anak jalanan yang memiliki pendekatan komprehensif.
Mimpi ini bukan baru saja terpikirkan. Sudah lama terpupuk namun masih mencari bentuknya. Dengan melihat liputan tadi, semua pertanyaan tentang apa dan bagaimana rasanya sebagian kecil sudah terjawab. Minimal memberi kerangka.
Tapi sebagaimana aku sebutkan tadi, ini masih merupakan mimpi. Karena masih ada pertanyaan besar di samping mimpi itu selalu, mengenai realisasinya. Agar mimpi tidak jadi ide yang berkarat dan lumutan di sudut peti.
Malam ini ijinkan aku sekadar berbagai mimpi ini dulu. Semoga lain kali bisa berbagai tentang perwujudannya.
Adakah mimpi yang ingin kau impikan malam ini? Selamat bermimpi :-)
Buat aku, mimpi adalah hal yang tersimpan paling dalam di hati, di jiwa. Beberapa mimpi sudah terwujud perlahan. Karena kadang mimpiku tidak terwujud di satu titik saja, tapi lambat laun aku sadar mimpi itu adalah kondisi yang berproses terus. Yang akan mematikan mimpi itu jika berhenti dan berkata bahwa aku sudah berada di tujuan.
Abstrak? Mungkin dan memang. Karena hidup adalah lukisan yang subjektif bagi masing-masing orang. Satu kejadian secara objektif dan deskriptif adalah sama. Namun manusia-manusia yang terlibat di dalamnya memiliki interpretasinya masing-masing. Tidak ada yang sama satu sama lain. Kebenaran dalam dunia interpretasi sangat relatif artinya. Tak akan ada satu kebenaran yang mutlak. Karena manusia diberikan anugerah untuk berpikir dan merasa secara fleksibel dan multifaset.
Tadi, aku melihat suatu tayangan di televisi. Diberitakan mengenai sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) bernama Friends di Pnom Penh, Manila, yang memiliki program-program komprehensif yang menangani anak jalanan sampai ke akar permasalahannya. Di LSM tersebut para anak jalanan mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan serta mendapatkan skill kerja, sehingga akhirnya mereka bisa mencari nafkah menopang keluarga. Selain itu LSM tersebut juga memiliki rumah-rumah singgah yang disediakan sebagai tempat anak-anak jalanan beristirahat. Untuk memenuhi kebutuhan finansialnya, LSM ini memiliki restoran-restoran yang secara dijalankan secara komersil sehingga mampu membiayai kegiatan LSM tersebut sebesar kurang lebih 40% dari keseluruhan kebutuhan finansial mereka.
Kisah LSM ini sungguh menggugah hatiku. Mengapa? Karena ada keinginan pribadiku untuk mewujudkan LSM semacam itu, LSM yang bergerak untuk anak-anak jalanan yang memiliki pendekatan komprehensif.
Mimpi ini bukan baru saja terpikirkan. Sudah lama terpupuk namun masih mencari bentuknya. Dengan melihat liputan tadi, semua pertanyaan tentang apa dan bagaimana rasanya sebagian kecil sudah terjawab. Minimal memberi kerangka.
Tapi sebagaimana aku sebutkan tadi, ini masih merupakan mimpi. Karena masih ada pertanyaan besar di samping mimpi itu selalu, mengenai realisasinya. Agar mimpi tidak jadi ide yang berkarat dan lumutan di sudut peti.
Malam ini ijinkan aku sekadar berbagai mimpi ini dulu. Semoga lain kali bisa berbagai tentang perwujudannya.
Adakah mimpi yang ingin kau impikan malam ini? Selamat bermimpi :-)
Little Stories : Menghitung & Kutub Es
Menghitung :
Ketika habis sikat gigi, tiba-tiba T nyeletuk : Mah, satu ditambah dua sama dengan tiga kan? Mama : iyaaa benerr... (dengan senyum lebar) T : Teresa bukannya mikirin itu (1+2=3) loh... tp T udah tau aja... (maksudnya sudah hafal kayanya) Mama : oooo gitu... hehehe... (sambil mikir, waduhhhh ni anak kok pinter bener dah bisa mengenali cara kerja pikirannya bravooo!)
Kutub Es
T sedang menggambar kutub es lengkap dengan iglo dan orang eskimo. Lalu ada juga gambar semacam mobil dan seseorang yang katanya akan pulang ke Indonesia. Atas permintaan T, Mama menggambar dan yang digambar Mama adalah beruang kutub. T : ini beruangnya ikut ke Indonesia sebagai oleh-oleh. Mama : Loh, kasian dong beruangnya nanti kepanasan. T : nanti dikasi AC yang dingiiiinnnn banget... 25 (suhu udara maksudnya hehe...) itu dingin kan? Mama : hehehe.. itu dingin tapi kurang dingiiinnn banget utk beruang... T : berapa dong jadinya? Mama : wahhh bisa2 0 derajat... T : Ya udah, nti dikasi AC nya 0 derajat... Mama : iyaaa bisa jadi bekuuu seperti di Krusty Crab nya Mr. Crab dooonnggg (salah satu adegan di film Spongebob)
-Fun conversation n imaginative ;D
Ketika habis sikat gigi, tiba-tiba T nyeletuk : Mah, satu ditambah dua sama dengan tiga kan? Mama : iyaaa benerr... (dengan senyum lebar) T : Teresa bukannya mikirin itu (1+2=3) loh... tp T udah tau aja... (maksudnya sudah hafal kayanya) Mama : oooo gitu... hehehe... (sambil mikir, waduhhhh ni anak kok pinter bener dah bisa mengenali cara kerja pikirannya bravooo!)
Kutub Es
T sedang menggambar kutub es lengkap dengan iglo dan orang eskimo. Lalu ada juga gambar semacam mobil dan seseorang yang katanya akan pulang ke Indonesia. Atas permintaan T, Mama menggambar dan yang digambar Mama adalah beruang kutub. T : ini beruangnya ikut ke Indonesia sebagai oleh-oleh. Mama : Loh, kasian dong beruangnya nanti kepanasan. T : nanti dikasi AC yang dingiiiinnnn banget... 25 (suhu udara maksudnya hehe...) itu dingin kan? Mama : hehehe.. itu dingin tapi kurang dingiiinnn banget utk beruang... T : berapa dong jadinya? Mama : wahhh bisa2 0 derajat... T : Ya udah, nti dikasi AC nya 0 derajat... Mama : iyaaa bisa jadi bekuuu seperti di Krusty Crab nya Mr. Crab dooonnggg (salah satu adegan di film Spongebob)
-Fun conversation n imaginative ;D
Matrealistic World
Aku bersyukur dibesarkan dengan cara yang tidak bersifat matrealistis. Artinya sejak kecil, orang tuaku tidak pernah menularkan nilai2 yg mengutamakan matrealisme belaka. Hal ini amat mempengaruhi diriku sekarang. Hidup sederhana dan mengutamakan "isi" (hati, otak, kepribadian) di atas hal2 lainnya.
Namun, tak bisa disangkal dan dihindari, ketika memasuki tahap pernikahan, kemandirian finansial is a must! Artinya tidak bisa melepas diri sama sekali dari hal2 materi terutama uang. Apalagi ketika si kecil hadir, rasanya tidak mungkin mengabaikan keperluan pengasuhan yang terkait erat dengan faktor finansial yang tidak sedikit jumlahnya, selain tentu saja mengedepankan nilai-nilai moril serta perkembangan psikologis. Atas pertimbangan inilah maka akhirnya dengan modal nekat aku terjun bebas dalam dunia jual-beli, yang tadinya aku sangat hindari. kenapa sangat hindari? yah mungkin karena alasan di atas bahwa sejak kecil selalu lebih ditekankan hal-hal lain selain mencari keuntungan materi. But, India Arie said that the only constant thing in life is changing. Dan aku sangat percaya hal itu, maka mulailah usaha itu bergulir sampai sekarang... :) demi menjawab perubahan tantangan tahapan kehidupanku.
Nah, kembali kepada faktor finansial dalam pengasuhan anak. Tulisan ini sebenarnya terpicu dari curhatan para orang tua (ibu2 terutama) yang sering aku dengar. Mereka mengeluhkan mengenai biaya yang tinggi untuk pengasuhan anak jaman sekarang ini. Terutama untuk pendidikan. Bahkan menyebabkan banyak anak terpaksa putus sekolah. Ya, kesadaran akan pentingnya pendidikan melahirkan masalah baru bahwa biaya yang tidak sedikit harus disediakan demi memfasilitasi pendidikan anak. Meski banyak pihak mendengungkan pendidikan berkualitas haruslah tidak mahal, namun ternyata fasilitas ideal ini belum menyentuh banyak kalangan. Selain tentu saja terjadi karena adanya sandungan dari berbagai macam pihak. Intinya, orangtua sekarang masih mendapati realita, bahwa jika ingin mendapatkan pendidikan bagi anak maka biaya lah yang menentukan kebutuhan itu terpenuhi. Dan kalo ditarik ke area makro, hal inilah juga yang memperparah lingkaran setan kemiskinan pada kebanyakan masyarakat kita (Indonesia).
Selain masalah pendidikan, dunia ini juga menawarkan berbagai macam hal matrealistis yang sangat menggoda untuk dicoba dan dengan mudah mencandunya. Misalnya masalah fasilitas permainan anak, penampilan (dari ujung rambut sampe ujung kaki), gaya hidup (termasuk memiliki gadget terbaru) dan sebagainya...
Aku sendiri sangat berhati-hati agar tidak kecemplung masuk ke dalam dunia konsumtif dan bersifat matrealistis itu... meski sangat tidak dipungkiri bahwa aku adalah orang yang sangat menikmati kenikmatan2 yang ditawarkan dunia fana ini. Misalnya, senang sekali menikmati berbagai karya seni, senang sekali memakai baju2 bagus (dengan budget yg ssi tentunya hehe...), senang sekali makan enak (hampir semua makanan aku suka), senang sekali menonton acara2 hiburan2 yang berkualitas dan mencerahkan, senang sekali membaca buku dsb dsb....
Yah, akhirnya aku harus mengakui, manusia fana tidak mungkin lepas dari kebutuhan matrealistis seperti itu. Hal yang aku cermati disini adalah nilai yang mencegahku dari kecanduan akan dunia matrealistis itu mungkin krn ajaran kesederhanaan hidup sejak kecil, bahwa materi bukanlah segalanya. Sehingga selalu berusaha agar tidak besar pasak daripada tiang ;) Tapii, aku ga mengatakan hal ini mudah, bahkan seringkali aku 'berantem' sama diri sendiri untuk mengatakan 'sudah cukup!' ketika tiba-tiba sudah terlalu lama memelototi banyaknya barang menarik dan lucu di berbagai online shop ini hehehe....
Namun, tak bisa disangkal dan dihindari, ketika memasuki tahap pernikahan, kemandirian finansial is a must! Artinya tidak bisa melepas diri sama sekali dari hal2 materi terutama uang. Apalagi ketika si kecil hadir, rasanya tidak mungkin mengabaikan keperluan pengasuhan yang terkait erat dengan faktor finansial yang tidak sedikit jumlahnya, selain tentu saja mengedepankan nilai-nilai moril serta perkembangan psikologis. Atas pertimbangan inilah maka akhirnya dengan modal nekat aku terjun bebas dalam dunia jual-beli, yang tadinya aku sangat hindari. kenapa sangat hindari? yah mungkin karena alasan di atas bahwa sejak kecil selalu lebih ditekankan hal-hal lain selain mencari keuntungan materi. But, India Arie said that the only constant thing in life is changing. Dan aku sangat percaya hal itu, maka mulailah usaha itu bergulir sampai sekarang... :) demi menjawab perubahan tantangan tahapan kehidupanku.
Nah, kembali kepada faktor finansial dalam pengasuhan anak. Tulisan ini sebenarnya terpicu dari curhatan para orang tua (ibu2 terutama) yang sering aku dengar. Mereka mengeluhkan mengenai biaya yang tinggi untuk pengasuhan anak jaman sekarang ini. Terutama untuk pendidikan. Bahkan menyebabkan banyak anak terpaksa putus sekolah. Ya, kesadaran akan pentingnya pendidikan melahirkan masalah baru bahwa biaya yang tidak sedikit harus disediakan demi memfasilitasi pendidikan anak. Meski banyak pihak mendengungkan pendidikan berkualitas haruslah tidak mahal, namun ternyata fasilitas ideal ini belum menyentuh banyak kalangan. Selain tentu saja terjadi karena adanya sandungan dari berbagai macam pihak. Intinya, orangtua sekarang masih mendapati realita, bahwa jika ingin mendapatkan pendidikan bagi anak maka biaya lah yang menentukan kebutuhan itu terpenuhi. Dan kalo ditarik ke area makro, hal inilah juga yang memperparah lingkaran setan kemiskinan pada kebanyakan masyarakat kita (Indonesia).
Selain masalah pendidikan, dunia ini juga menawarkan berbagai macam hal matrealistis yang sangat menggoda untuk dicoba dan dengan mudah mencandunya. Misalnya masalah fasilitas permainan anak, penampilan (dari ujung rambut sampe ujung kaki), gaya hidup (termasuk memiliki gadget terbaru) dan sebagainya...
Aku sendiri sangat berhati-hati agar tidak kecemplung masuk ke dalam dunia konsumtif dan bersifat matrealistis itu... meski sangat tidak dipungkiri bahwa aku adalah orang yang sangat menikmati kenikmatan2 yang ditawarkan dunia fana ini. Misalnya, senang sekali menikmati berbagai karya seni, senang sekali memakai baju2 bagus (dengan budget yg ssi tentunya hehe...), senang sekali makan enak (hampir semua makanan aku suka), senang sekali menonton acara2 hiburan2 yang berkualitas dan mencerahkan, senang sekali membaca buku dsb dsb....
Yah, akhirnya aku harus mengakui, manusia fana tidak mungkin lepas dari kebutuhan matrealistis seperti itu. Hal yang aku cermati disini adalah nilai yang mencegahku dari kecanduan akan dunia matrealistis itu mungkin krn ajaran kesederhanaan hidup sejak kecil, bahwa materi bukanlah segalanya. Sehingga selalu berusaha agar tidak besar pasak daripada tiang ;) Tapii, aku ga mengatakan hal ini mudah, bahkan seringkali aku 'berantem' sama diri sendiri untuk mengatakan 'sudah cukup!' ketika tiba-tiba sudah terlalu lama memelototi banyaknya barang menarik dan lucu di berbagai online shop ini hehehe....
Langgan:
Entri (Atom)