Tampilkan postingan dengan label short stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label short stories. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Januari 2011

Gila

A : Kamu gila, tahu gak?!
B : Masak?!
A : Iya, aku yakin kamu gila!
B : Yah, mungkin saja. Itu yang selalu dia katakan kepadaku. Bahwa aku gila.
A : Apa?
B : Iya, bahwa aku gila. Yah... mungkin perkataannya benar. Aku juga mulai percaya kalau aku gila.
A : Tapi, katanya, orang gila ga mungkin ngaku gila. Berarti kamu ga gila. Mungkin kamu cuma pengen jadi gila.
B : Iya, mungkin kalo ada yang mensahkan bahwa aku gila, aku ga akan dikatai gila lagi oleh dia. Karena dia puas bahwa hipotesisnya selama ini benar, bahwa aku gila.
A : Ah, kamu rela jadi gila kalo bisa lepas dari dia. Gila!
B : Abis, sekarang, apa lagi yang waras di sini? Semua sudah gila kan?
A : Iya kalo lihat keadaanmu, aku bisa percaya sih, semua sudah gila.
B : Ya, betul. Semua sudah gila!
A : Gila apa ga, yang penting kamu masih hidup tokh... Masih ada kesempatan untuk memilih terus jadi gila atau berenti jadi gila.
B : Ah gila kamu! Kalau orang udah jadi gila, mana bisa berenti jadi waras? Lihat saja dia! Ga henti-hentinya bilang aku gila, padahal dia sendiri?! Kelakuannya ga ada yg bener!
A : Ya, memang perlu orang gila untuk mengetahui siapa orang gila lainnya...
B : Well, mungkin kamu ada benarnya juga. Mungkin tidak sembarangan orang kan bisa bilang seseorang itu gila.
A : Iya, betul itu.
B : Buktinya dia. Dia setiap hari mengatai aku gila, sambil melayangkan apapun yang ada di sekitarnya ke badanku. Sampai aku tak bergerak pun dia tak tahu. Mungkin dia benar. Aku gila. Karena tidak bisa lari dari orang seperti dia. Gila karena malah menetap dan terdiam ketika dia memukuliku.
A : Kau harus lari! Kali ini aku serius. Kalau tidak, besok kau pasti mati. Karena besok dia akan jadi semakin gila dan memukulimu lebih sadis karena lebih mabuk dari hari ini. Lihat saja kondisi mu hari ini. Tampak sangat mengkhawatirkan. Mengapa kau tak lari?
B : Sudah kubilang, otak warasku sudah lama hilang. Jadi mana mungkin aku merencanakan pelarian yang brilian dari dia, orang gila yang akan memburuku kemanapun aku pergi?
A : Ah, memang dunia sudah gila. Seorang istri seperti kau, tidak mendapatkan kewarasan dan kenyamanan di rumahnya sendiri. Malah menjadi gila lantaran suamimu yang edan itu! Sudahlah, kamu tinggal disini saja denganku. Nanti kurawat kau seperti aku merawat anak-anakku, sehingga kujamin kau tak jadi gila beneran.
B : Inilah gilanya lagi, bahwa aku ga bisa menginap disini, menyanggupi tawaran baikmu itu. Karena aku masih terikat dengan janji suci di depan altar, 8 tahun yang lalu. Dia masih jadi suamiku. Mereka akan selalu jadi anak-anakku. Siapa yang bisa menjadi istri dan ibu untuk mereka, selain aku? Keterikatan itu begitu mengekang sekaligus memberikan fungsi bagi hidupku yang sudah gila ini. Tolonglah, lain kali bawakan polisi sekalian bila kau dengar dia memukulku lagi. Karena aku tak sanggup menolong diriku sendiri.
A : Ah, kau memang gila, sahabat.
B : Yah... begitulah. Biarkan aku pulang ya... Dan ingat pesanku tentang polisi tadi. Aku serius tentang itu. Dan biarkan percakapan kita ini hilang ditelan udara. Jangan biarkan tembok itu menyebarkannya. Karena ini hanya sekedar pembicaraan gila, yang tak mungkin dipercayai orang.
A : ...

Kamis, 05 November 2009

Semoga Cinta...

Aku berangkat menaiki burung besi nan gagah itu menuju sebuah pulau untuk berlibur. Sebuah perjalanan yang lama kuimpikan. Setelah sekian lama bersibuk ria dengan kemacetan Jakarta serta polusi dan rutinitas pekerjaan yang mengasyikkan bin membosankan di satu sisi. So, here I am. Menghirup kesegaran aroma bebas (sementara) dari semua kelelahan. Ingin mendapat sesuatu yang fresh. Semua sudah aku persiapkan, dari baju renang, lengkap dengan lotion sunblock, agar bebas bermain di pantai sepanjang hari. Tidak lupa sepasang sendal jepit andalan, beberapa pasang baju yang santai dan loose, kaca mata hitam, buku novel yang telah lama ingin kuselesaikan, dan perlengkapan lain yang sudah tersimpan rapi dalam koper hijauku.

Penerbangan berlangsung aman terkendali... halah, kayak aku tau aja apa yang terjadi di kabin pilot... hehehe... Intinya, aku menikmati setiap detik liburanku ini. Semua terasa indah. Meski aku sendirian, aku tak merasa sepi. Aku memang memilih pergi berlibur sendiri, agar bebas menentukan ini-itunya. Tak mau direpotkan oleh kompromi apapun. Enuaakkknyaaa... pikirku sambil tersenyum kecil.

Aku pun menginjakkan kakiku di sebuah hotel yang tak begitu mewah namun terasa homy. Di belakang hotel itu terlihat pemandangan favoritku. Sebuah kolam renang, dengan pantai di belakangnya. Hamparan langit nan cerah telah menyambutku. Aku pun cepat-cepat menaruh semua barangku di kamar yang telah aku pesan sebelumnya. Aku langsung turun membawa semua perlengkapan untuk berada di luaran. Aku menikmati angin pantai yang seakan memelukku. Aku berjalan mengitari kolam renang yang tampak menyegarkan itu... Namun, tujuanku adalah pantai. Pantai membawa sejuta arti pribadi bagiku. Entah kenapa, sejak kecil aku senang berada di pantai.

Kurasakan perlahan pasir memijat kakiku lembut. Deburan ombak kecil mulai menghiasi pendengaranku. Terdengar sayup bunyi burung khas pantai. Aroma air asin pun tercium. Ah, aku merasa aku dibersihkan dari semua beban. Aku merasa ringan. Aku duduk di atas pasir. Sambil merenggangkan kaki ku, aku mengangkat tanganku tinggi, dan menarik napas sedalam yang kubisa. Kubiarkan udara segar memasuki paru-paruku yang setelah sekian lama terkontaminasi polusi kota besar. Kubiarkan udara segar mengusir semua racun dari pikiran dan jiwaku. Aku bangkit dan maju sedikit untuk merasakan sedikit demi sedikit sensasi air laut yang menghangat di kakiku. Hem, aku pun semakin merasa ringan. Tanpa beban. Seakan siap terbawa ombak kemanapun saja.

Aku memilih duduk di pasir dan membiarkan setengah kakiku berada di dalam air pantai. Hem, nyaman sekali... Entah apa yang aku lakukan persisnya, namun aku ternyata menghabiskan waktu satu jam lamanya di pantai. Aku tersadar ketika perutku mulai keroncongan minta diisi. Maka aku bangkit menuju sebuah meja berpayung besar di sisi kolam renang. Seorang pelayan datang menghampiri dan menyodorkan selembar menu. Aku memilih udang mayonaise dan sebuah menu lokal. Minumannya juice mix. Sambil menunggu pesananku datang, aku menuju sebuah pancuran untuk membilas pasir-pasir yang membalut tubuhku. Sambil mengamati air turun... aku teringat sesuatu. Aku lupa mengabari Mamaku. Mamaku minta dikabari bila aku sudah sampai di sini. Setelah bersih dari pasir, aku mengambil handuk besar yang disediakan hotel itu dan mengeringkan diri seadanya. Langsung kuraih telpon selulerku yang sedari tadi tetap kubiarkan dalam status diam. Telpon bersambung dan terdengar suara Mamaku di ujung kabel. Kami berbicara sebentar dan aku memutuskan pembicaraan ketika makananku tiba. Aku pun segera mengisi perutku yang sudah tak sabar menyantap semua makanan nan nikmat itu. Hem, enaknya...

Setelah makan, aku memutuskan untuk beristirahat sejenak di kamar. Aku pun naik ke kamar dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Setelah bersih, aku merasa amat mengantuk. Tempat tidur adalah jawabannya untuk sekarang ini. Aku pun merebahkan tubuhku, yang ternyata cukup lelah, ke tempat tidur yang amat nyaman. Aku terlelap sampai matahari sore mulai ingin terbenam. Deringan telepon membangunkanku dari mimpi indahku.

Terdengar sebuah suara dari speaker telponku, "Halo, Ning..."

Aku terkesiap... tak mengharap suara itu terdengar... apalagi di tengah suasana liburanku ini..

Aku berusaha kembali ke alam nyata, "Ya.. aku di sini..." jawabku kaku.

"Ning, kamu dimana? Aku perlu bicara denganmu..."

"Untuk apa kamu perlu bicara denganku?" kataku mulai ketus.

"Banyak, Ning. Aku bisa ketemu kamu... sekarang?" katanya agak mendesak.

"Tidak bisa, Di. Tidak bisa." kataku tanpa penjelasan lebih lanjut.

Hening

"Ning, kenapa tidak bisa?" katanya menyesal.

"Pokoknya tidak bisa. Aku harus pergi. Bye." kataku singkat. Aku memutuskan sambungan telpon yang tak mengenakkan itu.

Aku meletakkan telponku di atas meja rias. Dan menatap wajahku di pantulan cermin. Aku pun perlahan duduk. Bertanya akan apa yang terjadi esok lusa, ketika aku kembali ke Jakarta. Bertanya apa yang sebenarnya aku inginkan. Bertanya, dan bertanya... Aku meletakkan kepalaku ke meja dengan bantalan tangan yang terlipat. Suara yang minggu kemarin membawaku ke sini, kembali bergaung di kepalaku.

"Ning, aku ingin menikahimu... Maukah kamu menjadi istriku?" demikian gaungnya. Tanpa bisa kujawab sampai sekarang.

Meski kujawab dengan diam, dia tetap mengejarku. Tanpa memperdulikan lukanya, dia terus memburuku. Penasaran akan jawabanku. Aku malah menjawabnya dengan jarak. Jauh. Dan berangkatlah aku ke pulau ini. Memang benar, ada alasan untuk menyegarkan diri dari kepenatan rutinitas. Namun pernyataannya itu yang benar-benar memicuku untuk memesan pesawat dan hotel ini.

Malam terasa sangat hening. Pikiranku tak tahu harus diisi dengan apa. Hanya gaung suaranya yang masih terus terdengar. Aku memilih makan malam di sebuah restoran seafood di sebelah hotel. Aku memilih tempat duduk yang berada di luar dan memiliki pemandangan ke arah pantai. Pemandangan favoritku. Dan ternyata bulan bulat nan cantik sedang ingin menemaniku dari singgasananya di angkasa. Hem, pemandangan yang sempurna. Pesananku untuk makan malam datang. Untung saja semua kejadian tadi tidak menghilangkan selera makanku. Bukan Nining namanya, kalau melewatkan hidangan lezat semacam ini ;).

Aku makan dengan lambat, menikmati suapan demi suapan yang masuk ke mulutku. Ditemani deburan ombak, rasanya makanan semakin nikmat. Pikiranku sibuk memperhatikan makananku, berusaha menyibukkan diri tepatnya. Agar suaranya yang mengganguku itu dapat hilang ditelan malam.

Makanan pun habis. Aku bersandar dan menyeruput minumanku dalam-dalam. Menarik nafas... mencoba menghirup kesegaran. Kupandang langit, tampak bersih dan berpusat pada si bulan... Tak sadar, hatiku bertanya pada bulan. Sebenarnya mengapa aku tidak mampu menjawab ajakannya untuk menikah? Apa yang aku tunggu? Apa yang aku inginkan? Mengapa aku tidak mampu memutuskan?

Aku bukanlah orang yang sulit dalam memutuskan sesuatu. Aku selalu ingin semuanya bisa aku putuskan sendiri. Aku selalu tahu apa keinginanku. Sampai saat itu. Ketika ia melontarkan sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang telah sekian lama aku pikirkan. Namun ternyata ia yang menyuarakannya.

Hubunganku dengannya telah cukup lama terjalin. Kurang lebih 4 tahun lamanya. Cukup lama, bukan? Tapi selama itu kami berdua cukup sibuk dengan karir kami masing-masing. Aku di bidang training sedangkan dia di bidang advertising. Kami sangat menikmati waktu-waktu yang kami habiskan bersama setiap akhir minggu. Bahkan sering kali dihiasi kejutan pertemuan di tengah minggu. Tak ada konflik utama di antara kami. Namun, kami berdua tidak pernah memunculkan topik untuk melanjutkan hubungan kami ke tahap berikutnya, yaitu menikah. Memang secara pribadi, aku pernah memikirkan tentang pernikahan. Pada saat itu ide tentang pernikahan nampak seperti alien bagi duniaku. Sesuatu yang ada di awang-awang, tanpa tau kapan atau apakah benar keberadaannya di dalam duniaku.

Sedangkan dia... aku tak tahu menahu pendapatnya tentang hal ini. Sampai tiba-tiba ia melontarkan pertanyaan alien tadi... apakah aku mau menikah dengannya...

Ya ampun... apa yang ia pikirkan... Kami tidak pernah sekalipun membahasnya. Apa yang kami bicarakan seputar kehidupan karir kami, teman-teman kami, hobi musik kami yang sama, dan banyak topik menarik lainnya. Tapi, tentang pernikahan? Tak pernah sedikitpun kami menyentuhnya... seakan pernikahan adalah menu yang belum pernah kami kenal dalam restoran cinta kami.

Bulan membisu seperti biasa, mengambil peran sebagai pendengar yang baik. Ah, apa yang harus kukatakan padanya... Hatiku, tiba-tiba bersuara...

"Ning, apa kamu tidak mencintainya lagi?"

Aku terkejut, mengapa pertanyaan itu muncul?

"Tentu aku mencintainya. Aku mencintainya..." kataku menjawab buru2... tentu tanpa suara... agar tidak disangkan orang gila yang suka bicara sendiri.

"Lalu mengapa kamu tidak mengiyakan ajakannya? Apa yang kamu harapkan dari hubungan dengannya?" tiba-tiba suara hatiku terdengar lagi. Belum puas rupanya.

"Duh.... aku harus jawab apa... aku ga tau kenapa aku ga menyambut ajakannya... Aku berharap ... dia ada di sisiku terus.... selamanya... Aku ga mau kehilangan dia..." jawabku tambah lirih sambil menutup mata. Seakan kalimat terakhirku menghabiskan sebagain besar energiku. Tiba-tiba aku merasa lelah...

Aku memang tak ingin kehilangannya. Aku tak pernah merasa nyaman dengan laki-laki lain seperti bersamanya. Namun, nyatanya... aku terlalu takut melangkah ke tahap pernikahan. Meski hatiku berontak lagi, karena aku juga ingin terus bersamanya. Sedang ia tampak tidak ingin selamanya dengan status berpacaran...

Wajar, sungguh wajar... tapi, sulit bagiku untuk mengikuti kewajaran itu. Aku masih ingin seperti sekarang bersamanya. Menikmati waktu berdua, menikmati moment kebersamaan nan indah. Tanpa ada komitmen lebih dari itu. Tanpa ada beban lebih. Tanpa harus... menghadapi kenyataan buruk yang mungkin terjadi...

Setelah membayar, aku memutuskan untuk pulang ke kamar hotel. Rasanya mandi air hangat dengan sabun aroma therapy yang khusus kubawa dari rumah, akan membersihkan pikiranku lagi...

Badanpun segar kembali... Setelah sibuk bertanya ini itu dalam pikiranku... aku pun merebahkan diri di atas tempat tidur. Namun berbagai tanya tetap bergema. Kubiarkan jendela kamar terbuka, tanpa ada tirai yang menghalangi aku dan bulan. Bulan masih setia menemani percakapan bisuku dengan hatiku sendiri.

Rasa kantuk melanda... tak kuasa ku tahan...

Aku tertidur...

Namun tak nyenyak..

Sejumlah memori buruk menghampiriku. Memori masa lalu yang tak kunjung sembuh. Tak kunjung hilang meski dipendam ke dunia antah berantah. Ternyata muncul lagi...

Pukulan yang menimpa tubuh Mama, datang bertubi-tubi dari sosok yang kubenci. Tatapan matanya menyorot tajam padaku. Tatapan yang tak pernah aku bisa maafkan. Teriakan kemarahan tak henti ia katakan. Mama hanya bisa diam. Meminta ampun, akan perbuatan yang sebenarnya tak ada celanya. Aku seperti biasa, berdiri kaku, memeluk boneka kainku. Memandang sosok itu tanpa berkedip. Tangan lain aku kepalkan. Seakan siap memukul sosok itu ketika ia lengah.

Sosok yang kubenci berbalik ke arahku. Menghampiriku, berkata dengan nafasnya yang berbau alkohol bercampur rokok, "Kalau sudah besar nanti, janganlah seperti Mamamu. Menurutlah kepada suamimu. Dan ingat! Jangan katakan kepada siapapun tentang kejadian hari ini. Karena perbuatan ini sudah sewajarnya didapatkan Mamamu." Aku tetap menatap ke depan. Tak bergeser seinci pun. Aku tak takut kepadanya. Aku tak sepenuhnya sadar akan apa yang ia ucapkan. Aku hanya ingin ia cepat pergi dari sini. Supaya aku bisa merangkul Mama. Aku hanya ingin ia lenyap dari bumi.

Aku berlari secepatnya merangkul Mama yang tersungkur di lantai. Kami berpelukan... Air mata penyesalan mulai mengalir di pipi Mama, "Nak, maafkan Mama... Maafkan Mama..." Aku hanya bisa memeluknya... tanpa sadar air mata juga ikut mengalir dari mataku...

Tiba-tiba aku terduduk... dengan nafas tak teratur dan mata terasa basah... Rupanya, aku bermimpi. Mimpi buruk tentang masa lalu, yang kuusahakan kupendam dan kulupakan. Namun ternyata terus menghantui.

Bulan masih setia di atas sana... Aku menyeka mataku dan beranjak ke meja pantry mini yang berada di sudut kamar. Aku menuangkan sejumlah air putih ke dalam gelas. Kureguk semua air itu. Seakan membasuh semua air mataku dan air mata Mama... supaya membilas bersih semua memori buruk itu...

Langit tampak memerah... tanda pagi mulai datang... Aku memutuskan untuk sarapan pagi di kamarku. Jam 7 pagi bel kamarku berbyunyi. Tanpa mengintip lewat lubang pintu, aku membukakan pintu.

"Ya... " kataku mengambang di udara... karena ternyata yang datang bukanlah waiter yang membawakan sarapan pagiku.

Dia berdiri disana, dengan senyuman khasnya. Kaos dan jins belelnya tampak segar dikenakannya.

"Selamat pagi, Ning." katanya lembut.

"Di... kamu..." aku tak sempat menyelesaikan perkataanku lagi.

Ia langsung memelukku. Hangat, seperti yang selalu kurindukan.

"Jadilah istriku, Ning. Aku mohon." katanya, mengulangi permintaannya dulu.

Aku hanya mampu memeluknya... dan tak sadar aku berkata lirih hampir menangis, "Aku takut, Di... Aku takut..."

"Tak ada yang perlu ditakutkan... Berilah maaf pada masa lalu, Ning. Aku bukan Papamu. Aku tidak akan memperlakukanmu seperti itu... Aku mengerti ketakutanmu, Ning." katanya pasti.

Kami melepaskan rangkulan kami. Aku berbalik dan menjatuhkan badanku di kursi depan kaca rias. Dia masuk. Pantulan kami berdua tampak di cermin. Tak kelihatan apa yang membuatku takut melangkah dengannya... Perkataannya, senyumnya, sikapnya selama ini... Ah... tak tau lah...

Aku tetap tak ingin terburu-buru mengiyakan... meski terus terang semua kejadian tadi membuat hatiku sedikit berubah... mulai mengintip asa dan ingin menikmati masa depan berkeluarga dengannya. Namun, alih-alih membahas hal itu, aku menatapnya dan berkata,
"Yuk kita jalan-jalan. Refreshing... Biarkan cinta kita yang menjawabnya seiring waktu... "

"Oke... Tapi, kamu harus ingat... aku tetap menunggu jawabanmu..." katanya serius.

Aku hanya mengangguk kecil, menggamit tangannya, untuk menuju ke arah pintu kamar. Keluar, menghirup udara segar pagi hari di pulau eksotik ini...

Rabu, 12 Agustus 2009

Make ur own miracles

Secangkir kopi sudah menunggu. Membantuku membangunkan syaraf kantukku setiap pagi. Kucium sesaat aromanya yang mewangi. Entah kenapa tetap tidak membuatku bersemangat. Bi Inah dengan setia, sudah menyiapkan roti bakar isi dadar telur kesukaanku. Dengan tomat dan saos sambal di sampingnya. Hmmm... nikmat... Tapiii... tetap tidak membuatku bersemangat seperti biasanya. Ada apa ya denganku? Ah, tak tau lah ada apa. Tak ada waktu sekarang merenung pertanyaan seperti itu. Bisa terlambat nanti. Berabe. Dengan cepat aku menghabiskan semua sarapanku, sebagai bensin aktivitasku sampai siang nanti. Lalu kuraih tas hitamku dan bergegas ke si merah, vw beetle kesayanganku.

Meluncurlah aku menuju pusat kota. Keramaian sudah terasa sejak si merah berada di atas aspal jalan raya depan kompleks rumahku. Seperti biasa, campuran aktivitas anak sekolah yang masuk teramat pagi (6.30!) dan semua variasi profesi tumpah di ruas jalanan yang aku lalui menuju kantor. Untung tak ada kemacetan yang amat parah, sehingga mood ku tidak kian turun.

Akhirnyaa... kantorku tampak di ujung jalan. Megah, menjulang. Salah satu kantor idaman banyak kalangan. Alasannya mereka mengidamkannya tentu berbeda-beda. Ada karena status, bisa bekerja di pusat kota. Ada karena gajinya, yang katanya amat menggiurkan (padahal ya tergantung pengeluaran juga kan....). Ada juga campuran keduanya. Dan mungkin alasan2 lain yg aku tak tau... Aku sendiri, tidak memiliki ambisi khusus bekerja di perkantoran elite ini. Hanya karena kebetulan aku mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan jurusanku ketika kuliah, maka aku tertambat di sini. Aku seorang ilustrator dalam sebuah biro iklan yang cukup mapan. Maka kalau ditanya soal prestise dan penghasilan, tentu sudah lebih dari cukup. Apalagi mengingat aku masih single.

Kujejakkan kaki di loby gedung kantorku. Mantap menuju ke deretan lift yang selalu mengantarku ke lantai 3 tempatku bekerja. Namun, kali ini ada yg berbeda tampaknya di sebelah lift. Ada sebuah stand dengan sejumlah banner dan dua orang ibu setengah baya, berseragam biru tua. Mereka nampak tersenyum ramah. Senyum yang tulus. Membagikan sejumlah flyer kepada orang-orang yang melintas. Karena tempat stand mereka sejalan dengan arahku ke lift, maka aku berhenti untuk mengambil flyer mereka. Ternyata mereka berasal dari sebuah yayasan sosial dari agama tertentu. Mereka sedang mencari donatur tetap agar dapat mendanai berbagai layanan sosial mereka ke berbagai masyarakat lintas agama dan ras. Hmmm... begitu tokh... Aku cemplungkan flyer itu ke dalam tasku. Biarkan berbaur dalam tas yang penuh dengan berkas ini-itu.

Di kantor, aku pun tenggelam dalam berbagai rutinitas seperti biasa. Tenggelam. Mungkin itu kata yang tepat utk menggambarkan keadaanku. Akhir-akhir ini semua rutinitas pekerjaan di kantor sering membuatku penat. Bagian tengkuk dan bahuku sering terasa kaku dan nyeri, terutama pada tengah hari seperti ini. Kenapa ya? Duh, pertanyaan itu lagi... Kulirik jam. Harap-harap cemas. Asyiikk! sudah jam 12. Waktunya istirahat siang. Kujawil temanku, si Itine di sebelah boks meja kerjaku.

"Tin... Bang somay sudah menunggu kita... Yuk! Udah pegel nih.... dan laper tentunyaaa..." kataku mengajak Itine beristirahat di tempat favorit kami.

"Huuu... dasar kamu Son. Aku masih banyak kerjaan nihhh... Kamu duluan gih... Nanti aku nyusul. Paling 15 menit lagi selesai. Oke..... c yaa... " sahut Itine.

"Yaa.... Oke deh... aku tunggu ya di Abang Somay! Dadah.... " kataku agak kecewa.

Aku pun mengambil dompet dan telpon selulerku. Dan meluncurlah ke lantai bawah, tempat si abang somay telah dikerubuti para karyawan yang kelaparan. Aku pun menambah kesibukan si Abang.

"Bang, saya satu porsi seperti biasa yaa.... " kataku dengan suara lantang dan jelas, mengalahkan semua "rival" pembeli yang lain.

"Eh, Neng Sonia... beres Neng... Ni Abang bikinin." kata si Abang agak genit dan sksd (sok kenal sok dekat). Maklum aku dan temanku, si Itine paling sering nongkrong berlama-lama di tempat si Abang Somay sesudah jam kerja usai. Sampai si Abang hafal pada kami dan pesanan kami masing-masing.

Sepiring somay dan teman-temannya sudah siap kusantap. Hemmm... lezaat... lumayan menghalau kepenatanku dan semua pertanyaan "kenapa" yang menyerang akhir-akhir ini. Ketika sedang menikmati si somay dan kawan2nya, tiba-tiba Itine muncul. Ia menjawil pundakku..

"Hey, Son! Asyikkk benerrr.... Akhirnya aku udah bisa kabuurr.... hehehe.... Dan... saatnya menikmati somaaayyy... nyam,nyam... " Itine menyerocos gembira.

"Iya dong.. ni somay kan ga ada matinyee... Ampuh mengobati kejenuhan hahaha.... " kataku berusaha mengimbangi keceriaannya.

"Eh, kamu kenapa sih, Son? Spertinya akhir-akhir ini agak ga ceria gituhh... biasanya cerewet ini itu... Kok sekarang jadi agak diem-diem aja.... Apa lagi ada masalah?" Itine mengungkapkan kecurigaannya akan perubahan mood ku.

"Ehmm... ga tau ni, Tine... Rasanya emang lagi ga semangat aja... " tanggapanku membawa kebingungan yg sama.

"Mungkin kamu lagi dapet? Atau dah kelamaan men-jomblo nih? hahaha..." Itine tampak berusaha menebak ke segala arah.

"Ga... dugaan kamu masih salaaah... wekkk...!" kataku meledeknya.

"Ah, kamu emang susah ditebak siihhh... makanya hidup dibuat seneng aja lah... jagan mikir ribet-ribet!" sarannya, simplisistis.

"Ya, ya, ya.... Bu Guru...." kataku kembali meledeknya.

"Weekkk... Eh, cepetan, musti balik nih. Si Bos nanti ngomel lagi..." katanya mengingatkan akan waktu istirahat yang hampir habis.

Kami pun kembali ke ruang kerja kami. Tenggelam lagi.

***

Pagi datang. Tanpa gairah yang meningkat, aku kembali menyelesaikan rutinitas hari ini. Ketika pulang, aku kembali melewati booth tempat para relawan berseragam biru, yang kemarin pagi aku terima flyernya itu. Oooh... ternyata namanya Hati Putih. Tak sadar, aku pun meneliti satu persatu foto-foto yang ada di papan booth itu. Masing-masing foto menceritakan karya-karya bakti sosial yayasan Hati Putih. Tampak jelas, mereka tak memandang beda ras maupun agama. Tujuan mereka hanya satu, melayani dan mengasihi. Sungguh mulia. Suatu perbuatan yg nampaknya di awang-awang untukku. Pekerjaan bagi orang suci. Bukan untuk orang awam sepertiku. Itu pikirku ketika aku meneliti satu per satu foto-foto tersebut.

"Ini adalah gambaran sebagian karya yayasan kami, Mbak. Apa Mbak tertarik menjadi donatur?" sebuah sapaan lembut terdengar.

"Ooh... iya. Saya baru saja memperhatikannya. Hm, donatur ya... " kataku sedikit gugup, belum tahu apa respon yg tepat utk menanggapi sapaannya.

"Kalau Mbak tertarik, tidak usah merasa harus menyumbang banyak. Ada berbagai donatur kami yang hanya memberikan dalam jumlah kecil setiap bulannya. Yang kami fasilitasi di sini adalah niat untuk melayani dan mengasihi sesama yang kesulitan." jelasnya secara langsung.

" Oooo begitu ya..." kataku masih belum bisa mengambil keputusan.

" Begini saja, mari kita duduk. Saya akan menjelaskan mengenai karya kami. Mbak sepertinya belum bisa memutuskan namun tampak tertarik dengan kegiatan kami. " katanya ramah, mengajakku ke sebuah tempat duduk dan meja sederhana. Tampak sejumlah brosur dan alat tulis di atas meja itu.

Meski bingung akan apa yang mendorongku mengikutinya, aku pun duduk di kursi yang ia siapkan. Ternyata ada beberapa orang lain yang juga seperti aku. Duduk, tertarik mendengarkan penjelasan para relawan berseragam biru. Mereka yang membius dengan senyum tulus dan kata-kata damai.

***

Peluh meleleh di dahiku. Namun tak kuhiraukan sejak tadi. Pegal-pegal karena banyak bergerak juga tak menggangguku. Tanganku sibuk mengangkat semua barang-barang yang ada di sekitar nenek tua itu. Ia tadinya sebatang kara. Namun sejak para aktivis Hati Putih menemuinya, di dalam rumah nan kumuh ini, ia tak lagi seorang diri. Ada orang-orang yang peduli padanya, yang setiap hari menemani dan memperhatikan kebutuhannya. Aku, dengan sangat bersyukur, adalah salah satu dari orang yang dapat melayani nenek tua.

"Nek, aku pindahkan Nenek ke sofa dulu ya. Aku bereskan dulu tempat tidur Nenek." kataku meminta ijin sambil tersenyum.

Nenek tua hanya mengangguk, tanpa kata bersyukur sedalam-dalamnya. Akhirnya ia merasa diperhatikan, merasa berharga sebagai manusia. Tidak ditelantarkan.

"Nah, Nenek di sini dulu. Sambil minum teh hangat ini, Nenek bisa menonton televisi atau memandang ke luar kebun. Aku beres-beres dulu di dalam ya, Nek." kataku ramah.

Tak sadar aku bernyanyi kecil sambil mengerjakan semua tugasku di situ. Tugas yang bukan beban. Tugas yg merupakan penemuan akan kesejatian jiwaku. Melayani dan mengasihi. Aku berterimakasih pada Dia yang di atas, yang mengantar booth Hati Putih ke kantorku pada masa lalu. Aku berterimakasih pada para pengurus, pada Ibu Lin, yang secara khusus membimbingku dan menerka niatan hatiku secara tepat. Aku berterimakasih, atas semua kesempatan pelayanan ini. Sebab, ternyata aku temukan jawaban atas kegelisahan dan kepenatan jiwaku, disini, diantara mereka yang terbuang, yang tidak dipedulikan lagi. Aku merasa bahagia melihat tawa bahagia mereka, ketika aku bercakap dengan mereka. Ketika aku melihat kasih di mata mereka. Aku melihat hidup. Aku menyaksikan harapan, yang tak kunjung padam.

Sekarang, aku tau dan aku alami sendiri. Pekerjaan kasih dan melayani bukannya pekerjaan orang suci. Bukannya ada di awang-awang atau negeri utopia. Mengasihi dan melayani adalah keajaiban duniawi, alat ajaib untuk menyentuh hati semua umat manusia. Kita bisa memilih. Menyaksikan keajaiban lewat dan terjadi tanpa kita berperan di dalamnya. Atau kita turut menciptakan keajaiban itu sendiri. It's ur own choice. U can make ur own miracles...

Senin, 08 Juni 2009

Catatan Kala Hujan

Hujan datang. Selalu membawa suasana tersendiri. Panggilan perut dan keinginan terlarang datang. Aku ingin sekali semangkuk mie instan hangat. Maka klotak klotek aku buat mie instan itu di dapur mungil kami. Dapur yg adalah salah satu wujud impianku. Di rumah yg juga mungil, seperti yg selalu kuinginkan sejak dulu.

Maka, voila... jadilah mie instan yg kudambakan. Kubawa dengan tatakan mangkuk, agar tidak terlalu panas untuk dipegang. Lalu aku mengambil posisi nyaman bergelung di atas sofa empuk favoritku. Dan apa lagi yg biasa dilakukan, selain... menyalakan televisi. Kotak ajaib yg membius itu menyala. Sejumlah pilihan acara tersaji. Si mangkuk mie terdiam di atas meja untuk sementara. Aku berselancar ke beberapa channel. Lalu aku berhenti di sebuah channel yg berceloteh sok dramatis tentang seorang artis yg katanya (lagi-lagi) akan bercerai... Hahaha... another infotaintment... Aku menyaksikannya dan mulai menikmati mie instanku dengan khidmat... (terdengar sayup2 ost lagu Syukur yg biasa dinyanyikan anak sekolah ketika mengheningkan cipta pada upacara bendera...) hueheheheh....

Wah, hujan ditemani mie instan dan sebuah acara gombal berisi cerita artis nan cantik itu melengkapi sore hariku. Tiba-tiba suaramu mengagetkanku.

"Huuu... kebiasaan dehhhh makan melulu.... mi lagi mi lagi..." katamu seperti biasa sambil berlalu...

"Biarin... hehehehe..." kataku cuek sambil meneruskan aktivitas kegemaranku itu.

Setelah mi itu kandas, bahkan sampai kuahnya tak bersisa, aku mencucinya di wastafel dapur. Dari jendela kulihat punggungmu. Sosok yang selama ini setia menemaniku. Meski tanpa romantisme yang biasa kubaca atau kutonton... namun selalu ada hal-hal kecil yg secara nyata membuktikan perasaanmu kepadaku.

Meski selalu berkomentar ini itu tentang kebiasaan makanku (hihihi, iya, iya, aku akui... aku memang suka makan), tapi tetap saja kamu terus memfasilitasinya. Membelikan mie instan kesukaanku setiap kali persediaan mulai habis. Menawariku makanan2 enak ketika sedang kebetulan makan di restoran... Lalu juga... "membelikan" sebuah teman mengetik utk menyalurkan hobi menulisku, meluaskan jejaring sosialku, dan bahkan untuk bekerja... Entah ya... tapi kamu selalu memberikan kenyamanan... meski hanya lewat hal-hal sederhana. Kamu tak pernah absen mengantar keluarga kecil kita ke gereja selama 5 thn kami menikah, selalu berusaha ada untuk kami ketika weekend tiba, bersedia menggantikanku menjaga anak kita pada hari Sabtu ketika aku ada tugas ke luar rumah... Pokoknya hal yang aku harapkan, kamu lakukan... Kadang tak perlu aku minta, kamu berikan.

So... buat apa mengharapkan lebih, mengharapkan sejuta hal romantis kalo itu hanya kedok semata... hanya topeng... Lebih baik apa adanya dan secara manis tetap langgeng... hehehe...

"Mama...." terdengar rengekan yang selalu menghiasi hari-hariku sekarang ini....

Yap! Back to duty again... Hidup akan bergulir... dari satu teriakan ke sebuah mangkuk mie instan lagi... Dan aku merasa cukup bahagia dengan hidupku :))

Senin, 01 Juni 2009

Kerinduanku

Kucoba pendam rasa itu, tapi ternyata masih terus mengganggu sampai sekarang. Aku ingat ketika aku berusia 12 tahun. Yaitu persis ketika aku baru saja dinyatakan lulus dari pendidikan dasar 6 tahun pertama. Pendidikan menengah pertama sudah menunggu di depan mata. Namun hatiku memperhatikan hal lain dari pada peristiwa kelulusan itu. Aku terpesona melihat setelan putih-putih yang melambai anggun. Aku tetap terbius oleh kata-kata bijak nan menghibur yang diucapkan bibir sang idola. Aku tetap merasa selalu rindu untuk bertekuk lutut bersamanya di dalam rumahNya. Aku… Ah, apa yang ingin aku sampaikan terus menggema dalam hati saja… tampaknya belum mampu aku nyatakan dengan lantang.


Sampai tahapan pendidikan lanjutan atas pun aku selesaikan. Namun, tahapan selanjutnya menjadi tanda tanya. Mengingat aku seakan belum memiliki pilihan minat seperti kebanyakan teman-temanku. Orang tuaku tampak sedikit khawatir. Mereka berulang kali menasehatiku agar cepat memutuskan jurusan apa yang aku ingin pilih untuk kuliah nanti. Mengingat ijazah kelulusan telah terpegang. Dan khawatir bermacam universitas, yang telah mulai menjajakan berbagai jurusannya, akan terlanjur tutup dan aku menganggur. Hatiku gundah. Seakan mencari penerangan yang aku tak tahu ada dimana. Mengapa kepastian tidak juga datang kepadaku? Mengapa aku merasa tidak cukup puas jika aku nantinya berprofesi di bidang ekonomi, seperti yang banyak temanku pilih? Mengapa aku merasa kurang afdol kalau akhirnya aku hanya menyandang gelar kesarjanaan? Sebenarnya apa yang aku inginkan? Aku selalu bertanya… namun tak ada jawaban yang kudapatkan. Memang, aku seorang yang sulit mengungkapkan perasaan-perasaan mendalam ini. Yang aku tahu, aku merasa damai ketika bercakap dengan seseorang yang tinggal di sebuah biara. Ya, dia adalah seorang biarawati, yang biasa kusapa dengan sebutan Suster Flo.


Aku mengenal Suster Flo sejak aku kecil. Kepadanya lah aku menceritakan semua cerita keseharianku. Dengannya aku merasa aman dan tentram. Suatu ketika, ia bertanya, apakah aku memiliki kerinduan untuk terus berada dekat denganNya? Waktu itu, dengan kepolosanku, aku hanya menjawab, bahwa kerinduan itu selalu ada, namun aku sudah cukup senang bila bisa aktif di rumahNya dan bersahabat dengan Suster Flo. Maka Suster Flo tak lagi membicarakan tentang hal itu kepadaku.


Pada suatu sore, aku tengah sangat bingung. Esok aku harus memberi keputusan mengenai jurusan yang akan kujalani di waktu kuliah nanti. Langkah kakiku tak urung memutuskan kemanakah akan melangkah… seakan mencari tempat yang tepat untuk mendapat jawaban ini. Tiba-tiba, secara otomatis kakiku berjalan ke arah rumahNya, yang selalu kuanggap rumah kedua. Di sana, aku langsung menemui sosok akrab itu sedang berlutut takzim di dalam rumahNya. Suster Flo sedang menjalankan ritual doa sorenya. Aku turut berlutut di sampingnya. Menutup mataku, merasakan kedamaian merasukiku perlahan. Setelah selesai mengucapkan doa yang tak terkatakan, aku membuka mataku. Melihat tatapan kasih yang tak berkesudahan dari Suster Flo.


“Ada apa, Rin?” tanyanya lembut.


“Sus, aku ingin menjadi seperti Suster..” kataku dengan datar…


Aku terkejut sendiri mendengar pernyaataanku tadi. Seperti bukan aku yang mengucapkannya.


“Wah, betulkah apa yang kamu katakan tadi, Rin…?” tanya Suster Flo setengah tidak percaya akan pendengarannya.


“Suster, aku tidak tahu… dari mana aku mendapatkan kata-kata tadi… tapi ya, aku rasa aku sungguh-sungguh.


Aku selalu merasa damai di sini. Di rumahNya. Aku selalu merasakan bisa terbang tinggi menyebarkan kasihNya jika aku seperti Suster…” kataku dengan napas memburu seakan takut semua kata-kata itu hilang dan tak sempat tercurahkan.


“Nak, mari kita berdoa bersama. Agar Ia menguatkanmu. Mari … “ katanya bijak, sambil mengulurkan tangannya kepadaku. Aku menyambut tangannya, seakan menyambut tanganNya untuk secara penuh memantapkan pernyataanku tadi. Aku menutup mata, membiarkan keimanan sang Suster membimbingku dalam kata-kata indah kepadaNya. Berisi sejuta harapan yang mengokohkan keinginanku yang selama ini terpendam.


Kami telah selesai bercakap denganNya. Kulepaskan tanganku perlahan dari tangan Suster Flo. Aku duduk dalam diam. Aku menarik napas sambil menengadah menatap salibNya. Moment seperti ini selalu membuatku terharu.


Suster Flo mengelus punggungku.

Ia berkata, “Pulanglah Rin. Ayah dan Ibumu harus kamu beritahu tentang keputusanmu ini. Suster yakin, mereka pasti bahagia. Meski ini adalah hal yang baru bagi mereka. Besok kita bicarakan lagi mengenai rencana selanjutnya. Bagaimana, Rin?”


Aku mengangguk, dan perlahan senyuman melebar di wajahku. Ya, aku bahagia sekarang. Semua pertanyaan dan kegundahan hatiku terjawab sudah. Aku akan menuju ke jalanNya. Ya, itulah pilihanku… Suara hatiku… Kerinduan jiwaku…


Kakiku terasa ringan sekarang. Aku berjalan pulang sambil melambai riang kepada Suster Flo. Aku akan menyampaikan berita ini kepada orang tuaku. Semoga mereka sama bahagianya denganku…

Minggu, 10 Mei 2009

Biarkan Lampu itu Menyala

Sejak kecil aku telah ditinggal Ayahku. Beliau pergi atau hilang, entah kemana. Meninggalkan aku dan Ibuku dalam keadaan yang sulit. Beruntung anak orangtuaku hanya aku seorang. Kalau tidak, tak terbayangkan kesulitan ekonomi yang dihadapi. Setelah lulus SMA, aku pun tak tahan untuk terus enak-enakkan duduk di bangku pendidikan. Melihat Ibu, yg dengan rela hati, membanting tulang pada dua pekerjaan. Maka aku pun mulai menjadi penjaga toko kue di sebuah pertokoan yang ramai, sampai sekarang ini. Sedangkan Ibu aku paksa berhenti menjadi tenaga pencuci baju. Sehingga ia hanya menekuni pekerjaannya sebagai penjahit. Dengan dua sumber penghasilan ini kami dapat hidup berkecukupan.


Entah pada usia berapa dan mengapa Ayah pergi meninggalkan kami. Ibu pun tak ingat atau mungkin sengaja melupakannya. Ibu hanya ingat Ayah berpamitan untuk bekerja namun ia tak pernah kembali. Sejak itu setiap sore Ibu tetap menunggu Ayah. Seperti pungguk merindukan bulan. Ibu menyiapkan kopi pahit kesukaan Ayah di meja teras depan. Lalu juga mempersiapkan selop rumah Ayah. Bahkan juga menjerang air untuk Ayah mandi. Baju-baju Ayah pun masih terus terlipat rapi dan bersih di dalam lemari. Aku yg menyimpan kerinduan yang sama kepada Ayah, tidak mampu menegur kebiasaan Ibu yang telah berlangsung menahun itu. Aku bahkan kadang mulai percaya akan kehadiran Ayah. Dan itu membuatku merasa nyaman. Meski kami berdua tidak pernah memasukkan topik itu ke dalam percakapan kami berdua sehari-hari. Seakan duka yg ada telah terucapkan lewat pelukan serta air mata pada doa-doa malam kami.


Rutinitas yg aku lakukan setiap malam adalah menyalakan lampu teras depan. Itu yang setiap malam Ayah lakukan, dahulu. Untuk melakukannya aku harus melewati kamar kerja Ayah, yang penuh tumpukan berbagai buku dan dihiasi sebuah mesin tik manual berdebu.


Setiap kali melewati ruang itu, aku terkenang masa kecilku, ketika aku selalu senang berada di ruang kerja Ayah. Mendengar ketak ketik mesin tik Ayah, seakan lagu masa kanak-kanakku yg selalu terkenang sampai sekarang. Ayah pun menularkan kebiasaan membacanya kepadaku. Sehingga aku mampu melahap buku apapun yang disodorkan kepadaku pada usia yg sangat belia. Meski kadang ada saja kata atau materi bacaan yg masih belum dapat dimengerti sepenuhnya. Aku juga terinspirasi oleh kebiasaan Ayah menulis. Aku ikut menulis di bukuku ketika Ayah mengetik berbagai laporan pandangan mata untuk Koran tempatnya bekerja. Aku menulis tentang apaaa saja yang aku lihat dan alami setiap harinya. Misalnya, ketika aku dimarahi guru di sekolah, karena memakai kaus kaki hitam dengan alasan aku sedang tidak mau memakai kaos kaki putih, sesuai peraturan sekolah. Atau ketika aku menolong seorang pengemis tua di depan sekolah, karena ada anak bandel yang menendang wadah tempat uang pengemis itu. Atau ketika aku dimarahi Ibu karena sering pulang dengan baju kotor akibat bermain bola di lapangan sekolah. Pokoknya semua yang aku alami terekam dengan baik di sejumlah buku. Sekarang buku-buku itu ikut teronggok tak berdaya di dekat mesin tik Ayah. Setelah Ayah tak ada di rumah, aku seakan kehilangan kata ketika memegang pena dan dihadapkan pada buku tulisku. Aku berhenti menulis sejak Ayah hilang. Aku tak sanggup menulis lagi. Seakan hilang sudah makna dan tujuan menulisku.


Suatu malam, seperti biasanya aku berjalan perlahan dalam kegelapan, mencari tombol lampu depan. Kutekan tombol itu, dan menyalalah lampu ber-watt kecil itu. Redup namun tak habis menghangatkan kerinduanku akan Ayah. Aku hendak ke kamarku untuk beristirahat. Namun entah apa, ada yg mendorongku masuk ke kamar kerja Ayah. Biasanya aku amat menghindarinya. Melihatnya pun sering kali membuatku terserang kesedihan. Aku melangkah perlahan, seakan menunggu sesosok Ayah memanggilku dengan hangat untuk menemaninya bekerja. Ajakan itu tak kunjung datang. Langkahku tetap kuteruskan menuju masuk ke dalam ruangan berdebu itu. Kunyalakan lampu, yang ternyata masih menyala setelah sekian lama ditinggalkan mati. Aku menatap ke sekeliling kamar itu. Sekelebatan berbagai memori masa laluku yg bahagia bersama Ayah berseliweran di mataku. Masih dengan energi tersisa, aku merasakan emosi bergejolak. Seakan mendorong sejuta air mata ke pelupuk mataku. Mataku mulai tak bisa ditahan. Air mata menyelinap dan berleleran ke pipiku. Aku menangis, mengenang apa yang pernah aku punya bersama Ayah. Tak terasa aku membuka-buka acak buku-buku tulisku. Rupanya banyak juga coretan Ayah disana-sini, entah dalam bentuk tulisan maupun gambar. Aku tersenyum spontan ketika melihat gambar Ayah tentang cerita si Anjing dan Monyet bandel, yang sering didongengkannya kepadaku. Ya, Ayah memang serba bisa. Bisa mengajakku ke alam imajinasi nan luas. Juga bisa mengenalkanku pada dunia sekitar yg nyata dan tak habis kisahnya. Ah, Ayah… betapa aku merindukanmu…, demikian batinku sambil menutup mata. Tak kuasa lagi menahan kerinduanku, aku terhenyak duduk ke kursi Ayah. Aku tetap menutup mataku, tak sanggup lagi menerima sejuta kenangan yg tersirat dalam kamar ini.


Terdengar kokok Ayam milik Pak Umar, tetangga sebelah rumahku. Aku membuka mataku, kaget. Ya ampun! Ternyata aku tertidur semalaman di kamar kerja Ayah dengan mendekap buku tulis masa kecilku itu. Duh, jam berapa ya… aku bertanya dalam hati. Aku langsung beranjak dari kursi dan melihat jam dinding di depan kamar kerja Ayah. Waduh! Sudah jam 7 pagi! Aku harus bergegas, sebelum omelan bosku mengiang di telinga karena aku terlambat datang untuk membuka gerai kuenya. Tanpa pikir panjang aku mandi dan berpakaian, tanpa sempat makan apapun. Ibu berteriak mengingatkan aku untuk sarapan di perjalanan. Aku mengiyakan selewatan dan langsung berlari menuju jalan untuk menyetop angkot yg lewat. Untung saja tempat kerjaku dekat. Maka aku tidak terlalu terlambat, hanya terlambat sekitar 5 menit dari jam 8 pagi itu.


Setelah semua kesibukan membuka gerai toko berakhir, seperti biasa aku punya sedikit waktu untuk duduk-beristirahat sebelum para pembeli datang. Aku memang sendirian menjaga gerai makanan ini. Mengingat kios toko yang memang kecil dan pembeli yang datang juga masih bisa tertangani sendiri. Si pemilik toko akan datang setiap sore untuk mengambil uang hasil penjualan hari itu.


Sambil duduk mengaso, aku kembali teringat akan peristiwa tadi malam. Betapa kenangan akan Ayah menggugah emosiku. Tak tersadar, aku menggenggam sebuah pena yang biasa aku gunakan untuk menulis bon belanjaan para pembeli. Aku coret-coretkan tanpa makna di sebuah kertas karton bekas bungkusan kue. Tak lama, terciptalah kata-kata dan terjadilah sebuah tulisan, puisi pendek tentang Ayah. Aku pun keasikan menulis. Melupakan sekitarku. Semua kegagapan dan kemandegan ku untuk menulis sejak Ayah hilang, tiba-tiba sirna. Sampai seorang pembeli menggamit lenganku untuk membeli satu dua kue. Aku cepat-cepat menaruh kertasku dan bulpenku. Dengan ringan aku melayani pembeli itu. Setelah selesai, secepat mungkin aku kembali menekuni tulisanku. Demikian berulang kali aku lakukan hari itu. Menulis kata demi kata, yg tadinya hilang dari genggamanku. Sekarang meluncur tanpa hambatan. Seperti ada energi positif mengaliriku sejak tadi malam. Mungkinkah itu… Ayah? Hem, entahlah. Yang aku tahu, semua halangan untuk menulis sudah musnah.


Sejak hari itu, akupun kembali memenuhi halaman demi halaman dengan sejuta kata. Sampai suatu waktu, Ibu membacanya. Ia dengan sumringah mendorong aku mengirim beberapa tulisanku ke berbagai majalah dan Koran. Termasuk ke Koran tempat Ayah dulu bekerja. Aku menuruti dorongannya. Dengan semangat dan tanpa harapan apapun, aku memasukkan beberapa tulisanku yang kebanyakan fiksi itu. Aku poskan ketika aku berangkat ke tempat kerjaku. Sekarang kegiatan menjaga toko kue tidak lagi membosankan. Karena aku selalu ditemani oleh sebuah buku dengan penaku. Merekam semua imajinasi dan pemikiranku yang tampaknya tertunda sejak Ayah hilang.


Suatu sore, aku tiba di rumah. Aku melepas sepatuku dan duduk sebentar melepas kepenatan sesudah bekerja. Ibu menghampiriku dengan wajah cerah seakan mendapat kabar dari surga. Beliau memberikanku sebuah amplop yang tampak penting dan resmi. Aku mengernyitkan dahi, penasaran mengenai isi amplop tadi. Ibu berkata bahwa ada tukang pos yang datang tadi menyampaikan amplop penting itu. Perlahan aku merunduk, memperhatikan amplop tadi. Tertulis namaku dan alamat rumah kami di bagian tujuan surat. Di baliknya ada nama sebuah majalah perempuan, salah satu majalah yang aku kirimi tulisanku tempo hari. Aku kemudian membukanya perlahan, seakan takut merusak surat itu. Aku perlahan juga, mengeluarkan isinya dengan jantung mulai berdetak. Kubaca kata demi kata. Isinya menyatakan bahwa, sebuah karyaku akan dimuat di majalah itu. Honornya akan disampaikan setelah majalah terbit. Sukacita terbit di hatiku. Aku memeluk Ibu dan berterimakasih kepada Beliau. Aku berkata, “Ibu, tulisanku akan dimuat di majalah. Semua berkat dukungan Ibu. Terima kasih, Bu.” Ibu tanpa kata, memelukku erat.


Malam itu, setelah menerima surat dari majalah, entah kenapa Ibu tak lagi menjerang air panas untuk Ayah mandi. Beliau juga tidak lagi mempersiapkan segala kebutuhan Ayah. Aku pun dengan ringan bolak-balik masuk ke kamar kerja Ayah. Aku membereskan sedikit demi sedikit kamar kerja yg telah kembali memberikanku gairah menulis. Seijin Ibu, aku akan mengubahnya menjadi kamar kerjaku. Ya, di sinilah aku akan berkarya lebih lagi. Karena dengan Ayah dan karena Ayah, aku bisa menemukan pencarian jiwaku. Yaitu dengan menulis. Sebuah kegiatan yang membakar semangatku. Dan membuatku merasa berarti sebagai manusia.


Pandangan positif ini dengan cepat menulari Ibuku. Ibu tampak lebih semangat dari sebelumnya. Rumah kami lebih sering diisi dendangan suara Ibu yang merdu. Seperti dulu, ketika Ayah ada. Bahkan beberapa hari kemudian, aku dengar Ibu mulai ikut koor di gereja. Suatu kegiatan yang amat positif untuk Ibu, setelah sekian lama mengurung diri di rumah.


Malam selanjutnya, kami berdua menonton televisi bersama. Kami bercakap-cakap ceria. Membicarakan sebuah majalah yg akan mencantumkan namaku, dan akan terbit esok hari. Aku bahagia. Malam semakin larut. Mata kami mulai menandakan kelelahan. Ibu pun pamit masuk. Sekali lagi beliau memelukku dan berkata, “Ibu bangga denganmu, Nak.” Lalu aku pun membalas pelukannya erat dan memandangnya penuh arti. Televisi aku matikan. Aku bergegas ke ruangan depan untuk melakukan kebiasaanku menyalakan lampu teras.


Namun langkahku terhenti. Tiba-tiba aku mempertanyakan kebiasaanku itu. Tokh, tak ada perlunya aku menyalakan lampu teras, mengingat sudah ada lampu taman yang menerangi bagian depan rumah. Aku pun memutuskan untuk tetap membiarkan lampu teras itu tetap mati untuk malam ini dan malam seterusnya. Karena aku yakin sekarang, ada secercah cahaya yang selalu menyala dalam hatiku, dari kenangan akan Ayah. Cahaya abadi itu akan selalu memberikanku energi dalam berkarya. Cahaya kasih yang tak kunjung padam.


Selamat malam, Ayah. Besok dan besok dan besok dan selamanya, kita pasti akan berjumpa lagi. Dalam tulisanku, dalam ruang kerja kita. Dalam nyanyian Ibu. Dalam berjuta orang yang aku temui setiap harinya. Bahkan dalam bentukan awan yang selalu berubah dan menghibur hati. Terima kasih atas semua semangat ini. Selamat malam, Ayah. Ku tau engkau selalu ada di sini. Dan juga merindukan kami, rumah sejatimu.

Senin, 06 April 2009

Hanya Selewatan...

Kata orang cinta pertama tak akan terlupakan. Mungkin mereka benar. Buktinya sampai sekarang, setelah 18 tahun setelah cinta monyet itu berlalu, aku tetap mengingat pacar pertamaku. Tapi yang bikin aku penasaran bukan dia. Tapi dia yang berikutnya, pacar keduaku. Pacar pertama yang serius. Dengannya aku merasakan naik turunnya perasaan orang berpacaran, tidak seperti pacar cinta monyet itu yang cenderung datar... Di dalamnya aku merasa takut kehilangan, cemburu, posesif dan juga belajar utk menjd lebih dewasa dalam menjalin hubungan.

Entah kenapa, tiba-tiba di tahun keempat pernikahanku kali ini aku teringat dia. Padahal suamiku sudah pasti lebih baik untuk dia. Makanya aku menikahi suamiku bukan dia. Iya, kan? Nah, apa ya yang membuat aku teringat lagi dengannya? Aku bertanya-tanya sendiri. Bukan, bukan rasa spesial yang tumbuh kembali. Bukan, bukan rasa marah karena perlakuannya kepadaku. Juga bukan rasa sedih karena cinta kami yang putus setelah dijalin bertahun-tahun lamanya. Tapi... karena aku merasa ada unfinished bussiness dengannya. Aneh kan... kedengarannya kayak hantu penasaran yang gentayangan di film-film horor saja...

Tapi itulah yang sering muncul di pikiranku belakangan ini. Pernah beberapa kali, ketika aku sedang asik di salah satu situs pertemanan yang lagi booming itu, Buku Wajah, aku coba mencari namanya menggunakan alat pencari teman yang tersedia. Namun nihil. Aku juga coba browse ke berbagai account teman2 nya yang seangkatan dengan kami di kuliah dulu, tapi ga ada juga. Atau bahkan iseng mencari namanya di list alumni pada web bekas kampusku dulu. Di situ aku cuma menemukan nama dan alamat email jadulnya. Intinya dia raib ditelan bumi, nampaknya. Maka aku pun masih saja penasaran kemanakah perginya dia itu? Tanpa tahu apa yang akan dilakukan jika sudah bertemu lagi dengannya. Apakah ingin marah, ya ga mungkin... bisa-bisa mencoreng muka sendiri... Apakah ingin nangis, ya lebih ga mungkin, wong aku ini cukup jaim sama orang lain. Apakah ingin berdiskusi atau minta pendapat ttg persoalan kita yang aku anggap unfinished? Hem... sounds not like me too... ga penting gitu loh... ;)

Tapi, meski aku sadar semua itu ga penting, ga ada alasan yang cukup memadai secara logika untuk bertemu lagi dengannya, aku tetap penasaran ingin mengetahui kabarnya.

Pagi itu, seperti biasa aku duduk di meja kerjaku. Laporan yang harus kubuat sudah menumpuk menanti dibaca dan diterjemahkan ke dalam kata-kata analisa. Tapi otakku masih buntu. Teringat anakku di rumah yang menangis saat kutinggal tadi. Entah kenapa, biasanya anakku tidak rewel seperti tadi pagi. Biasanya dia akan melambaikan tangannya yang mungil ketika aku pamit untuk pergi kerja. Namun tadi pagi, tangisnya meledak ketika aku berkata bahwa Mama akan pergi kerja dulu. Bujukan dan rayuan si Mbak tetap tak manjur meredakan tangisannya. Ia baru agak tenang ketika aku memberikan salah satu boneka kesayangannya sebagai ganti kehadiranku. Aku berkata kepadanya dengan hati yang cukup merasa bersalah, "Nak, Mama kerja dulu untuk beli susu. Kalo kangen sama Mama, peluk saja si Teddy ini. Nanti sore, Mama akan pulang dan main lagi sama kamu. oke...?" Tangisannya mereda begitu menerima si beruang Teddy di pelukannya. Meski senyuman dan lambaian cerianya tak nampak juga, aku harus segera berangkat supaya catatan keterlambatanku di kantor tidak bertambah lagi.

Aku enyahkan sejenak pikiran tentang anakku itu. Aku fokuskan diriku ke semua laporan yang menumpuk. Satu jam, dua jam, aku lalui dengan sukses. Lumayan, sudah selesai tiga laporan dari sepuluh yang harus kukerjakan hari itu. Hem, rasanya sudah saatnya untuk jam makan siang, nih. Kulihat jam, yap! betul, sudah jam 12 siang. Aku pun tersenyum lega. Temanku yang di duduk bersebelahan denganku sampai menatapku heran. Ah, biarlah. Saat ini aku malas mengobrol dengan siapapun. Aku hanya melewatinya dan berkata, "Aku makan dulu, ya. Daahhh...!"

Aku harus menggunakan lift untuk turun ke kantin kantorku di lantai pertama. Gedung tempat kantorku memang ditempati oleh beberapa kantor dengan jenis perusahaan yang berbeda-beda. Jadi, lantai pertama, yang berisi berbagai layanan umum, seperti bank dan kantin makan menjadi tempat yang selalu ramai oleh berbagai pegawai dari profesi yang berbeda-beda. Terutama pada jam istirahat seperti sekarang ini. Lihat saja sekarang. Di depan ATM, sudah sekitar sepuluh orang mengantre. Dari para pegawai bank yang rapi jali sampai pegawai biro periklanan yang meriah warna-warni. Aku langsung menuju ke kantin favoritku. Aku senang makan di kantin ini karena menunya makanan rumah dan harganya tentu ga bikin terlalu dalam merogoh kocek. Rasanya pun, memuaskan perut dan jiwa petualang kulinerku ;)

Aku memilih nasi, pindang bandeng, dan tumis kacang panjang, serta sambal tentunya. Aku pun memilih tempat duduk cepat-cepat, takut tidak kebagian tempat duduk. Aku tak memperhatikan di sebelah siapa aku duduk. Aku cuma melihat sekilas, di sebelah kiriku adalah seorang pria berkemeja lengan panjang putih dan celana panjang hitam. Di sebelah kananku adalah seorang perempuan yang tampak sibuk mengobrol cekikikan dengan seorang temannya.

Aku pun menekuni makananku. Asyik menikmati gurihnya ikan bandengku dan segarnya sambal dan tumis kacang panjang kesukaanku. Sesekali aku melihat ke arah jendela besar di depanku. Menyaksikan beberapa mobil lalu lalang di jalan raya.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah suara dari sebelah kiriku, yang dari tadi tak kuperhatikan sama sekali. "Halo, kamu kelihatan masih sama dengan yang dulu, ya..."

Duh... tak kuasa detak jantungku langsung terpacu bak pelari marathon. Mataku perlahan bergeser melihat ke arah sumber suara itu. Ketika aku bertemu matanya, badanku lemas layaknya tak bertulang. Mulutku tak kunjung menyuarakan apapun.

"Apa kabar, kamu?" tanya suara itu lagi.
"Baik. Kamu?" akhirnya suaraku kembali dari antah berantah.
"Baik." katanya lagi

Hening menyelusup di antara kami lagi.

"Kamu kerja di sini?" katanya memecah keheningan.
"Iya, di lantai tiga..." jawabku menggantung, masih melihat ke arah piringku.
"Aku kerja di lantai lima." ujarnya lagi, seperti mencari-cari bahan pembicaraan.

"Anakmu sudah berapa orang?" tanyanya lagi, kali ini berusaha untuk benar-benar menatap mataku.
"Anakku baru satu, sudah hampir berusia 4 tahun. Kamu, gimana... sudah punya anak?" tanyaku kembali, memberanikan diri menatap matanya.
"Aku belum menikah. Masih sibuk berkarir." katanya agak datar, seperti menyimpan pesan tersembunyi.

Kali ini tampak ia hilang kata, menekuri piringnya yang sudah kosong. Lalu ia mengambil sesuatu di kantongnya. Sebuah kartu nama. Disodorkan kartu nama itu kepadaku. "Ini kartu namaku, simpanlah. Siapa tahu kamu ingin menghubungiku. Aku harus kembali ke kantor. Sampai ketemu lagi, ya. Senang bertemu denganmu."

Ia pun langsung berdiri dari kursinya, berhenti sejenak untuk membayar makanannya, dan keluar kantin tanpa menoleh sekalipun. Punggungnya memberikan kesan sepi.

Aku masih terdiam, layaknya patung memandangi kartu nama yang terletak di samping piringku. Piringku ternyata belum banyak berkurang. Sebab semenjak suaranya berkata, aku tak tahu harus berbuat apa. Aku cepat-cepat memasukkan makanan sebisanya. Aku melirik jam tanganku, sudah 10 menit lagi menuju jam satu. Sejenak aku lupa akan kartu itu dan kehadirannya yang lalu. Ketika aku beranjak dari kursiku, aku pun mengingat adanya kartu itu. Dengan ragu, aku mengambilnya, memasukkannya ke dalam dompet besarku. Aku membayar makananku dan secepat mungkin kembali ke meja kerjaku di atas. Setumpuk laporan membayang di dalam otakku. Namun semua beban pekerjaan itu dibayangi sosoknya dan percakapan singkat kami di kantin. Sampai sore menjelang waktu pulang tiba, semuanya masih terputar bak kaset rusak, berulang-ulang dan membuatku mati rasa.

Kuberhentikan taksi untuk mengantarku pulang. Rasanya kaki ini sudah tidak kuat jika harus berjuang menaiki busway yang biasa mengantarku ke rumah. Kali ini, aku butuh kenyamanan sebuah taksi. Di taksi, kupejamkan mataku dan bertanya pada Tuhan... mengapa aku harus bertemu dengannya hari ini. Dan mengapa ternyata dia ada di dekatku, berada satu gedung perkantoran dengan kantorku. Berarti setiap hari dia ada di dekatku. Ya ampun... creepy juga...Maklumlah aku tipe orang yang percaya pada nasib dan insting. Dan instingku berkata ada sesuatu yang akan terjadi lebih dari percakapan singkat hari ini. Tak perlu waktu lama, instingku terbukti. Telpon genggamku berdering. Kulihat nomer yang tertera di layar. Nomor yang tak ada di memori telponku.

Kupencet tombol penerimaan telpon, kusapa penelpon tak dikenal itu, "Halo..".
"Halo..." balas yang di sana.
Astaga... suara itu lagi, suara yang mengganggu bak kaset rusak sejak siang tadi...
"Ya... ada apa?" kataku mendadak agak gusar oleh telponnya yang tiba-tiba itu.
"Apa aku boleh mengobrol denganmu?" jawabnya.
"Boleh... tapi aku sebentar lagi sampai rumah. Jadi tidak bisa mengobrol terlalu lama." entah mengapa aku tidak ingin berlama-lama mengobrol dengannya, mungkin karena memori masa lalu yang tidak mengenakkan dengannya.
"Ok, aku tak akan lama. Aku cuma ingin kamu tahu, apapun yang kamu masih pikirkan tentang hubunganku dengan perempuan lain, semasa kita pacaran dulu, adalah tidak benar. Maafkan aku kalo aku membuatmu sakit hati." katanya langsung mengutarakan isi hatinya.
Aku terpekur memegangi hp-ku, kaku.
" Oke..." cuma itu yang bisa kukatakan padanya.
"Oke... kalau begitu sampai jumpa" katanya sedikit hampa, mematikan sambungan telpon itu.
Aku pun perlahan memencet tombol hp utk melakukan hal yg sama.
Sejenak ku menutup mata, entah ingin mengenyahkan apa.

Tak terasa taksi telah meluncur ke depan rumahku. Kubayarkan ongkos pulangku kepada sang supir, sembari menggumankan kata terima kasih. Kubuka pintu taksi, kuhirup udara segar khas sesudah hujan. Memasuki rumahku, semua pengalaman hari ini di kantor, pun pertemuan dan sambungan telpon tak biasa tadi itu, menguap entah kemana. Biarlah awang-awang rumahku yg menyimpan semuanya. Suara si kecilku dan kesibukan rutinitas malam kembali menenggelamkanku dengan asiknya. Ah, biarlah... tak ada lagi yg lebih penting dari si kecil sekarang.

Memori hari itu plus pembicaraan yg kurasa tanpa arti setelah sekian lama ia menghilang, rupanya tidak terhapus begitu saja. Pagi hari datang bahkan dengan mimpi tentang hal itu. Hah! Betapa menggelisahkan pemikiran dan mimpi semacam ini. Sudah kucek terakhir kali, sudah tidak ada dendam, apa lagi rasa kebalikannya, rasa sayang padanya. Tak perlu tokh, ia kembali mengganggu pikiranku?

Maka, karena mendadak aku capek dengan semua ini. Aku putuskan untuk menetralisir perasaanku dan mengusir semau rasa ingin tahuku tentang dia. Seperti menghapus semua file tentangnya di hardisk otakku, bahkan sampai menghapusnya permanently dari recycle bin. Pokoknya, aku hilangkan semua rasa tentangnya. Biarlah matahari datang, menguapkan semuanya itu. Dan sambil menyilangkan jari dan berdoa dengan sungguh, aku menarik napas sedalam yg kubisa.

Seperti mendapatkan energi baru, aku melangkah ke dalam gedung kantorku. Bersiap bertemu sosok yg sedang kunetralisir. Berusaha membuktikan bahwa aku adl orang yg baru bila bertemu dengannya. Membuktikan semua usaha ini dan rasa ini ada hasilnya... bahwa aku bisa mengendalikan diriku.

Memasuki lift, kubiarkan diriku relaks sebentar dr semua usaha itu. Namun ternyata, di sinilah moment itu ditakdirkan hadir, utk membuktikan semuanya. Kupikir lift sudah berangkat ke lt.3 tempatku bekerja, namun ternyata ia masih di lt.1 mengisi sampai full sejumlah karyawan menuju ke berbagai level. Dan, ia pun termasuk di dalamnya. Namun, ia tampaknya tak tau aku ada. Maka, ketika lift berhenti di lt.3, aku pun mendesak keluar. Demi membuktikan kenetralan perasaanku dan memuaskan ego, aku mencoleknya selewatan dan berkata santai "Aku duluan ya..." Dia tampak sedikit kaget, namun dengan setengah tersenyum, ia melambaikan tangannya.

Aku melangkah ringan ke meja kerjaku... sambil bersenandung riang... merasa puas akan diriku sendiri yg sudah berhasil mengenyahkan apapun perasaan yg tengah menggangguku sejak kemarin... Yg jelas, saat ini, entah darimana, aku yakin seyakin2nya... aku sudah relieve... sudah let go... sudah selesai dengan apapun unfinished bussiness yg tadinya aku anggap masih ada padanya... Entah kenapa kejadian singkat di lift sudah cukup menyelesaikan itu... dan aku sangat lega karenanya..

Ternyata yg dibutuhkan utk menjawab semua keingintahuanku adalah hanya sebuah pertemuan yg membuat kaku, sebuah percakapan telpon yg kayaknya ga penting, sebuah sekelebatan colekan di lift dan tentu sebuah hati yg ingin lepas dr bayangan masa lalu. Sebuah diri yg ingin mengambil kembali kendali dari semua pertanyaan. Jadi... biarlah rasa penasaranku akhirnya berlalu, krn memang inilah saatnya utk berlalu... Dan sekarang, perlahan namun pasti, aku pun bisa tersenyum menertawakan betapa lucunya aku dengan rasaku itu beberapa hari yl...

Dan aku kembali menikmati duniaku... tanpa ada lagi perasaan menggangu itu. Tks God.

Sabtu, 07 Maret 2009

Cerita Tentang Satu Jam di Dunia Maya

Siang itu, seorang teman bercerita kepadaku tentang pengalamannya kemarin malam. Cuma tentang pengalaman sejam-an bersama dengan seorang pria, lewat dunia maya lagi. Aku cuma menggeleng-gelengkan kepalaku, heran. Betapa dunia maya bisa mengaduk-ngaduk perasaan seseorang...

Pria ini, katakanlah namanya Frans, adalah cinta lamanya temanku. Ketika dulu bertemu, Frans dan temanku sama-sama aktif di senat kampus. Yah, namanya aktifis mahasiswa, ada-ada saja kegiatannya. Dan membuka peluang bagi mereka untuk semakin dekat dan akhirnya berpacaran. Kegiatan pacaran diisi dengan kebersamaan ke berbagai forum diskusi, rapat rutin, pembentukan AD/ART, dan segala tetek bengek kegiatan organisasi. Lucu juga waktu itu kalau ingat gaya mereka berpacaran. Pembicaraan romantis diganti dengan diskusi tentang program senat. Kencan di bioskop diganti dengan forum diskusi tentang isu politik. Pokoe laen dari yg laen deh, gaya pacaran mereka. Tapi, dari sisi lain, enjoy juga melihat mereka berpacaran. Jarang berantem karena masalah sepele yang biasanya diributkan pasangan seusia mereka waktu itu. Mereka ga pernah tuh, berantem karena masalah salah satu dari mereka lupa tanggal jadian mereka. Mereka ga pernah ribut lantaran seseorang laen tidak menelpon atau lupa meng-sms. Atau ketika ada yang terlambat datang janjian. Atau ketika tidak bisa menemani ke tempat hang-out favorit. Hihihi... aneh bin ajaib juga, kan...

Tapi kalo masalah cemburu... Wuih! Ini ni yg seru! Ini satu-satunya hal yg mungkin agak sama dengan pasangan pada umumnya. Mereka pernah saling mencemburui sampai tidak berbicara 1 bulan lamanya. Mereka sama-sama tidak mau membuka pembicaraan ttg topik ini, biasa lah masalah harga diri. Jadi, mereka akhirnya berbaikan kembali karena dua orang yg mereka curigai sebagai selingkuhan masing-masing ternyata adalah saudara sepupu mereka masing-masing. Hahaha, suatu kebetulan yang membuat mereka tak habis pikir, pada waktu itu.

Tapi entah kenapa, setelah lulus kuliah, mereka kehilangan kontak satu sama lain. Maka bubarlah juga perasaan istimewa yang pernah mereka bagi bersama. Frans entah kemana, dengar-dengar dia mendapat beasiswa ke luar negeri dan mengabdikan diri di pulau ujung negeri ini. Sedangkan temanku, mulai memasuki dunia karier dan kebetulan satu kantor denganku, sahabatnya sejak kuliah. Memori tentang Frans memang tetap lekat dalam benak temanku. Maklum pacar pertama yang serius dan dilakoni 4 tahun lamanya. Apalagi perpisahan terlaksana tanpa kata perpisahan. Jelas ada pertanyaan-pertanyaan yg masih menggantung di benak temanku. Namun apa mau dikata, Frans hilang ditelan dunianya sendiri. Dan temanku terdampar di kantor redaksi majalah perempuan ini bersamaku.

Tak disangka oleh temanku, suatu hari yang cerah, nama Frans muncul dari salah satu email yang ada di inboxnya. Di situ, Frans meminta nama id nya dalam ruang percakapan maya. Memang temanku tipe setia, buktinya alamat email sejak kuliah masih terus digunakannya sampai hampir 10 tahun-an ini... Maka tak heran Frans dengan mudah bisa melayangkan email nya kepada temanku... Lalu pertanyaannya, mengapa baru sekarang Frans berani mengirimkan email itu? Pertanyaan ini yang mungkin hanya Frans dan email yang tau. Ketika nama Frans muncul Memori lama kembali tanpa diundang. Maka mereka pun saling bertukar nama identitas messenger, agar bisa chatting katanya. Mengapa bukan nomor HP atau alamat rumah sekalian? Entahlah, hanya rumput yang bergoyang yang tau. Mungkin ini bagian strategi marketing tarik-ulur temanku.

Maka terjadilah percakapan di dunia maya itu antara temanku dan Frans. Mereka bersapaan layaknya teman lama yang baru bertemu kembali. Awalnya tak ada kata mengungkit masa lalu mereka. Namun, seiring percakapan yang bergulir ceria, Frans bercerita bahwa sejak lulus kuliah ia tidak memiliki kekasih karena masih menyimpan kenangan pacarannya bersama temanku itu. Dan entah mengapa, baru sekaranglah Frans berani menghubungi temanku kembali.

Temanku tergagap. Topik inilah yang ia takutkan terjadi. Maka sehalus mungkin, temanku berusaha mengalihkan. Namun, hati tak bisa tertunda lagi tampaknya. Frans langsung menanyakan kesediaan temanku untuk menjalin hubungan kembali. Lebih dari itu, Frans menyatakan keinginannya untuk meminang temanku menjadi pengantinnya. Waduh! Lihatlah, betapa fungsionalnya dunia maya dalam perwujudan hati. Meski tanpa kontak langsung, bisa saja keluar pernyataan yang bisa mengubah nasib orang selamanya.

Temanku sekali lagi hilang kata. Jari jemarinya tak mampu menekan tuts keyboard. Agak aneh, mengingat dia adalah penulis andalan di kantor kami. Otaknya yang biasa penuh kata indah, kini kosong melompong seperti udara dalam balon. Hatinya yang biasanya penuh nuansa cerah ceria, kini mati rasa. Kakinya yang biasanya bisa aktif bergerak, kini hanya sekaku batu. Hah, kemana dirinya pergi pada menit-menit krusial semacam ini? Aku pun tak percaya mendengarnya. Ini amat berbeda dengan yang biasanya temanku lakukan, ceria, aktif dan tak pernah habis ide, apalagi kata. Memang cinta bisa merubah batu jadi roti, tampaknya.

Sekejab momen menjadi patung itu menetap pada diri temanku. Lalu jam dinding berdentang, membangunkan diri yang bersemadi di dalam patung diri temanku itu. Maka, sedikit demi sedikit, perlahan demi perlahan, temanku mulai menyadari posisinya.

Suara gesekan kaki kecil di boksnya, wangi bedak bayi kembali menghampiri hidungnya. Gantungan popok dan kaos mungil menghiasi temboknya. Seorang lelaki, yang telah mengikat janji sehidup semati sedang tidur dengan lelap di tempat tidur mereka. Ya, temanku telah bersuami dan beranak satu orang. Sudah 1 tahun mereka menikah. Anak mereka cantik seperti temanku dan aktif seperti suaminya. Ternyata bukan cinta yang menyebabkan temanku menjadi patung seperti itu. Namun realita yang menyebabkan ia harus berpikir, apa yang harus dijawabnya pada cinta lamanya bahwa hatinya bukan lagi milik laki-laki itu. Bahwa jiwanya sudah dimiliki kehidupan pernikahan, yang telah dipilihnya untuk dijalani sehidup semati sejak 1 thn yang lalu.

Maka tak ada kata lain yang bisa diketikkan pada layar laptopnya. "Frans, maaf, aku sudah berkeluarga. Mari kita berteman saja."

Sesudah kata-kata itu terkirim. Maka giliran Frans yang membisu laksana arca batu. Bahkan tak ada respon apapun sampai pagi berikutnya, ketika temanku bercerita saat ini. Rupanya kebiasaan pergi tanpa pamit masih melekat pada diri Frans.

Cerita itulah yg meluncur tanpa jeda dari mulut temanku. Tentang chat sejam-an yang merubah suasana hatinya. Meski jarinya mampu mengetikkan kata-kata yang menjauhinya dari permainan api, namun hatinya tak bisa menampik. Hatinya dengan jelas memberitahunya, bahwa ia masih menyayangi Frans.

Minggu, 11 Januari 2009

Suamiku Suamimu

Pagi ini seperti biasa, sehabis memandikan anakku, aku membereskan kamar mandi yang penuh dengan berbagai permainan air dan satu bak mandi penuh air sabun. Hari ini adalah hari Senin pertama di tahun 2009. Kalau aku bekerja sebagai seorang karyawan, pasti pagi ini aku mengalami sindrom ‘I hate Monday’, apalagi setelah libur panjang akhir tahun. Tapi aku adalah seorang ibu rumah tangga yang tidak mengenal libur dan hari kerja. Setiap hari adalah hari kerja bagi para ibu rumah tangga. Aku pun berandai-andai. Jika saja hari ini adalah hari libur maka akan ada suamiku yang membantuku memebereskan kamar mandi atau hanya sekedar menemani anak kami bermain sehingga aku memiliki waktu yang lebih leluasa. Namun hari ini adalah hari Senin, jadi tak ada suamiku yang bisa menjadi asisten sementara. Meski ada Mbok Yem, yang membantu pekerjaan mencuci, memasak serta membersihkan rumah, namun semua keperluan Naya, anakku, aku yang melakukannya sendiri.

Tiba-tiba aku teringat percakapanku dengan seorang kenalanku di dunia maya. Dia juga adalah seorang ibu rumah tangga seperti aku. Kami berkenalan lewat sebuah mailing list (milis) yang mengampanyekan pentingnya ASI bagi ibu dan bayi. Setelah beberapa kali bertukar pendapat mengenai berbagai macam isyu pengasuhan bayi, kami pun ber-kopi darat pada suatu waktu. Nah, percakapan pada waktu kopi darat inilah yang kuingat sekarang ini. Karena berhubungan dengan suami yang tadi kuharapkan bantuannya itu.

Hari itu hari Minggu siang yang amat panas. Beruntunglah kami bisa duduk dengan nyaman di dalam ruangan ber-AC ditemani berbagai makanan enak serta minuman segar. Mbak Di, begitu aku menyapa temanku itu, sedang sibuk dengan anaknya, Rafa yang baru berusia 8 bulan. Sedangkan anakku, Brigita, sedang asyik bermain bersama suamiku di sebuah arena bermain, tak jauh dari restoran tempat kami duduk sekarang ini.

Mbak Di berkomentar sambil menyuapi Rafa, “Enak ya, kamu punya suami seperti itu..”

“Maksud Mbak seperti itu apa, Mbak?” tanyaku penasaran.

“Itu lho, mau diminta jagain anak… kan ga semua suami seperti itu,” jelas Mbak Di, dengan suara agak mengecil dan sedikit menerawang.

“Memang saya bersyukur punya suami seperti Mas Dika, Mbak. Karena dia ‘care’ sekali sama urusan anak, termasuk untuk menjaganya,” kataku menimpali.

“Coba ya suamiku seperti Mas Dika…” kata Mbak Di menerawang.

“Emang suami Mbak kenapa?” kataku ingin tau.

“Begini Niek, suamiku itu ga peduli sama sekali dengan urusan rumah tangga. Dia itu masih kolot. Dia menganggap semua urusan rumah dan anak adalah urusanku. Untung anakku baru satu, coba kalau nambah lagi, wah makin pusing deh aku!” sahut Mbak Di panjang lebar.

Aku tidak terlalu terkejut mendengar penjelasan Mbak Di, karena aku pernah mendengar suami semacam itu sebelumnya dari beberapa temanku. Aku menimpalinya juga dengan penjelasan panjang lebar tentang suamiku, “ Tapi Mbak, ga selalu enak kok punya suami kayak Mas Dika. Kadang-kadang aku ngerasa Mas Dika terlalu over-involved, sedikit salah dalam mengatur urusan rumah tangga pasti dimarahinya. Bosan aku. Jadi kesannya aku selalu harus sempurna. Padahal manusia kan ga sempurna, ya Mbak. Ah, bukannya aku ga bersyukur. Aku senang punya suami seperti Mas Dika, yang sangat saying dan peduli pada anak dan istri. Hanya kadang aku cape kalo setiap kali melakukan keteledoran, pasti deh dia ngomel… Coba Mas Dika cuek dikittt ajaa…. Jadinya aku ga selalu ngerasa was-was kalo aku ga sengaja berbuat salah…”

“Waduh, Niek. Jangan merasa seperti itu. Aku yakin Mas Dika ga mau kamu merasa demikian. Pasti dia cuma pengen yang terbaik untuk kamu dan anakmu. Ga usahlah terlalu dimasukkan ke hati. Lebih enak punya suami yang terus ngomeli kamu karena peduli, daripada punya suami yang nanya tentang anak aja jaraaannng banget. Ya, kayak suamiku itu…. Yang taunya pulang kantor, nyampe rumah, makan, mandi, nonton tv atau baca koran, dan tidur. Nengok anak pun cuma sebentar. Jarang ngajak maen. Kasian Rafa…. Kan pengeng juga sekali-sekali bercanda dan bermain sama Ayahnya. Tapi ya itu, Niek. Kalo aku ingatkan, Mas Dodi hanya bilang kalau dia sudah lelah seharian bekerja dan ingin cepat-cepat beristirahat serta berpendapat bahwa Rafa sudah cukup bermain dengan aku seharian…” demikian tanggapan Mbak Dini yang sekaligus merupakan curahan hatinya, yang rupanya telah lama dipendamnya.

“Hem…, iya ya Mbak. Ada benernya juga ya. Kalo dipikir-pikir emang sih enakan ada yang peduli, meski pedulinya kadang-kadang ya itu, nyebelin. Mungkin kayak minum obat kali ya… meski pahit tapi membawa ke keadaan yang lebih baik.” Kataku merasa agak bersyukur dengan adanya Mas Dika.

“Iya, Niek. Bener itu… Tokh kan Mas Dika ga selalu marah kan, pasti ada ketawa-ketiwinya juga kan….” kata Mba Di menyetujui.

“Iya, Mbak bener juga… emang ga lama sih dia kalo marah… besoknya palingan jug sudah becandaan lagi… Oya, Mbak udah coba membicarakan uneg-uneg Mbak ini kepada Mas Dodi? Siapa tau suami Mbak mau berusaha berubah dan lebih peduli dengan kegiatan rumah tangga, terutama membangun hubungan ayah-anak yang lebih dekat dengan Rafa…” kataku berusaha menyarankan.

“Ya itulah Niek. Aku memang belum mencoba, karena energiku sehari-hari sudah habis rasanya untuk mengurus Rafa dan rumah. Aku juga takut jadinya berantem dengan Mas DOdi kalau hal ini aku bicarakan. Aku belum ketemu waktu dan cara yang pas untuk bicarain ini, Niek… ya doain aja ya, supaya aku bisa berani dan nemu cara serta waktu yang pas untuk bicarain hal ini ke Mas Dodi.” jelas Mbak Di.

“Ya Mbak, pasti aku doakan. Yah, emang manusia ga ada puasnya ya, Mbak. Kayaknya berlaku tuh pepatah waktu kita SD, rumput tetangga selalu lebih hijau… Suami orang selalu tampak lebih baik daripada suami sendiri… hahahah…” kataku berusaha menyimpulkan percakapan kami.

“Hahaha… iya, Niek. Kamu bisa aja…. Yang penting kita berusaha yang terbaik ya, untuk anak dan suami..” kata Mbak Di mengiyakan kata-kataku.

Itulah sepenggal percakapanku dengan Mbak Di, yang membuatku selalu semakin bersyukur memiliki suami seperti Mas Dika. Meskipun sering merasa kesal karena Mas Dika mengomeli aku hanya karena hal sepele, namun aku sadar omelannya itu adalah bentuk dari kepeduliannya. Jadi aku tidak lagi terlalu menyimpan kekesalanku ini. Dengan kritikan serta masukan dari Mas Dika, aku berusaha menjadi seorang istri dan ibu yang kian hari kian baik dari sebelumnya.

Selasa, 25 November 2008

Khayalanku

“Kriiiingg…..!” Suara telpon berdering-dering mengejutkanku. Lho, ternyata yang berbunyi adalah telpon di atas meja kantorku. “Kantor?!” pikirku heran. “Sejak kapan aku bekerja di kantor ini?” aku berkata dalam hatiku tak habis pikir. Aku lihat sekelilingku. Ada beberapa meja yang tertata rapi dengan nuansa ceria seperti sekolah Taman Kanak-kanak. Dering telpon masih terus berbunyi seakan-akan menyuruhku mengangkat telepon itu. Maka aku mengangkat telpon itu meski tidak tahu mengapa aku berada di sini. “Halo …, ” kataku menggantung. Suara di seberang menjawab, “ Bisa saya bicara dengan Mbak Irena?” Aku menjawab, “Ya, saya sendiri Bu. Ini dengan siapa ya?” Suara itu menjelaskan, “Ini Ibunya Michael. Saya ingin memberi tahu, hari ini Michael tidak bisa datang ke Klinik, karena sakit kepalanya kambuh lagi. Maaf ya, Mbak, sudah beberapa kali Michael tidak bisa ikut terapi dengan Mbak di Klinik.” Aku menjawab seadanya, “Iya, Bu tidak apa-apa.” Ibunya Michael mengucapkan salam terburu-buru, “Terima kasih, Mbak. Selamat siang.” “Selamat siang, Bu,” aku menjawab salamnya dengan pikiran masih bertanya-tanya.
Belum habis rasa bingungku, tiba-tiba terdengar suara anak-anak. Suara yang menurutku menyenangkan untuk didengar, sehingga menimbulkan senyuman sekilas di wajahku. “Tante, aku pingin duduk di kursi merah ya.” “Kalau aku pingin di kursi sebelah Tante! Boleh, ‘kan?” demikian celoteh beberapa anak. Kemudian aku mendengar suara perempuan dewasa menimpali dengan suara lembut namun tegas, “Iya, kalian bebas memilih dimana kalian mau duduk. Sekarang jangan keluar ruangan ini dulu ya, Tante mau memanggil Mbak Irena dulu untuk membantu Tante hari ini, oke?” “Okeee…!” terdengar suara anak-anak itu menjawab bersamaan. Lalu muncullah perempuan itu, yang tadi hanya kudengar suaranya.
Ya ampun! Itu ‘kan Anna, teman kuliahku dulu. Kenapa kami ada di ruangan yang sama? Kami sudah lama tidak bertemu sejak kami lulus bersama-sama dari bangku kuliah. Memang menangani anak-anak adalah spesialisasi yang kami ambil sebagai psikolog, ilmu yang kami pelajari ketika kuliah dulu. Anna dan aku adalah sahabat karib. Ketika Anna memanggilku dengan seruan bersemangat, aku pun langsung menyambutnya dengan senyuman ceria. Rasa bingung yang tadi memenuhi pikiranku hilang seketika itu juga. Semangat lain juga muncul karena aku akan bertemu anak-anak, yang selalu membawa energi positif tersendiri bagiku. Kegiatan selanjutnya aku jalani tanpa tanda tanya lagi, seakan-akan aku sudah lama menjalani profesi impianku sebagai seorang psikolog anak profesional. Ah, betapa aku merasa puas akan diriku hari ini.
Belum habis rasa puas itu, tiba-tiba aku mendengar suara musik dari sebuah Band. Di panggung telah terlihat teman-teman lamaku yang pernah sama-sama tergabung dalam satu Band ketika kami SMA dulu. Mereka adalah Elmo sebagai drummer memegang stick pemukul drum dengan mantap, Deni sebagai gitaris bersiap memetik gitarnya, dan Melani yang sudah siap menekan tuts-tuts organnya dengan indah. Tapi …, tunggu dulu, kok posisi penyanyi dalam band itu masih kosong ya? Sayup-sayup aku mendengar para penonton mengelu-elukan nama penyanyi yang kelihatannya belum muncul di tengah panggung.
Wah! Ternyata mereka semua menyerukan namaku! Belum habis terpana mendengar betapa banyak orang yang menginginkan kehadiranku di panggung, aku bertambah kaget melihat betapa indah dandananku malam ini. Tak pernah aku merasa sehebat ini. Tak terasa aku sudah berada di tengah-tengah panggung memegang microphone dengan erat. Band pengiring pun mulai memainkan intro lagu yang terasa akrab bagiku. Aneh, aku tidak tahu lagu ini sebelumnya, tapi aku bisa menyanyikannya seakan merupakan bagian dari jiwaku. Seiring lagu mengalun, aku bernyanyi tanpa kesulitan, seakan menyuarakan apa yang selama ini terpendam. Seolah inilah sesuatu yang selama ini aku inginkan tanpa sadar. Entah kapan aku pernah merasa melayang seperti ini. Mungkin begini rasanya ekstase yang dialami para penyandu narkotik ketika memasukkan barang-barang maut ke dalam darah nadi mereka.
Lagu pun selesai kulantunkan dengan sukses. Para penggemarku bersorak tak henti sambil berteriak memanggil namaku. Belum sampai aku di ujung panggung yang megah itu, aku merasa terjatuh ke dalam lorong sepi. Ketika aku sadar, ternyata aku dikelilingi rak-rak buku yang tak terhitung banyaknya. Aku sedang berdiri di depan sebuah rak yang berisi buku-buku mengenai spiritualitas, pencerahan jiwa yang dicari semua manusia secara sadar atau bawah sadar. Aku memegang sebuah buku karangan Karen Armstrong yang terbaru. Dia salah satu penulis yang kukagumi karya-karyanya. Belum habis aku merasa heran dengan kontrasnya suasana hiruk pikuk panggung dengan senyapnya ruangan penuh rak buku ini, aku dikejutkan oleh sebuah suara yang berbisik di belakangku, “Hey, jangan melamun ‘Na. Itu buku Armstrong yang terbaru ya? Wah, kamu beruntung bisa membacanya untuk pertama kali. Ya sudah, jangan kelamaan melamun, cepat taruh buku itu di tempatnya. Kita masih harus mengatur kembali buku-buku di bagian Fiksi.” Aku langsung menoleh ke arah suara itu, dan aku melihat Dilla, salah satu teman akrabku sejak kecil. Sedari dulu kami memang penggila buku. Kami bahkan bercita-cita membuka perpustakaan umum bersama. Cita-cita yang belum terwujud sampai sekarang. Namun impian itu tetap menjadi pengikat spesial bagi persahabatan kami.
Tanpa menunggu jawabanku, Dilla langsung membalikkan badannya dan melangkah pasti ke bagian Fiksi. Aku pun menaruh buku tadi di tempatnya dan mengikuti Dilla dari belakang. Aku memandang berkeliling dengan bersemangat ke semua buku yang seakan mengawal langkah kami. Semua buku itu menghapus rasa ekstase yang menggebu-gebu, yang tadi aku rasakan ketika menyanyi di atas panggung. Rasa puas hati ketika menghadapi anak-anak sebagai seorang psikolog pun terbang entah kemana. Buku memang selalu menumbuhkan rasa damai khusus dalam hatiku. Seakan mengobati segala kegundahan yang pernah kualami. Aku merasa bukulah ensiklopedi yang dikirimkan Tuhan melalui para penulisnya, sehingga membantu para pembacanya tercerahkan.
Aku pun memperhatikan dengan asyik judul-judul buku yang aku lalui. ‘Selasa bersama Morrie’, buku yang sangat menginspirasikanku tentang kematian dan tentunya juga tentang kehidupan, demikian pikirku. Lalu aku sampai di bagian fiksi, yang tak kalah menariknya. Ada berbagai judul teenlit, chicklit sampai beberapa novel karya Marga T. dan Sidney Sheldon. Wah! Aku bangga bisa mempunyai perpustakaan selengkap ini. Akhirnya aku tahu, perpustakaan ini adalah perpustakaan yang aku dan Dilla miliki. Aku mengetahuinya dari selembar pengumuman yang tertempel di salah satu dinding yang aku lalui tadi. Di situ pun dicantumkan bahwa tidak ada biaya yang ditarik bagi para pelajar dan mahasiswa. Memang itulah salah satu misi kami untuk mendirikan perpustakaan, memberikan akses tanpa batasan biaya bagi para generasi muda sehingga mereka memiliki wawasan yang luas. Ah, betapa membahagiakan jika setiap impian bisa terwujud seperti ini. Pasti surga akan kehilangan pamornya, jika dunia seakan mampu menjadi taman firdaus bagi para manusia pemimpi untuk merealisasikan impiannya.
Ketika aku sedang tersenyum-senyum sendiri… tiba-tiba, aku mendengar suara anak kecil yang menggemaskan memanggil-manggil, “Mama, Mama …” Perlahan, kubuka mataku yang hanya bisa melihat sebersit cahaya dengan warna-warni yang tak jelas sosoknya. Setelah mampu menyatukan kesadaranku, aku berhasil menemukan sumber suara menggemaskan itu. Ya ampun! Ternyata itu suara Kiyan, anak laki-lakiku. Ternyata semua pengalaman tadi cuma mimpi. Pasti tidurku nyenyak tadi, sampai merasa mimpi tadi begitu nyata.
Ketika aku menoleh, Kiyan sedang berdiri memegang pinggiran tempat tidurnya yang berpagar. Ia menatapku lugu dengan mata sayu karena masih menyimpan kantuk. Rupanya ia terbangun karena celananya basah. Ia pun seperti biasa menunjuk-nunjuk celananya, sambil berceloteh lucu dengan nada merengek, “Ma, pis… Ma, pis… ,” yang artinya, “Mama, aku pipis.”
Setengah sadar dari mimpiku, aku bangkit dari tempat tidurku yang bersebelahan dengan tempat tidur Kiyan. Aku tersenyum kepada Kiyan sambil berkata lembut, “Ya, sayang. Pipis, ya? Sini, Mama bersihkan.” Aku langsung melepaskan celana basahnya dan mengangkatnya untuk dibersihkan, kemudian memakaikannya celana yang baru. Setelah tenang kembali, aku angkat dia ke dalam dekapanku. Benar saja dugaanku, tak berapa lama kutimang-timang, ia kembali terlelap dengan mudahnya. Terlihat wajahnya yang damai kembali beristirahat. Perlahan kuletakkan dia di dalam tempat tidur berpagarnya.
Aku pun kembali merebahkan badanku di atas tempat tidurku. Saat itu aku teringat lagi akan apa yang aku alami di mimpi tadi. Aku pun tersenyum-senyum sendiri. Mengingat betapa bahagianya aku tadi, bisa mencicipi semua profesi impianku. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali dan menoleh memperhatikan Kiyan yang tertidur dengan nyaman.
Semua profesi dalam mimpi tadi memang amat indah. Namun kenyataan yang aku miliki tidak kalah menariknya. Aku adalah seorang ibu rumah tangga. Aku telah memiliki seorang putra, Kiyan, yang sekarang telah berusia 18 bulan. Putra yang amat kukasihi dan selalu membuatku bangga karena berkembang dengan sehat dan cerdas. Aku pun istri yang berbahagia karena memiliki suami, Mas Argya, yang selalu menyayangi aku dan Kiyan dengan setulus hati. Kami hidup sederhana dan berpandangan positif terhadap hidup. Mas Argya amat mendukung keinginanku untuk tetap mengasuh Kiyan sendiri, tanpa bantuan orang lain. Ia juga membantuku untuk tetap dapat mengaktualisasikan diriku dengan memberikan ruangan kecil di sebelah kamar kami. Ruangan itulah tempatku membaca buku, mengetik puisi-puisi sederhana, melukis Kiyan yang sedang bermain di ruang tengah, atau sekedar duduk santai memandang jalanan yang ramai. Dengan semua kegiatan itu, aku tak pernah merasa bosan di rumah.
Inilah surgaku di dunia fana ini. Aku telah meraih harta yang tak tergantikan, yaitu mewujudkan impian terbesarku untuk memiliki keluarga. Impian-impian lain untuk menjadi seorang psikolog anak profesional, seorang penyanyi, dan seorang pustakawati, pupus dengan sendirinya seiring langkahku mengasuh Kiyan. Tak kurang bahagia diriku dalam menjalaninya. Ada kepuasan yang tak ternilai dan tak akan tergantikan ketika mengasuh Kiyan. Aku percaya, jika kita bisa menikmati mimpi ketika tidur dan mewujudkan impian utama kita dalam kehidupan nyata, maka kita akan menjadi manusia sempurna. Bagaimana menurut Anda?