Adegan 1 :
Teresa sedang mewarnai tugas dari sekolah. Yaitu gambar binatang kuda nil.
T : Aku mau warna warni
M : (berusaha mengarahkan) hm... boleh, tapi Teresa tau ga warna sebenernya apa kuda nil itu?
T : ....
M : Kuda Nil itu warnanya abu-abu atau coklat. Supaya bisa menyamar, ngumpet di balik pohon atau batu-batu. Itu lho... kamuflase. Teresa pernah denger kan?
T : Iya. Tapi kan tetep keliatan matanya?
M : Oiya ya... (ternyata kalah sama logikanya anak kecil, hehehe...)
Adegan 2 :
Mama lagi sibuk membungkus kado untuk baksos Natal di sekolahnya Teresa. Ketika sudah terbungkus satu :
T : Kok cuma satu? Kata Bu Guru disuruh bawa dua.
M : Oooo... maksudnya Bu Guru, satu kotak yang gede kalo ada, nah yang satu lagi, dibungkus kecil untuk kamu bawa.
T : Ga.... Bu Guru suruh bawa dua... Teresa mau bawa dua... *berkaca-kaca..
M : Ya udah Mama sms Bu Guru dulu, tanya dulu ya...
Sesaat setelah SMS balasan dari Bu Guru datang...
M : Iya kata Bu Guru, boleh satu boleh dua. Apa Teresa mau kasih satu lagi? Sikat gigi aja ya? Kata Bu Guru boleh bawa sikat gigi utk besok.
T : Iya mau! (semangat)
M : (ambil sikat gigi orang dewasa, stok di lemari)
T : Jangan yang untuk orang gede. Kan untuk temen-temen di panti asuhan. Sikat gigi anak kecil dong ngasihnya...
M : (waduh ribet niiih) Tapi disana kan ada kakak-kakak yang udah gede, pake sikat gigi orang gede.
T : Ga mau.... mau kasih yang untuk anak-anak... (berkaca-kaca lagi... *sejak kapan ni anak jadi gampang merajuk gini ya...-batin Mama)
M : Oke oke... berarti kita kasih satu sikat gigi anak-anak. Tapi mendingan ada odolnya. Boleh ya kasih odol kamu itu?
T : Ga boleh....
M : Nti kita beli lagi, di supermarket banyak...
T : Jangan... *berkaca-kaca lagi...
M : Oke... jadi kasih apa dong, masak satu bungkus cuma satu sikat gigi... O.. gini aja, kita kasih satu sikat gigi orang gede, satu sikat gigi anak-anak ya...
T : Iya iya! *jingkrak2
M : (membungkus kado...) --> sambil batin... duh ilaaaahhh kok ya ribet sih masalah kado aje... hihihihi, tapi seneng juga T ada kepedulian ke sesama dan memperhatikan apa yg dikatakan Bu Guru ;)
Tampilkan postingan dengan label My Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Stories. Tampilkan semua postingan
Kamis, 06 Januari 2011
Sabtu, 11 Desember 2010
Kebijakan dalam Angkot
Kalau dihitung-hitung sudah hampir 20 tahun-an saya jadi penumpang angkot (angkutan kota/angkutan umum) yang setia. Jadi sudah kenyang dengan segala macam polah tingkah, perasaan was-was serta antisipasi yang dirasakan ketika menaiki angkot. Angkot yang saya naiki pun beragam jenisnya, dari yang angkot kecil, seperti mobil kijang sampai bis-bis besar ber-AC. Maka layaklah kalo angkot menjadi tema tulisan saya sekarang ini, mengingat angkot memainkan peranan yang penting dlm perjalanan hidup saya. (yah meski terdengar berlebihan, tp ada benernya juga loh.)
Kalau mau membahas bahayanya naik angkot, sepertinya banyak kalangan sudah tahu. Maka kali ini saya mau sedikit berbagi cerita tentang nilai positif yang bisa ditarik dari para penumpang angkot (di Jakarta khususnya).
***
Sore itu saya bergegas pulang dari kampus, tempat mengajar saya, menuju ke rumah. Agak kaget juga melihat rentetan kendaraan bermotor telah menjalar seperti ular nan panjang di jalan raya. Saya mengecek jam, ternyata baru jam 3 sore. Ternyata memang kemacetan tidak bisa juga saya hindari di daerah ini, saya membatin. Maka, setelah membungkus jajanan dari pinggir jalan, saya pun naik angkot merah menuju daerah rumah saya. Angkot ini pun penuh. Beruntung saya masih kebagian duduk, meski dekat pintu dan kaki saya harus terus menahan keseimbangan, terutama ketika si angkot direm. Pegal juga rasanya. Rata-rata penumpang di kanan-kiri saya berusaha mengusir penat dan rasa kesal akan macet dengan menutup mata mereka. Entah apakah benar-benar tidur atau sekedar mengalihkan perhatian. Menyesal juga, saya tidak membawa earphone telpon seluler saya. Jadinya saya tidak bisa mendengarkan musik dari radio untuk menemani kemacetan yang memakan energi.
Ketika macet akhirnya tidak lagi terlalu panjang, saya pun mendapatkan tempat duduk yang lebih enak. Tentu karena ada beberapa penumpang turun, sehingga memberikan sedikit ruang utk kaki saya beristirahat karena tak perlu lagi menjaga keseimbangan. Setelah merasa sedikit nyaman, perhatian saya teralih dengan beberapa penumpang yang masuk.
Seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan masuk, dengan masing-masing tampak sibuk menjaga barang bawaannya. Saya rasa mereka tak lebih tua dari anak yang duduk di kelas 3 SD. Karena keterbatasan tempat duduk, si kakak (anak laki-laki yang tampak lebih tua) memangku si adik (anak perempuan). Ternyata mereka tidak hanya berdua. Sesudah mereka naiklah si bungsu, anak laki-laki yang kira-kira maksimal berusia 3 tahun. Si bungsu yang tampak belum bisa menjaga dirinya, dengan cueknya berdiri dekat kaki kakak-kakaknya sambil menggenggam sepotong roti. Lalu masuklah Ibu mereka yang paling repot, membawa satu gembol tas yang tampak sangat penuh dan ditambah sekantong plastik berisi 3 kotak kue yang berukuran sedang. Di tangan si Ibu tampak juga memegang sebuah telpon seluler yang berbunyi. Tempat duduk yang tersisa hanyalah tempat duduk bekas posisiku tadi, yaitu hanya sebelah pantat (maaf) saja yang bisa tertampung sedangkan kaki penumpang harus menahan keseimbangan agar tak terjatuh ketika angkot mendadak mengerem. Kesulitan pada si Ibu ditambah dengan beban seorang anak yang dipangkunya, sebuah tas yang terselempang di bahunya dan sebuah tas berisi kotak-kotak kue. Jangan lupa pula bahwa ia harus mengawasi kedua anak tertuanya.
Tebakan saya, si Ibu pastilah penumpang kawakan angkot juga, seperti saya. Karena ia tampak dengan yakin (atau mungkin memang terpaksa krn faktor keekonomisan biaya) untuk membawa 3 orang anak dan perlengkapan "perangnya" dengan menaiki angkot. Memang ketenangan seorang Ibu dengan begitu banyak beban bisa dipahami oleh seorang yang bisa menggunakan angkot. Karena, di dalam angkot, meski tidak saling kenal, terasa ada solidaritas yang mengikat dan mengalir dengan spontan. Ketika si bungsu masuk, seorang ibu (dan tangan saya sendiri) langsung spontan memegangi tangan si bungsu agar si bungsu tidak terjatuh akibat goyangan kendaraan. Ketika Ibu memasukkan kantong plastik berisi kotak-kotak kue, tangan-tangan penumpang angkot langsung dengan sigap menarik plastik itu masuk dan menahannya agar tidak roboh. Bahkan penumpang yang di dekat pintu membantu si Ibu menarik tas yang tampak terabaikan. Intinya, semua berusaha membantu meringankan beban si Ibu yang tampak sangat repot itu. Disini tampak empati antar penumpang (yang kebetulan rata-rata perempuan) terhadap beban yang dirasakan si Ibu tadi.
Inilah kebijakan yang saya selalu temui ketika menaiki angkot. Ketika ada seorang penumpang (yang biasanya ibu-ibu) membawa anaknya serta ketika menaiki angkot, apalagi ketika si penumpang ini membawa lebih dari 1 orang anak, maka otomatis semua penumpang sebisa mungkin berusaha menjagai si anak. Dari memegangi tangan si anak ketika si Ibu berusaha naik atau ketika si Ibu turun dari angkot. Jika kita terbiasa menaiki angkot, kita akan paham bahwa bantuan ini akan sangat berarti bagi keselamatan seorang anak, yang sering belum mampu mengawasi keselamatan dirinya sendiri.
***
Ada lagi cerita lain tentang kebijakan yang saya temui di angkot. Waktu itu, dengan trayek yang sama, saya tengah menaiki angkot ke tempat saya mengajar. Angkot itu tidak begitu penuh, tapi cukup padat lah. Naiklah seorang Ibu yang telah berusia lanjut, yang layak dipanggil Nenek. Si Nenek duduk di sebelah seorang Ibu yang tampak sedikit junior dari si Nenek. Entah ada angin apa, si Ibu junior ini bertanya ini itu kepada si Nenek, mengenai kemana tujuan si Nenek, dari mana Nenek itu, sampai... pada informasi terpenting dan membuat hati beberapa penumpang terketuk. Si Nenek bercerita bahwa tadi ia baru saja pulang dari rumah menantunya, orangtua dari seorang cucu yang diasuhnya di rumah. Ia sekedar bertandang untuk meminta uang biaya pembelian seragam cucunya, yang memang sehari-hari menjadi tanggung jawab si Nenek. Cucunya sudah lama tinggal dengan si Nenek, yang hanya petani sayur itu. Cucunya diambil Nenek untuk tinggal bersamanya karena Nenek melihat sang menantu tidak layak berperan menjadi orangtua yang baik, karena melakukan kebiasaan 'kumpul kebo'. Maka meski sulit, Nenek rela merawat si cucu. Trenyuhlah saya mendengar cerita itu. Meski cerita itu tadinya diceritakan kepada si Ibu junior tadi, namun sampai juga pada telinga saya karena posisi duduk kami yang berdekatan. Tak disangka oleh si Nenek (oleh saya juga), cerita itu tampak mengetuk hati Ibu junior (dan saya juga pada akhirnya) untuk memberikan uang ala kadarnya mengingat kesulitan biaya yang diceritakan si Nenek. Ah, betapa peristiwa itu selalu menggayuti hati nurani saya. Bahwa di tengah keegoisan metropolitas yang ganas, ketulusan dan kasih sayang selalu mempunyai cara tersendiri untuk menolong mereka yang papa. Yah, meski besaran rupiah yang saya dan Ibu junior tadi sampaikan ke Nenek tidak seberapa.
Cerita-cerita kecil ini selalu mengingatkan saya, bahwa kebaikan bisa ditemukan dimana saja, termasuk di dalam angkot. Memang tidak mengabaikan bahaya-bahaya yang harus diwaspadai ketika kita menggunakan fasilitas angkot ini, namun ternyata di tempat yang tidak ramah pun bisa ditemui senyum dan gapaian bantuan yang tulus.
Jadi, lain kali kalau anda naik angkot, siapkan tangan anda untuk membantu penumpang lain yang memang membutuhkan bantuan kecil dari anda. :)
Kalau mau membahas bahayanya naik angkot, sepertinya banyak kalangan sudah tahu. Maka kali ini saya mau sedikit berbagi cerita tentang nilai positif yang bisa ditarik dari para penumpang angkot (di Jakarta khususnya).
***
Sore itu saya bergegas pulang dari kampus, tempat mengajar saya, menuju ke rumah. Agak kaget juga melihat rentetan kendaraan bermotor telah menjalar seperti ular nan panjang di jalan raya. Saya mengecek jam, ternyata baru jam 3 sore. Ternyata memang kemacetan tidak bisa juga saya hindari di daerah ini, saya membatin. Maka, setelah membungkus jajanan dari pinggir jalan, saya pun naik angkot merah menuju daerah rumah saya. Angkot ini pun penuh. Beruntung saya masih kebagian duduk, meski dekat pintu dan kaki saya harus terus menahan keseimbangan, terutama ketika si angkot direm. Pegal juga rasanya. Rata-rata penumpang di kanan-kiri saya berusaha mengusir penat dan rasa kesal akan macet dengan menutup mata mereka. Entah apakah benar-benar tidur atau sekedar mengalihkan perhatian. Menyesal juga, saya tidak membawa earphone telpon seluler saya. Jadinya saya tidak bisa mendengarkan musik dari radio untuk menemani kemacetan yang memakan energi.
Ketika macet akhirnya tidak lagi terlalu panjang, saya pun mendapatkan tempat duduk yang lebih enak. Tentu karena ada beberapa penumpang turun, sehingga memberikan sedikit ruang utk kaki saya beristirahat karena tak perlu lagi menjaga keseimbangan. Setelah merasa sedikit nyaman, perhatian saya teralih dengan beberapa penumpang yang masuk.
Seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan masuk, dengan masing-masing tampak sibuk menjaga barang bawaannya. Saya rasa mereka tak lebih tua dari anak yang duduk di kelas 3 SD. Karena keterbatasan tempat duduk, si kakak (anak laki-laki yang tampak lebih tua) memangku si adik (anak perempuan). Ternyata mereka tidak hanya berdua. Sesudah mereka naiklah si bungsu, anak laki-laki yang kira-kira maksimal berusia 3 tahun. Si bungsu yang tampak belum bisa menjaga dirinya, dengan cueknya berdiri dekat kaki kakak-kakaknya sambil menggenggam sepotong roti. Lalu masuklah Ibu mereka yang paling repot, membawa satu gembol tas yang tampak sangat penuh dan ditambah sekantong plastik berisi 3 kotak kue yang berukuran sedang. Di tangan si Ibu tampak juga memegang sebuah telpon seluler yang berbunyi. Tempat duduk yang tersisa hanyalah tempat duduk bekas posisiku tadi, yaitu hanya sebelah pantat (maaf) saja yang bisa tertampung sedangkan kaki penumpang harus menahan keseimbangan agar tak terjatuh ketika angkot mendadak mengerem. Kesulitan pada si Ibu ditambah dengan beban seorang anak yang dipangkunya, sebuah tas yang terselempang di bahunya dan sebuah tas berisi kotak-kotak kue. Jangan lupa pula bahwa ia harus mengawasi kedua anak tertuanya.
Tebakan saya, si Ibu pastilah penumpang kawakan angkot juga, seperti saya. Karena ia tampak dengan yakin (atau mungkin memang terpaksa krn faktor keekonomisan biaya) untuk membawa 3 orang anak dan perlengkapan "perangnya" dengan menaiki angkot. Memang ketenangan seorang Ibu dengan begitu banyak beban bisa dipahami oleh seorang yang bisa menggunakan angkot. Karena, di dalam angkot, meski tidak saling kenal, terasa ada solidaritas yang mengikat dan mengalir dengan spontan. Ketika si bungsu masuk, seorang ibu (dan tangan saya sendiri) langsung spontan memegangi tangan si bungsu agar si bungsu tidak terjatuh akibat goyangan kendaraan. Ketika Ibu memasukkan kantong plastik berisi kotak-kotak kue, tangan-tangan penumpang angkot langsung dengan sigap menarik plastik itu masuk dan menahannya agar tidak roboh. Bahkan penumpang yang di dekat pintu membantu si Ibu menarik tas yang tampak terabaikan. Intinya, semua berusaha membantu meringankan beban si Ibu yang tampak sangat repot itu. Disini tampak empati antar penumpang (yang kebetulan rata-rata perempuan) terhadap beban yang dirasakan si Ibu tadi.
Inilah kebijakan yang saya selalu temui ketika menaiki angkot. Ketika ada seorang penumpang (yang biasanya ibu-ibu) membawa anaknya serta ketika menaiki angkot, apalagi ketika si penumpang ini membawa lebih dari 1 orang anak, maka otomatis semua penumpang sebisa mungkin berusaha menjagai si anak. Dari memegangi tangan si anak ketika si Ibu berusaha naik atau ketika si Ibu turun dari angkot. Jika kita terbiasa menaiki angkot, kita akan paham bahwa bantuan ini akan sangat berarti bagi keselamatan seorang anak, yang sering belum mampu mengawasi keselamatan dirinya sendiri.
***
Ada lagi cerita lain tentang kebijakan yang saya temui di angkot. Waktu itu, dengan trayek yang sama, saya tengah menaiki angkot ke tempat saya mengajar. Angkot itu tidak begitu penuh, tapi cukup padat lah. Naiklah seorang Ibu yang telah berusia lanjut, yang layak dipanggil Nenek. Si Nenek duduk di sebelah seorang Ibu yang tampak sedikit junior dari si Nenek. Entah ada angin apa, si Ibu junior ini bertanya ini itu kepada si Nenek, mengenai kemana tujuan si Nenek, dari mana Nenek itu, sampai... pada informasi terpenting dan membuat hati beberapa penumpang terketuk. Si Nenek bercerita bahwa tadi ia baru saja pulang dari rumah menantunya, orangtua dari seorang cucu yang diasuhnya di rumah. Ia sekedar bertandang untuk meminta uang biaya pembelian seragam cucunya, yang memang sehari-hari menjadi tanggung jawab si Nenek. Cucunya sudah lama tinggal dengan si Nenek, yang hanya petani sayur itu. Cucunya diambil Nenek untuk tinggal bersamanya karena Nenek melihat sang menantu tidak layak berperan menjadi orangtua yang baik, karena melakukan kebiasaan 'kumpul kebo'. Maka meski sulit, Nenek rela merawat si cucu. Trenyuhlah saya mendengar cerita itu. Meski cerita itu tadinya diceritakan kepada si Ibu junior tadi, namun sampai juga pada telinga saya karena posisi duduk kami yang berdekatan. Tak disangka oleh si Nenek (oleh saya juga), cerita itu tampak mengetuk hati Ibu junior (dan saya juga pada akhirnya) untuk memberikan uang ala kadarnya mengingat kesulitan biaya yang diceritakan si Nenek. Ah, betapa peristiwa itu selalu menggayuti hati nurani saya. Bahwa di tengah keegoisan metropolitas yang ganas, ketulusan dan kasih sayang selalu mempunyai cara tersendiri untuk menolong mereka yang papa. Yah, meski besaran rupiah yang saya dan Ibu junior tadi sampaikan ke Nenek tidak seberapa.
Cerita-cerita kecil ini selalu mengingatkan saya, bahwa kebaikan bisa ditemukan dimana saja, termasuk di dalam angkot. Memang tidak mengabaikan bahaya-bahaya yang harus diwaspadai ketika kita menggunakan fasilitas angkot ini, namun ternyata di tempat yang tidak ramah pun bisa ditemui senyum dan gapaian bantuan yang tulus.
Jadi, lain kali kalau anda naik angkot, siapkan tangan anda untuk membantu penumpang lain yang memang membutuhkan bantuan kecil dari anda. :)
Minggu, 14 November 2010
Ujian yang Sebenarnya
Waktu itu saya sedang menikmati detik terakhir waktu istirahat dalam sebuah workshop. Waktu itu saya sedang berada di sebuah ruang penuh buku sehingga tak ada kebocoran suara yang mungkin menceritakan kekagetan saya terhadap surat tersebut. Meski akhirnya teman saya mengetahuinya karena saya bercerita demi mendapatkan penguatan moril. Memangnya isi surat itu apa? Surat itu mencantumkan nama saya dan teman saya, yang bertindak sebagai supervisor pada sebuah kasus KDRT dan mengundang kami datang ke sebuah kantor kepolisian untuk membuat BAP sebagai saksi ahli.
Pertanyaan selanjutnya, mengapa undangan ini membuat saya terkejut? Karena, terus terang yg sejelas-jelasnya, saya 'parno' kalau harus berurusan sama pihak berseragam atau birokrasi atau sejenisnya. Maka dipanggil ke kantor polisi untuk urusan apapun membawa kecemasan tersendiri buat saya. Ketika teman saya, supervisor saya, melambaikan surat itu dan menyungging senyuman menggoda (karena saya rasa dia tahu ke-parno-an saya ini), jantung saya rasanya seperti baru saja naik roller coaster (meski udah lama juga ya ga naik roller coaster). Deg-deg-an rasanya. Seperti tidak menginjak bumi. Lebay? Mungkin juga. Ga nyangka respon saya bisa sangat lebay seperti itu. Ketika melihat respon saya, teman saya itu mulai menenangkan bahwa saya ke sana tidak sendirian tapi bersamanya. Jadi setidaknya saya merasa terhibur.
Sebelum hari H tiba, saya pun bersiap sesiap-siapnya untuk menghadapi yang berwajib. Mulai dari surat tanda praktek dan keanggotaan himpunan profesi (yang sempat membuat kalang kabut karena kedua kartu tersebut terselip diantara tumpukan buku berdebu), sampai print out surat keterangan ahli yang kami buat atas kasus terkait. Layaknya menghadapi ujian, saya membaca surat tersebut sambil menggarisbawahi hal-hal penting dalam kasus ini dengan menggunakan spidol merah. Jangan sampai saya salah ucap, batin saya.
Pada hari H, beruntunglah saya, Teresa yang sepertinya mau mulai rewel karena akan saya tinggal setengah harian bersama Mbak-nya, ternyata tidak jadi merajuk. Untuk meninggalkan Teresa hari itu memang membutuhkan pengaturan ekstra, karena saya tidak terbiasa meninggalkan Teresa di waktu pagi sampai siang hari. Biasanya saya meninggalkannya dari siang hari sampai menjelang sore. Untuk beberapa orang tua, mungkin memahami apa perbedaan yang saya maksudkan dalam hal ini.
Nah, kembali lagi ke topik. Pada hari H, saya berjanji ketemu dengan teman saya di sebuah minimarket untuk kemudian naik bis bersama ke kantor polisi yang dimaksud. Sampai di minimarket itu, saya berkeliling, bermaksud menghilangkan ketegangan dan menghabiskan waktu sampai teman saya datang, namun kok malah jadi semakin ga enak. Entah ya, karena saya yang memang sedang tidak fit pada waktu itu atau karena akibat kecemasan saya kepada para petugas berseragam itu... Singkatnya, sampailah saya dan teman saya ke kantor polisi. Disana, kompleks yang sebenarnya bersebrangan dengan mantan kampus saya itu, kami harus berjalan jauh masuk ke dalam. Untuk orang yang sedang HHC (harap harap cemas) seperti saya, perjalanan yang jauh ini cukup membawa kesan tersendiri, karena semakin memberikan kesempatan untuk saya menghayati kecemasan saya. Ketika sampai, kami diminta menunggu... dan menunggu dan menunggu... sampai kurang lebih satu jam. Sampai saya harus mengganti saluran televisi yang ada di ruang tunggu karena tidak tahan mendengar lagu-lagu yang 'aneh' untuk kuping saya. Akhirnya kami pun dipersilahkan masuk ke ruang pembuatan BAP. Ternyata, ruangan itu tidak membuktikan ke-parno-an saya dan bayangan saya akan kantor serta petugas berseragam selama ini.
Ruangan itu ruangan ber-AC dengan nuansa terang, perabotan kantor sederhana namun rapi dan bersih. Ruangan tersebut berisi empat meja lengkap dengan komputer serta petugas polwan yang masing-masing tampak sibuk mengetik. Oooo... seperti ini ya kerjanya mereka, batin saya. Dan satu hal penting adalah, mereka tidak memakai seragam polisi. Mereka menggunakan seragam formil ala pegawai kantoran dalam nuansa putih dan hitam. Petugas yang menangani kami tampak ramah dan mengatakan bahwa karena hanya memerlukan keterangan hanya dari satu pemeriksa utama, maka saya hanya berkedudukan sebagai pemeriksa pembantu alias informasi pelengkap saja. Maka sayapun mendengarkan dan mengikuti proses BAP sambil sesekali menambahkan informasi yang diperlukan.
Sementara kami melakukan BAP, masuklah seorang perempuan yang modis dan dipersilahkan duduk di kursi paling ujung, bersebrangan dengan posisi kami. Ternyata ia bermaksud membuat BAP sebagai pelapor atas kondisi rumah tangganya. Karena tak ada sekat antar meja petugas, maka dengan jelas kami bisa mendengar curhatan si perempuan itu. Jadi terbayang juga betapa sulitnya jika seorang korban pelecehan seksual mesti menceritakan detil kejadian peristiwa yang dialaminya dalam kondisi 'terbuka' seperti itu. Pantas saja .... (silahkan lengkapi sendiri)
Pendekatan petugas tampak sangat informal dan berjauhan dari image saya terhadap seorang petugas polisi. Teman saya menjelaskan, bahwa sekarang ini memang kepolisian telah mengubah pelayanannya, terutama di unit perempuan dan anak, yang kami datangi ini. Sebenarnya penjelasan ini telah saya dengar jauh-jauh hari sebelum mendapatkan surat panggilan BAP ini. Namun tampaknya kecemasan saya mengalahkan informasi yang valid ini. Terbukti betapa seseorang yang cemas bisa sangat tidak rasional *huhuhuhu...* Mereka memang tampak lebih ramah klien atau pelapor. Cukup salut untuk hal ini. Meski katanya juga, ada beberapa kantor kepolisian yang lebih kecil sektornya, masih kurang mempraktekkan niatan baik ini. Dalam arti, kadang pelayanan yang dilakukan masih jauh dari keramahan yang kami alami di sini.
So, saya rasa untuk ujian hari ini saya mendapat nilai yang cukup. Bahkan mungkin baik (boleh lah sedikit subjektif). Ternyata ujian yang nyata bukan sekedar menghadapi klien dan memfasilitasi klien agar berfungsi lebih baik secara psikologis. Tapi juga ujian ketika diminta menjelaskan keadaan psikologis klien kepada profesi lainnya. Ternyata ujian nyata semacam ini memang semakin membuat saya matang dalam menjalankan profesi saya. Ujian berikutnya? Katanya sih kalo dipanggil ke pengadilan sebagai saksi ahli, yang pasti akan lebih mendebarkan lagi mengingat tuntutan psikologis yang akan dihadapi... Bener ga ya? Ah.... rasanya saya tidak mau memikirkan dulu sampai situ deh... :)
Ternyata memang baik berwaspada-ria sebelum menghadapi sesuatu. Dan memang baik jika kita berani menghadapi ke-parno-an kita, karena ternyata tidak semua hal yang dicemaskan memiliki kenyataan yang menakutkan.
Apalagi sesudah itu ditambah bonus lunch dan jalan-jalan ke sebuah mal di seberang kantor kepolisian itu... :D
Pertanyaan selanjutnya, mengapa undangan ini membuat saya terkejut? Karena, terus terang yg sejelas-jelasnya, saya 'parno' kalau harus berurusan sama pihak berseragam atau birokrasi atau sejenisnya. Maka dipanggil ke kantor polisi untuk urusan apapun membawa kecemasan tersendiri buat saya. Ketika teman saya, supervisor saya, melambaikan surat itu dan menyungging senyuman menggoda (karena saya rasa dia tahu ke-parno-an saya ini), jantung saya rasanya seperti baru saja naik roller coaster (meski udah lama juga ya ga naik roller coaster). Deg-deg-an rasanya. Seperti tidak menginjak bumi. Lebay? Mungkin juga. Ga nyangka respon saya bisa sangat lebay seperti itu. Ketika melihat respon saya, teman saya itu mulai menenangkan bahwa saya ke sana tidak sendirian tapi bersamanya. Jadi setidaknya saya merasa terhibur.
Sebelum hari H tiba, saya pun bersiap sesiap-siapnya untuk menghadapi yang berwajib. Mulai dari surat tanda praktek dan keanggotaan himpunan profesi (yang sempat membuat kalang kabut karena kedua kartu tersebut terselip diantara tumpukan buku berdebu), sampai print out surat keterangan ahli yang kami buat atas kasus terkait. Layaknya menghadapi ujian, saya membaca surat tersebut sambil menggarisbawahi hal-hal penting dalam kasus ini dengan menggunakan spidol merah. Jangan sampai saya salah ucap, batin saya.
Pada hari H, beruntunglah saya, Teresa yang sepertinya mau mulai rewel karena akan saya tinggal setengah harian bersama Mbak-nya, ternyata tidak jadi merajuk. Untuk meninggalkan Teresa hari itu memang membutuhkan pengaturan ekstra, karena saya tidak terbiasa meninggalkan Teresa di waktu pagi sampai siang hari. Biasanya saya meninggalkannya dari siang hari sampai menjelang sore. Untuk beberapa orang tua, mungkin memahami apa perbedaan yang saya maksudkan dalam hal ini.
Nah, kembali lagi ke topik. Pada hari H, saya berjanji ketemu dengan teman saya di sebuah minimarket untuk kemudian naik bis bersama ke kantor polisi yang dimaksud. Sampai di minimarket itu, saya berkeliling, bermaksud menghilangkan ketegangan dan menghabiskan waktu sampai teman saya datang, namun kok malah jadi semakin ga enak. Entah ya, karena saya yang memang sedang tidak fit pada waktu itu atau karena akibat kecemasan saya kepada para petugas berseragam itu... Singkatnya, sampailah saya dan teman saya ke kantor polisi. Disana, kompleks yang sebenarnya bersebrangan dengan mantan kampus saya itu, kami harus berjalan jauh masuk ke dalam. Untuk orang yang sedang HHC (harap harap cemas) seperti saya, perjalanan yang jauh ini cukup membawa kesan tersendiri, karena semakin memberikan kesempatan untuk saya menghayati kecemasan saya. Ketika sampai, kami diminta menunggu... dan menunggu dan menunggu... sampai kurang lebih satu jam. Sampai saya harus mengganti saluran televisi yang ada di ruang tunggu karena tidak tahan mendengar lagu-lagu yang 'aneh' untuk kuping saya. Akhirnya kami pun dipersilahkan masuk ke ruang pembuatan BAP. Ternyata, ruangan itu tidak membuktikan ke-parno-an saya dan bayangan saya akan kantor serta petugas berseragam selama ini.
Ruangan itu ruangan ber-AC dengan nuansa terang, perabotan kantor sederhana namun rapi dan bersih. Ruangan tersebut berisi empat meja lengkap dengan komputer serta petugas polwan yang masing-masing tampak sibuk mengetik. Oooo... seperti ini ya kerjanya mereka, batin saya. Dan satu hal penting adalah, mereka tidak memakai seragam polisi. Mereka menggunakan seragam formil ala pegawai kantoran dalam nuansa putih dan hitam. Petugas yang menangani kami tampak ramah dan mengatakan bahwa karena hanya memerlukan keterangan hanya dari satu pemeriksa utama, maka saya hanya berkedudukan sebagai pemeriksa pembantu alias informasi pelengkap saja. Maka sayapun mendengarkan dan mengikuti proses BAP sambil sesekali menambahkan informasi yang diperlukan.
Sementara kami melakukan BAP, masuklah seorang perempuan yang modis dan dipersilahkan duduk di kursi paling ujung, bersebrangan dengan posisi kami. Ternyata ia bermaksud membuat BAP sebagai pelapor atas kondisi rumah tangganya. Karena tak ada sekat antar meja petugas, maka dengan jelas kami bisa mendengar curhatan si perempuan itu. Jadi terbayang juga betapa sulitnya jika seorang korban pelecehan seksual mesti menceritakan detil kejadian peristiwa yang dialaminya dalam kondisi 'terbuka' seperti itu. Pantas saja .... (silahkan lengkapi sendiri)
Pendekatan petugas tampak sangat informal dan berjauhan dari image saya terhadap seorang petugas polisi. Teman saya menjelaskan, bahwa sekarang ini memang kepolisian telah mengubah pelayanannya, terutama di unit perempuan dan anak, yang kami datangi ini. Sebenarnya penjelasan ini telah saya dengar jauh-jauh hari sebelum mendapatkan surat panggilan BAP ini. Namun tampaknya kecemasan saya mengalahkan informasi yang valid ini. Terbukti betapa seseorang yang cemas bisa sangat tidak rasional *huhuhuhu...* Mereka memang tampak lebih ramah klien atau pelapor. Cukup salut untuk hal ini. Meski katanya juga, ada beberapa kantor kepolisian yang lebih kecil sektornya, masih kurang mempraktekkan niatan baik ini. Dalam arti, kadang pelayanan yang dilakukan masih jauh dari keramahan yang kami alami di sini.
So, saya rasa untuk ujian hari ini saya mendapat nilai yang cukup. Bahkan mungkin baik (boleh lah sedikit subjektif). Ternyata ujian yang nyata bukan sekedar menghadapi klien dan memfasilitasi klien agar berfungsi lebih baik secara psikologis. Tapi juga ujian ketika diminta menjelaskan keadaan psikologis klien kepada profesi lainnya. Ternyata ujian nyata semacam ini memang semakin membuat saya matang dalam menjalankan profesi saya. Ujian berikutnya? Katanya sih kalo dipanggil ke pengadilan sebagai saksi ahli, yang pasti akan lebih mendebarkan lagi mengingat tuntutan psikologis yang akan dihadapi... Bener ga ya? Ah.... rasanya saya tidak mau memikirkan dulu sampai situ deh... :)
Ternyata memang baik berwaspada-ria sebelum menghadapi sesuatu. Dan memang baik jika kita berani menghadapi ke-parno-an kita, karena ternyata tidak semua hal yang dicemaskan memiliki kenyataan yang menakutkan.
Apalagi sesudah itu ditambah bonus lunch dan jalan-jalan ke sebuah mal di seberang kantor kepolisian itu... :D
Kamis, 12 Agustus 2010
Little Stories 3
Adegan 1 : Tuhan mendengar
Mama (M) : ayo berdoa sebelum makan
Teresa (T) : berdoa sendiri ya (menutup mata, mengatupkan tangan, sambil berdiri di atas sofa lalu berdoa tanpa suara)
(setelah selesai berdoa)
T : Tuhan pasti denger (doaku) ya?
M : oiya, pasti.
T : gimana caranya Tuhan bisa denger doa kita dan semuanya?
M : hmmmmm (mikirrrr...) mungkin Tuhan punya cara dan alat khusus jadi bisa denger doa semuanya...
T : ...
M : (mikir : kayanya jawaban gw kurang mengena utk T hahahaha....)
Adegan 2 : ASKES
(setelah memperhatikan bapak penjaga askes-asuransi kesehatan di rumah oma opa)
T : Mah askes itu apa?
M : itu kartu untuk ke dokter, untuk berobat
T : o gitu ya (dengan ekspresi memahami yg menggemaskan
Adegan 3 : Naik Tangga
(T mencoba naik tangga besi di menara air ketika M sedang menjemur baju)
T : naik lagi ya Mah? (minta ijin utk naik ke anak tangga ke 3)
M : iya boleh tapi hati-hati dan jangan naik lagi, ngeri
T : (naik ke anak tangga 3)
M : (menunggui T turun)
T : aku mau naik lagi ah... (sambil melihat M meminta persetujuan)
M : hmmm... ya udah boleh (karena sudah selesai menjemur baju & bisa fokus ngawasin T)
T : (tampak memperhatikan anak tangga dan menara di atasnya) tapi... T ngeri... (dengan ekspresi kocak)
M : ya udah jangan naek lah kalo ngeri... (merasa geli dan bangga...)
T : (diam beberapa saat) aku ga bisa turun sendiri, gendong...
M : yaaah kan... masak naik sendiri ga bisa turun sendiri... ya udh sini... (akhirnya menggendong T...
T : (setelah sampai di tanah ketawa-tawa senang... hehehe...)
Mama (M) : ayo berdoa sebelum makan
Teresa (T) : berdoa sendiri ya (menutup mata, mengatupkan tangan, sambil berdiri di atas sofa lalu berdoa tanpa suara)
(setelah selesai berdoa)
T : Tuhan pasti denger (doaku) ya?
M : oiya, pasti.
T : gimana caranya Tuhan bisa denger doa kita dan semuanya?
M : hmmmmm (mikirrrr...) mungkin Tuhan punya cara dan alat khusus jadi bisa denger doa semuanya...
T : ...
M : (mikir : kayanya jawaban gw kurang mengena utk T hahahaha....)
Adegan 2 : ASKES
(setelah memperhatikan bapak penjaga askes-asuransi kesehatan di rumah oma opa)
T : Mah askes itu apa?
M : itu kartu untuk ke dokter, untuk berobat
T : o gitu ya (dengan ekspresi memahami yg menggemaskan
Adegan 3 : Naik Tangga
(T mencoba naik tangga besi di menara air ketika M sedang menjemur baju)
T : naik lagi ya Mah? (minta ijin utk naik ke anak tangga ke 3)
M : iya boleh tapi hati-hati dan jangan naik lagi, ngeri
T : (naik ke anak tangga 3)
M : (menunggui T turun)
T : aku mau naik lagi ah... (sambil melihat M meminta persetujuan)
M : hmmm... ya udah boleh (karena sudah selesai menjemur baju & bisa fokus ngawasin T)
T : (tampak memperhatikan anak tangga dan menara di atasnya) tapi... T ngeri... (dengan ekspresi kocak)
M : ya udah jangan naek lah kalo ngeri... (merasa geli dan bangga...)
T : (diam beberapa saat) aku ga bisa turun sendiri, gendong...
M : yaaah kan... masak naik sendiri ga bisa turun sendiri... ya udh sini... (akhirnya menggendong T...
T : (setelah sampai di tanah ketawa-tawa senang... hehehe...)
Senin, 02 Agustus 2010
Little Stories 2
Adegan 1 : Tuhan
Waktu mau tidur, terjadilah dialog berikut :
Teresa (4 th): Mah, sebelum Tuhan ciptain kita, Tuhan main sama siapa ya...?
Mama (a.k.a gw) : (terdiam, geli & kaget & kagum) hmmmm... mungkin main sendiri kali ya...
T : ... (mengangguk, tampak puas krn jawaban yg logis ehehe....)
Adegan 2 : Pernikahan
Ketika sedang menonton televisi, terlihat adegan iklan yg menunjukkan dua sejoli sedang mempersiapkan pernikahan. Teresa ternyata mengenalinya, mungkin sekali karena mempelai perempuannya memakai gaun putih nan cantik.
T : Mah, itu akan menikah ya?
M : iya.. (sambil ngerjain ini itu)
T : (beberapa saat kemudian) ... Mah, nanti kalo teresa udah besar, teresa punya anak ya?
M : iya... tapi nikah dulu baru punya anak
T : ... nanti teresa nikah sama siapa...? (cengar cengir)
M : mmm... belum tau
T : nikah sama Mama kali ya? (ceria... tanpa ngerasa ada yg aneh...)
M : wahahahaha.... (bener2 geli dan ga tau musti ngomong apa... sambil pengen blg, nak, jalanmu masih panjang ga usah mikirin punya anak & merit dulu...)
Waktu mau tidur, terjadilah dialog berikut :
Teresa (4 th): Mah, sebelum Tuhan ciptain kita, Tuhan main sama siapa ya...?
Mama (a.k.a gw) : (terdiam, geli & kaget & kagum) hmmmm... mungkin main sendiri kali ya...
T : ... (mengangguk, tampak puas krn jawaban yg logis ehehe....)
Adegan 2 : Pernikahan
Ketika sedang menonton televisi, terlihat adegan iklan yg menunjukkan dua sejoli sedang mempersiapkan pernikahan. Teresa ternyata mengenalinya, mungkin sekali karena mempelai perempuannya memakai gaun putih nan cantik.
T : Mah, itu akan menikah ya?
M : iya.. (sambil ngerjain ini itu)
T : (beberapa saat kemudian) ... Mah, nanti kalo teresa udah besar, teresa punya anak ya?
M : iya... tapi nikah dulu baru punya anak
T : ... nanti teresa nikah sama siapa...? (cengar cengir)
M : mmm... belum tau
T : nikah sama Mama kali ya? (ceria... tanpa ngerasa ada yg aneh...)
M : wahahahaha.... (bener2 geli dan ga tau musti ngomong apa... sambil pengen blg, nak, jalanmu masih panjang ga usah mikirin punya anak & merit dulu...)
Kamis, 22 April 2010
Catatan Dini Hari
Pagi ini diawali dengan kejadian yang kurang mengenakkan. Argumentasi kecil memang, namun cukup membuat saya mengetikkan status 'silent scream' di pesan instant online saya. Sapaan sahabat dan cerianya Teresa cukup menghibur, sehingga tak sampai tengah hari, perasaan silent scream itu sudah lumayan memudar. Ditambah keyakinan akan menjadi baik-baik saja mengingat pengalaman kami yang sudah-sudah. Dan keyakinan itu terbukti ketika malam kami kembali bersua dalam suasana yang sudah cukup cair.
Malam ini, seperti dua malam sebelumnya, Teresa tertidur cukup cepat. Maka saya berkesempatan untuk berselancar di dunia maya. Malam ini target pertama adalah mengetikkan ide cerita anak yang baru saja saya ceritakan sebagai dongeng pengantar tidur Teresa pada malam ini. Ya, hari ini saya bertekad sebulat mungkin untuk kembali serius menekuni hobi menulis. Dan tentu saja dengan tujuan menerbitkan karya tulisanku. Sudah agak lama tujuan ini terbengkalai karena ini itu yang lain. Misalnya karena pekerjaan ngasong dan orientasi mencari uang secara online. Mengapa akhirnya saya kembali memutuskan berfokus diri terhadap hobi dan cita-cita saya sebagai penulis? Alasannya cukup sederhana, yaitu agar tidak membuang waktu dan tenaga mengerjakan pencarian uang yang tak jelas ujungnya. Lebih baik memusatkan diri pada hobi yang saya senangi dan tujuan yang lebih jelas meski tak disangkal tetap menuntut perjuangan. Seperti kata pepatah terkenal yang sering kita kutip bersama, no pain no gain beybih! :D
Meski tentu saja, saya tidak bisa memusatkan hanya pada hobi ini saja. Kenapa? Karena saya masih enjoy dan memerlukan masukan (baik materiil dan spirituil - halah) dari berbagai profesi part timer yang saya jalani. Ditambah lagi cita-cita menjajakan produk unik via online. Kalau yang terakhir ini tunggu tanggal mainnya ya. Ini anggap saja promosi awal :)
Nah, sesudah cukup banyak materi yang saya baca tentang tujuan saya menjadi penulis tersebut, saya kembali mengingat tujuan kedua saya malam ini. Yaitu memasukkan nilai ujian para mahasiswa, yang rupanya saya tunda dari tadi mungkin karena sulit mempercayai hasilnya. Tentu bukannya bagus ya, kalau ditunda. Kalau bagus ya dengan enteng saya akan memasukkan nilai-nilai mereka sedari tadi. Nah, tentu sekarang anda sudah bisa menebak seperti apa nilai-nilai mereka. Kecewa, tentu saja. Saya sudah memendamnya ketika pertama kali mengoreksi jawaban-jawaban mereka. Tapi, yang lebih berat saya pikirkan adalah bagaimana membantu mereka meningkatkan nilai akademik mereka di mata kuliah yang saya ajar. Banyak koreksi diri sendiri juga, tentang bagaimana mengajar sampai tuntutan penyampaian materi dan karakteristik peserta didik itu sendiri. So much to count on.
So, malam ini rupanya harus diakhiri dengan berakhirnya catatan dini hari ini. Semoga malam ini tidur nyenyak. Selamat malam teman semua.
Malam ini, seperti dua malam sebelumnya, Teresa tertidur cukup cepat. Maka saya berkesempatan untuk berselancar di dunia maya. Malam ini target pertama adalah mengetikkan ide cerita anak yang baru saja saya ceritakan sebagai dongeng pengantar tidur Teresa pada malam ini. Ya, hari ini saya bertekad sebulat mungkin untuk kembali serius menekuni hobi menulis. Dan tentu saja dengan tujuan menerbitkan karya tulisanku. Sudah agak lama tujuan ini terbengkalai karena ini itu yang lain. Misalnya karena pekerjaan ngasong dan orientasi mencari uang secara online. Mengapa akhirnya saya kembali memutuskan berfokus diri terhadap hobi dan cita-cita saya sebagai penulis? Alasannya cukup sederhana, yaitu agar tidak membuang waktu dan tenaga mengerjakan pencarian uang yang tak jelas ujungnya. Lebih baik memusatkan diri pada hobi yang saya senangi dan tujuan yang lebih jelas meski tak disangkal tetap menuntut perjuangan. Seperti kata pepatah terkenal yang sering kita kutip bersama, no pain no gain beybih! :D
Meski tentu saja, saya tidak bisa memusatkan hanya pada hobi ini saja. Kenapa? Karena saya masih enjoy dan memerlukan masukan (baik materiil dan spirituil - halah) dari berbagai profesi part timer yang saya jalani. Ditambah lagi cita-cita menjajakan produk unik via online. Kalau yang terakhir ini tunggu tanggal mainnya ya. Ini anggap saja promosi awal :)
Nah, sesudah cukup banyak materi yang saya baca tentang tujuan saya menjadi penulis tersebut, saya kembali mengingat tujuan kedua saya malam ini. Yaitu memasukkan nilai ujian para mahasiswa, yang rupanya saya tunda dari tadi mungkin karena sulit mempercayai hasilnya. Tentu bukannya bagus ya, kalau ditunda. Kalau bagus ya dengan enteng saya akan memasukkan nilai-nilai mereka sedari tadi. Nah, tentu sekarang anda sudah bisa menebak seperti apa nilai-nilai mereka. Kecewa, tentu saja. Saya sudah memendamnya ketika pertama kali mengoreksi jawaban-jawaban mereka. Tapi, yang lebih berat saya pikirkan adalah bagaimana membantu mereka meningkatkan nilai akademik mereka di mata kuliah yang saya ajar. Banyak koreksi diri sendiri juga, tentang bagaimana mengajar sampai tuntutan penyampaian materi dan karakteristik peserta didik itu sendiri. So much to count on.
So, malam ini rupanya harus diakhiri dengan berakhirnya catatan dini hari ini. Semoga malam ini tidur nyenyak. Selamat malam teman semua.
Selasa, 13 April 2010
Little Stories 1
Adegan 1 : Main Jual-jualan
T : Ma, ayo main jual-jualan. Teresa yang jual, Mama yg beli ya
M : (lg kumat isengya)Ah, mama lagi ga mau beli.
T : aaaahhhh Mama... ayo dong...
M : tapi Mama lagi ga perlu apa-apa. ga ada uangnya. kan uangnya mama cuma cukup untuk beli makanan, ga cukup untuk beli gelang.
T : beli ya, ya, ya... kan harganya ga mahal
M : hahahaha (sambil berpikir, ckckck.... hebat bener ya modellingnya hihihi....)
Adegan 2 : Orang dewasa ga boleh main
T : ni... santa klaus punya banyak mainan....
M : asiiikkk! mama dapet juga ya.... (ge er bener ya huahahah..)
T : ga... mama ga dapet. kan mama udh gede... ini utk temen-temen (boneka) aja...
M : loh, emangnya kalo udh gede ga dapet maenan? ga boleh main?
T : iya...
M : oooo...
T : main sm anak-anak aja...
M : ... jadi orang gede ga boleh main, krn harusnya main sm anak-anak, iya?
T : (ngangguk)
M : (spt mendapat pencerahan hihihi....)
T : Ma, ayo main jual-jualan. Teresa yang jual, Mama yg beli ya
M : (lg kumat isengya)Ah, mama lagi ga mau beli.
T : aaaahhhh Mama... ayo dong...
M : tapi Mama lagi ga perlu apa-apa. ga ada uangnya. kan uangnya mama cuma cukup untuk beli makanan, ga cukup untuk beli gelang.
T : beli ya, ya, ya... kan harganya ga mahal
M : hahahaha (sambil berpikir, ckckck.... hebat bener ya modellingnya hihihi....)
Adegan 2 : Orang dewasa ga boleh main
T : ni... santa klaus punya banyak mainan....
M : asiiikkk! mama dapet juga ya.... (ge er bener ya huahahah..)
T : ga... mama ga dapet. kan mama udh gede... ini utk temen-temen (boneka) aja...
M : loh, emangnya kalo udh gede ga dapet maenan? ga boleh main?
T : iya...
M : oooo...
T : main sm anak-anak aja...
M : ... jadi orang gede ga boleh main, krn harusnya main sm anak-anak, iya?
T : (ngangguk)
M : (spt mendapat pencerahan hihihi....)
Sabtu, 20 Februari 2010
Hari Ini Sangat Menginspirasi
Pagi ini kuawali dengan berdoa agar aku dibimbing oleh Sang Empunya Bumi dlm setiap langkahku hari ini. Bukan, bukan karena hari ini ada tugas yg lebih berat atau lebih menantang. Bukan pula karena aku merasa kurang siap utk kegiatan hr ini. Tapi lebih karena akhir-akhir ini ada isu pribadi yg terus mengiang di jiwa sampai merasa sesak. Terlebih juga karena akhir-akhir ini merasakan gejolak emosi yg kurang menyenangkan,terutama berkaitan dengan orang terkasihku. Tak perlu kuurai akar masalahnya disini, karena hanya memperpanjang cerita.
Setelah rutinitas dan persiapan pagi dirampungkan, aku berangkatlah ke tempat tugas. Kesabaran sudah diuji sejak pagi, menunggu klien yg terlambat. Apa dikata, aku hanya bisa menunggu. Klien spesial ternyata menjadi takdirku hari ini. Sungguh banyak yg aku pelajari darinya. Betapa seorang anak bisa begitu bervariasi, betapa keluarganya memerlukan proses tenaga, pikiran dan jiwa untuk menerima dan membimbingnya. Membuatku juga bersyukur atas segala anugerah. Aku menjadi pemeriksa terakhir hari itu, karena klien istimewa itu dan juga karena keterlambatan mulainya waktu pemeriksaan tadi. Hujan deras menyambutku di penghujung akhir pemeriksaan. Untung ada Mbak M yang baik hati, mau memberikan tumpangan agar menghindari hujan dan perjalanan dengan angkot. Tujuanku ke sebuah mal favorit byk anak muda di daerah Cilandak, bertemu singkat dg sahabat-sahabat lama.
Di perjalanan, tak disangka, doaku terwujud. Bahwa ternyata Tuhan mendengar doaku, menjawab kebutuhanku akan "pencerahan" dari isu sentral hdpku sekarang. Mungkin karena Mbak M juga memiliki pengalaman dan sudut pandang yg kurang lebih sama dgnku, maka banyak sharing bermanfaat dalam kurang lebih 1 jam perjalanan itu.
Bahwa, menjadi ibu secara fultime adl pilihan. Tidak peduli setinggi apapun pendidikan seorg perempuan, hak memilih menjadi ibu fultime tetap ada. Bukankah pendidikan tinggi bukan hanya ditujukan utk mencari materi atau pencarian status? tapi untuk mendapatkan esensi pendidikan itu seperti perluasan wawasan, pembentukan pola pikir, penggemblengan karakter, dst? Dan apapun yg dialami di bangku pendidikan akan terus berguna dimanapun dan sbg apapun profesi kita. Bahkan dengan jujur aku mengakui, statusku sbg ibu fultime&parttimer adl keputusan yg didasari dari pengetahuanku di jenjang pendidikan yg telah aku alami. Jadi semuanya terkait satu sama lain.
Bahwa, peranan orang tua merupakan proses pendidikan hidup dan pematangan kepribadian kita bersama pasangan. Dari yang harus merelakan waktu dan energi pribadi tersita untuk anak (dan suami), sampai 'pengorbanan' atas idealisme pribadi. Tak ada manusia yg bs mencapai kesuksesan tinggi di semua aspek, demikian kira-kira kalimat yg kami setujui ketika sharing ini. Misalnya, lebih baik (at least utk aku dan Mbak M) utk mjd ibu yg "sedang" dan profesional yg "sedang", serta merasa puas krn bs menyeimbangkan peran dan realistis ; daripada membela kesuksesan profesi (& materiil) namun keluarga terbengkalai. Its all about choices & responsiblity. Sejauh mana kita bs mempertanggungjawabkan pilihan2 kita.
Aku ga tau seberapa penting hal ini bagi orang (perempuan) lain. Tapi isu2 ini yg mengiang dlm hatiku, terutama setelah memiliki anak.
Percakapan di tengah kemacetan dan hujan telah memberi "pencerahan" yg tulus dan langsung mengena. Meski tak sengaja, tapi sangat menyegarkan dan memberi semangat.
Setelah "inspirasi" ini aku serapi, kegiatan hari ini dilanjutkan oleh pertemuan dengan teman-teman akrabku. Pertemuan ini tentu juga menyegarkan, mengingatkan akan rumah lain yg selalu akrab tak lekang waktu. Percakapan mengalir dan waktu menunjukkan saatku utk pulang ke haribaan terkasih di rumah.
Alangkah bersyukurnya aku hari ini. Diperbolehkan mendapatkan pengalaman2 nan inspiratif dan tulus. Terima kasih yg tak terhingga kepada Yang di Atas, yg mengatur skenario hari ini. Dan tak lupa kepada Mbak M yg sudah bersedia sharing. Dan kepada semua teman yg bertemu untuk sekedar bercerita. Semua sungguh indah hari ini.
Terima kasih. Feel Fully Blessed. To see light in my deepest soul.
Setelah rutinitas dan persiapan pagi dirampungkan, aku berangkatlah ke tempat tugas. Kesabaran sudah diuji sejak pagi, menunggu klien yg terlambat. Apa dikata, aku hanya bisa menunggu. Klien spesial ternyata menjadi takdirku hari ini. Sungguh banyak yg aku pelajari darinya. Betapa seorang anak bisa begitu bervariasi, betapa keluarganya memerlukan proses tenaga, pikiran dan jiwa untuk menerima dan membimbingnya. Membuatku juga bersyukur atas segala anugerah. Aku menjadi pemeriksa terakhir hari itu, karena klien istimewa itu dan juga karena keterlambatan mulainya waktu pemeriksaan tadi. Hujan deras menyambutku di penghujung akhir pemeriksaan. Untung ada Mbak M yang baik hati, mau memberikan tumpangan agar menghindari hujan dan perjalanan dengan angkot. Tujuanku ke sebuah mal favorit byk anak muda di daerah Cilandak, bertemu singkat dg sahabat-sahabat lama.
Di perjalanan, tak disangka, doaku terwujud. Bahwa ternyata Tuhan mendengar doaku, menjawab kebutuhanku akan "pencerahan" dari isu sentral hdpku sekarang. Mungkin karena Mbak M juga memiliki pengalaman dan sudut pandang yg kurang lebih sama dgnku, maka banyak sharing bermanfaat dalam kurang lebih 1 jam perjalanan itu.
Bahwa, menjadi ibu secara fultime adl pilihan. Tidak peduli setinggi apapun pendidikan seorg perempuan, hak memilih menjadi ibu fultime tetap ada. Bukankah pendidikan tinggi bukan hanya ditujukan utk mencari materi atau pencarian status? tapi untuk mendapatkan esensi pendidikan itu seperti perluasan wawasan, pembentukan pola pikir, penggemblengan karakter, dst? Dan apapun yg dialami di bangku pendidikan akan terus berguna dimanapun dan sbg apapun profesi kita. Bahkan dengan jujur aku mengakui, statusku sbg ibu fultime&parttimer adl keputusan yg didasari dari pengetahuanku di jenjang pendidikan yg telah aku alami. Jadi semuanya terkait satu sama lain.
Bahwa, peranan orang tua merupakan proses pendidikan hidup dan pematangan kepribadian kita bersama pasangan. Dari yang harus merelakan waktu dan energi pribadi tersita untuk anak (dan suami), sampai 'pengorbanan' atas idealisme pribadi. Tak ada manusia yg bs mencapai kesuksesan tinggi di semua aspek, demikian kira-kira kalimat yg kami setujui ketika sharing ini. Misalnya, lebih baik (at least utk aku dan Mbak M) utk mjd ibu yg "sedang" dan profesional yg "sedang", serta merasa puas krn bs menyeimbangkan peran dan realistis ; daripada membela kesuksesan profesi (& materiil) namun keluarga terbengkalai. Its all about choices & responsiblity. Sejauh mana kita bs mempertanggungjawabkan pilihan2 kita.
Aku ga tau seberapa penting hal ini bagi orang (perempuan) lain. Tapi isu2 ini yg mengiang dlm hatiku, terutama setelah memiliki anak.
Percakapan di tengah kemacetan dan hujan telah memberi "pencerahan" yg tulus dan langsung mengena. Meski tak sengaja, tapi sangat menyegarkan dan memberi semangat.
Setelah "inspirasi" ini aku serapi, kegiatan hari ini dilanjutkan oleh pertemuan dengan teman-teman akrabku. Pertemuan ini tentu juga menyegarkan, mengingatkan akan rumah lain yg selalu akrab tak lekang waktu. Percakapan mengalir dan waktu menunjukkan saatku utk pulang ke haribaan terkasih di rumah.
Alangkah bersyukurnya aku hari ini. Diperbolehkan mendapatkan pengalaman2 nan inspiratif dan tulus. Terima kasih yg tak terhingga kepada Yang di Atas, yg mengatur skenario hari ini. Dan tak lupa kepada Mbak M yg sudah bersedia sharing. Dan kepada semua teman yg bertemu untuk sekedar bercerita. Semua sungguh indah hari ini.
Terima kasih. Feel Fully Blessed. To see light in my deepest soul.
Rabu, 17 Februari 2010
Perbaikan Diri
Tak terasa sudah memasuki masa prapaskah thn 2010. Kemarin hari Rabu Abu terpaksa aku tidak ke gereja, karena di rumah menemani Teresa yang masih flu. Tapi tetap merasakan aura Rabu Abu karena suami membawa seberkas abu yang didapatkan dari gereja. Yah, minimal menandakan aku dan Teresa turut terlibat dalam masa pra paskah ini.
Satu pertanyaan yang selalu muncul ketika masa pra paskah ini tiba, adalah "Pantang apa utk Pra Paskah?" Sekilas aku pikir-pikir, pertanyaan ini terkesan arogan sekali. Merasa dan kurang bisa menemukan perilaku tobat apa yg bisa memperbaiki diriku. Terkesan sudah merasa "baik". Padahal kenyataannya... wah, boro-boro sudah baik... wong masih belang belonteng gini hehehe...
Nah karena bingung, tercetuslah pertanyaan itu di status FB dan beberapa teman memberikan usul. Usul yang paling banyak dari sekian usulan (kayak banyak aja, padahal cuma 4 org yg mengusulkan hahaha...) adl pantang maen FB dan Chatting. Usul lain adl pantang makan mi instan dan lebih banyak bersyukur serta berbuat baik (wah ini mah bukan pantangan hahaha....).
Dari berbagai usulan itu, terus terang membuatku berpikir2 lebih lanjut, apa ya yg bisa dilakukan dalam masa pra paskah yang benar-benar bisa membuatku lebih baik lagi pada Paskah thn ini. Maka timbullah ide ketika aku memandikan Teresa, yaitu tidak ngomel-ngomel lagi, terutama dengan Teresa. Kenapa aku berniat demikian? Ya jelas karena selama ini karena aku merasa sering tak sabaran dengan Teresa (ups! ketauan dehh hihihi...). Aku seringkali mudah mengikuti mood, bila kesal, ya sudah marah-marahlah tanpa berusaha untuk menahan emosi dan mencari jalan lain yang lebih soft. Meski ada kali lain ketika aku bersabar dan bernegosiasi dengan baik (maaf kali ini memang aku berbangga hati, krn ga mudah bernegosiasi dengan anak balita hehe...), namun kok ya akhir-akhir ini sering mudah terpicu untuk ngomel-ngomel. Jangan-jangan nti keterusan dan akibatnya keburu buruk ke Teresa.... Penyesalan tokh ga ada arti kalo sudah terjadi kan... Maka, dengan mengucap doa dan membulatkan tekad, aku berniat pada masa pra paskah ini untuk tidak ngomel-ngomel ke Teresa (plus org2 terdekat saya...).
Oya, ditambah ingin mengungkapkan hal-hal apa saja yg membuatku bersyukur each day... minimal di masa pra Paskah ini... Semoga bisa juga dishare ke temen-temen melalui blog or FB.
Mudah-mudahan ini menjadi habit-kebiasaan yang sehat dan membawa kemajuan dalam diriku. Dan tentu saja diharapkan bisa menularkan aura yg lebih positif lagi ke sekitarku.
Bagaiman pantang Chatting dan FB? Hm... aku baru bisa berjanji akan mengurangi heheh... Misalnya, setiap ol aku akan berusaha melakukan hal-hal lain di luar itu, misalnya browsing, ngerjain tugas-tugas. Dan bila ada hal urgent atau sesekali barulah akan menggunakan chatting dan FB. Maklumlah, dunia sosialnya sudah bergeser nih ke dunia maya, jadi takutnya mati rasa kalo musti resign dari semua koneksi itu hehe...
So, begitulah sekelumit ceritaku di masa pra paskah ini. Semoga apapun keyakinan dan masa yang kita alami, kita dapat terus berbesar hati untuk berproses menjadi pribadi yg lebih baik ya... :)
Satu pertanyaan yang selalu muncul ketika masa pra paskah ini tiba, adalah "Pantang apa utk Pra Paskah?" Sekilas aku pikir-pikir, pertanyaan ini terkesan arogan sekali. Merasa dan kurang bisa menemukan perilaku tobat apa yg bisa memperbaiki diriku. Terkesan sudah merasa "baik". Padahal kenyataannya... wah, boro-boro sudah baik... wong masih belang belonteng gini hehehe...
Nah karena bingung, tercetuslah pertanyaan itu di status FB dan beberapa teman memberikan usul. Usul yang paling banyak dari sekian usulan (kayak banyak aja, padahal cuma 4 org yg mengusulkan hahaha...) adl pantang maen FB dan Chatting. Usul lain adl pantang makan mi instan dan lebih banyak bersyukur serta berbuat baik (wah ini mah bukan pantangan hahaha....).
Dari berbagai usulan itu, terus terang membuatku berpikir2 lebih lanjut, apa ya yg bisa dilakukan dalam masa pra paskah yang benar-benar bisa membuatku lebih baik lagi pada Paskah thn ini. Maka timbullah ide ketika aku memandikan Teresa, yaitu tidak ngomel-ngomel lagi, terutama dengan Teresa. Kenapa aku berniat demikian? Ya jelas karena selama ini karena aku merasa sering tak sabaran dengan Teresa (ups! ketauan dehh hihihi...). Aku seringkali mudah mengikuti mood, bila kesal, ya sudah marah-marahlah tanpa berusaha untuk menahan emosi dan mencari jalan lain yang lebih soft. Meski ada kali lain ketika aku bersabar dan bernegosiasi dengan baik (maaf kali ini memang aku berbangga hati, krn ga mudah bernegosiasi dengan anak balita hehe...), namun kok ya akhir-akhir ini sering mudah terpicu untuk ngomel-ngomel. Jangan-jangan nti keterusan dan akibatnya keburu buruk ke Teresa.... Penyesalan tokh ga ada arti kalo sudah terjadi kan... Maka, dengan mengucap doa dan membulatkan tekad, aku berniat pada masa pra paskah ini untuk tidak ngomel-ngomel ke Teresa (plus org2 terdekat saya...).
Oya, ditambah ingin mengungkapkan hal-hal apa saja yg membuatku bersyukur each day... minimal di masa pra Paskah ini... Semoga bisa juga dishare ke temen-temen melalui blog or FB.
Mudah-mudahan ini menjadi habit-kebiasaan yang sehat dan membawa kemajuan dalam diriku. Dan tentu saja diharapkan bisa menularkan aura yg lebih positif lagi ke sekitarku.
Bagaiman pantang Chatting dan FB? Hm... aku baru bisa berjanji akan mengurangi heheh... Misalnya, setiap ol aku akan berusaha melakukan hal-hal lain di luar itu, misalnya browsing, ngerjain tugas-tugas. Dan bila ada hal urgent atau sesekali barulah akan menggunakan chatting dan FB. Maklumlah, dunia sosialnya sudah bergeser nih ke dunia maya, jadi takutnya mati rasa kalo musti resign dari semua koneksi itu hehe...
So, begitulah sekelumit ceritaku di masa pra paskah ini. Semoga apapun keyakinan dan masa yang kita alami, kita dapat terus berbesar hati untuk berproses menjadi pribadi yg lebih baik ya... :)
Selasa, 12 Januari 2010
Kisah Akhir Tahun (yg baru sempat tertuliskan)
Tak terasa tahun 2009 sudah berganti menjadi 2010. Tapi baru sekarang sempat mengetikkan pengalaman-pengalaman menjelang akhir 2009 maupun di awal 2010 ini.
Seminggu Sebelum Natal 2009
Cerita ini berawal ketika suatu pagi, seminggu sebelum Natal 2009, salah satu asisten rumah tanggaku meminta ijin utk pulang kampung, sambil berurai air mata. Alasannya ternyata karena sang ibunda sedang kritis di rumah sakit. Maka pastilah aku dan Mamaku menyetujuinya. Tapi aku wanti-wanti kepadanya, tolong asisten yg lain jgn ikut pulang. Secara mereka bersaudara maka kemgkinana besar mereka pasti sll bersama dalam suka duka (halah hahaha...). Asisten pertama tentu mengiyakan. Tp spt yg ditebak, asisten kedua tetap minta ikt plg, dengan alasan ayahandanya memintanya pulang. Ya sudah, aku menerima nasib ini dengan tenang entah kenapa. Biasanya agak panik sedikit hihihihi...
Maka dimulailah hari-hari tanpa asisten. Untung Papa bisa meminta seorang Bapak yg sebenarnya tukang bangunan, utk membersihkan rumah beberapa kali. Jadi ga belang banget deh tuh lantai. Tapi selebihnya, seperti memasak dan mencuci ya tetep harus dikerjakan. Tahapan pengerjaan harian terasa tak begitu ribet sekarang karena Teresa sudah bisa dimintai bantuan sedikit-sedikit, diminta maen sendiri-seringnya menonton tv *Hiks*, diminta ikutan nemenin jemur baju dll. Pokoknye tinggal atur energi aje semua beres. Kedengerannya pasti simpel tapi pengerjaannya wuiiihhh jangan tanya. Management waktu & team work sm suami yg menjadi pendukung utama, menyicil dan semangat serta santai jadi strateginya. Bagi yg pernah menangani pekerjaan rumah tangga pasti sangat paham yg aku bicarakan ini hehehe...
Yang buat menantang lagi, di kondisi tak ada asisten ini adalah datangnya Hari Natal. Ketika rumah lain sibuk berhias, rumahku 'plain' thn ini. Maksudnya tak ada hiasan natal apapun. Selain tersita oleh pekerjaan rumah tangga, ternyata kami (aku,suami dan anak) lebih banyak berada di luar rumah. Apakah itu mengajak Teresa jalan2 ke tempat2 hiburan dengan suasana Natal (yg sering kali diteruskan sampai malam agar tak repot mengurusi makanan di rumah), atau ke rumah saudara karena ada kumpul-kumpul Natal kecil2an. Yah, semuanya berjalan seperti air saja. Tanpa sempat mendekorasi apapun, bahkan sebatang pohon Natal. Tapiii tetep ya semangat dan rasa syukur di hari Natal tetap menggaung di hati kami sekeluarga.
Tapi, di tengah-tengah kelancaran yang terjadi meski ga ada asisten, di waktu luangku aku menyadari sesuatu yg menghilang, yaitu... ME time... Yak, seperti yg pernah aku sempat tuliskan di status fb, aku sangat merindukan me time, terutama utk menulis pada masa2 tak ada asisten ini. Aku ga ada energi utk menulis apapun, bahkan di waktu luangku.. Ketika waktu luang tiba, waktu habis untuk chating, baca email, ber-FB ria dll. Rupanya memang menulis membutuhkan energi lebih dan belum bisa aku manage dg kegiatan rumah tangga ini. Padahal banyak ide bermunculan utk dishare. Biasa kan ide munculnya suka ga permisi kayak tamu ga diundang. Terus aja deras bermunculan meski kita ga ada waktu... Akhirnya ide-ide itu sekarang masih saja tersimpan di draft, entah di komputer atau di hp. Entah kapan bisa terwujud semuanya.
Jadi, berasa banget tuh waktu berharga. Dan pekerjaan rmh tangga, sekali lagi aku diingatkan, bukanlah pekerjaan remeh temeh. Tampaknya memang sederhana, namun ketika dikerjakan wuiiiihhh ga ada abisnya lah.... Ditambah peranan sebagai ibu dan istri, tambah mantap lah rutinitas ibu rumah tangga ;)
Aku memang tak bersibuk ria menanyakan kapan si asisten kembali. Kenapa? Ya karena aku yakin aja mereka akan kembali dan kapanpun itu yang penting aku tetap enjoy dengan pekerjaan rumah tangga ini. Mereka kembali setelah 2 minggu, yaitu menjelang thn baru. Semua terasa natural dan senang sekali aku tak panik menghadapi semua itu. Karena memang momentnya spt ada yg mengatur, yaitu oleh Sang Manager hebat di atas sana. Ketika si asisten pergi, memang jadwal liburan sudah mengisi agendaku. Artinya, kebetulan di kampus diliburkan & pekerjaan freelance lainnya juga sepi krn suasana akhir tahun. Maka memang dg total fokus energiku digunakan utk mengurus rumah tangga. Nah ketika si asisten datang kembali, kembali aku bersyukur, karena kedatangan mereka bertepatan dengan rencana kami berlibur ke bogor (dalam rangka thn baru-an). So, pas semuanya... Seperti iklan hehehe...
Akhir Tahun 2009
Akhir tahun 2009 pun ditutup oleh liburan menyenangkan dan refreshing di Bogor bersama keluarga kecilku. Di sana Teresa senang sekali, apalagi kalau bukan karena (suara drum hehehe) .... ada kolam renangnya. Padahal setiap Jumat, Teresa juga berenang di sekolah. Mungkin terasa beda ya kolam renang di sekolah dan di hotel hahaha... Maka ketika kami mengajaknya berpindah ke tempat menginap yg lebih dekat dg keramaian, Teresa dengan mengantuknya berkeras utk tetap tinggal di situ. Maka kami pun mengalah. Dan esok paginya, kembali Teresa berenaaanng dan sempat berkenalan dengan teman baru. Yah, suatu liburan yg juga menyenangkan utk Teresa tampaknya.
Oya, malam tahun baru jg tak kurang indahnya. Teresa amat menikmati pertunjukan Barongsay dan Liong. Pertunjukan ini diadakan di ballroom hotel tempat kami menginap. Ada juga demo keahlian wushu.... Lalu kami kembali ke kamar sebelum tengah malam agar Teresa tak terlalu lelah. Tapi... di kamar ternyata Teresa ikut merayakan thn baru dengan menonton kembang api yg indah melalui jendela kamar kami. Wuiiiiihhhh indah lho... serasa VVVVVIP hihihi.... Ngomong2 ini adl malam thn baru pertama bagi Teresa, dimana ia ikt bangun sampai jam 12 lewat! Hehehe... kebayang kan anak kecil umur 3,5 th melek sampe setengah satu pagi hahaha... Watta moment!
Perasaanku puas dengan liburan akhir tahun ini. Karena meski ga jauh, tapi bisa refreshing dengan pemandangan indah dari hotel ini. Juga benar ga ada beban pekerjaan. Seingat aku, sudah lama aku tidak merasakan sesantai ketika liburan kali ini. Its a very memorable one, then ;)
So, its all folks. Sekian cerita akhir tahun yg memorable utk aku dan keluarga. Semoga dengan datangnya tahun baru ini, semua yg terjadi di thn yg lalu bisa menjadi pelajaran berharga ya... sehingga setiap saat mendatang menjadi pencerahan bagi kita masing-masing amiiennnn... :D
Seminggu Sebelum Natal 2009
Cerita ini berawal ketika suatu pagi, seminggu sebelum Natal 2009, salah satu asisten rumah tanggaku meminta ijin utk pulang kampung, sambil berurai air mata. Alasannya ternyata karena sang ibunda sedang kritis di rumah sakit. Maka pastilah aku dan Mamaku menyetujuinya. Tapi aku wanti-wanti kepadanya, tolong asisten yg lain jgn ikut pulang. Secara mereka bersaudara maka kemgkinana besar mereka pasti sll bersama dalam suka duka (halah hahaha...). Asisten pertama tentu mengiyakan. Tp spt yg ditebak, asisten kedua tetap minta ikt plg, dengan alasan ayahandanya memintanya pulang. Ya sudah, aku menerima nasib ini dengan tenang entah kenapa. Biasanya agak panik sedikit hihihihi...
Maka dimulailah hari-hari tanpa asisten. Untung Papa bisa meminta seorang Bapak yg sebenarnya tukang bangunan, utk membersihkan rumah beberapa kali. Jadi ga belang banget deh tuh lantai. Tapi selebihnya, seperti memasak dan mencuci ya tetep harus dikerjakan. Tahapan pengerjaan harian terasa tak begitu ribet sekarang karena Teresa sudah bisa dimintai bantuan sedikit-sedikit, diminta maen sendiri-seringnya menonton tv *Hiks*, diminta ikutan nemenin jemur baju dll. Pokoknye tinggal atur energi aje semua beres. Kedengerannya pasti simpel tapi pengerjaannya wuiiihhh jangan tanya. Management waktu & team work sm suami yg menjadi pendukung utama, menyicil dan semangat serta santai jadi strateginya. Bagi yg pernah menangani pekerjaan rumah tangga pasti sangat paham yg aku bicarakan ini hehehe...
Yang buat menantang lagi, di kondisi tak ada asisten ini adalah datangnya Hari Natal. Ketika rumah lain sibuk berhias, rumahku 'plain' thn ini. Maksudnya tak ada hiasan natal apapun. Selain tersita oleh pekerjaan rumah tangga, ternyata kami (aku,suami dan anak) lebih banyak berada di luar rumah. Apakah itu mengajak Teresa jalan2 ke tempat2 hiburan dengan suasana Natal (yg sering kali diteruskan sampai malam agar tak repot mengurusi makanan di rumah), atau ke rumah saudara karena ada kumpul-kumpul Natal kecil2an. Yah, semuanya berjalan seperti air saja. Tanpa sempat mendekorasi apapun, bahkan sebatang pohon Natal. Tapiii tetep ya semangat dan rasa syukur di hari Natal tetap menggaung di hati kami sekeluarga.
Tapi, di tengah-tengah kelancaran yang terjadi meski ga ada asisten, di waktu luangku aku menyadari sesuatu yg menghilang, yaitu... ME time... Yak, seperti yg pernah aku sempat tuliskan di status fb, aku sangat merindukan me time, terutama utk menulis pada masa2 tak ada asisten ini. Aku ga ada energi utk menulis apapun, bahkan di waktu luangku.. Ketika waktu luang tiba, waktu habis untuk chating, baca email, ber-FB ria dll. Rupanya memang menulis membutuhkan energi lebih dan belum bisa aku manage dg kegiatan rumah tangga ini. Padahal banyak ide bermunculan utk dishare. Biasa kan ide munculnya suka ga permisi kayak tamu ga diundang. Terus aja deras bermunculan meski kita ga ada waktu... Akhirnya ide-ide itu sekarang masih saja tersimpan di draft, entah di komputer atau di hp. Entah kapan bisa terwujud semuanya.
Jadi, berasa banget tuh waktu berharga. Dan pekerjaan rmh tangga, sekali lagi aku diingatkan, bukanlah pekerjaan remeh temeh. Tampaknya memang sederhana, namun ketika dikerjakan wuiiiihhh ga ada abisnya lah.... Ditambah peranan sebagai ibu dan istri, tambah mantap lah rutinitas ibu rumah tangga ;)
Aku memang tak bersibuk ria menanyakan kapan si asisten kembali. Kenapa? Ya karena aku yakin aja mereka akan kembali dan kapanpun itu yang penting aku tetap enjoy dengan pekerjaan rumah tangga ini. Mereka kembali setelah 2 minggu, yaitu menjelang thn baru. Semua terasa natural dan senang sekali aku tak panik menghadapi semua itu. Karena memang momentnya spt ada yg mengatur, yaitu oleh Sang Manager hebat di atas sana. Ketika si asisten pergi, memang jadwal liburan sudah mengisi agendaku. Artinya, kebetulan di kampus diliburkan & pekerjaan freelance lainnya juga sepi krn suasana akhir tahun. Maka memang dg total fokus energiku digunakan utk mengurus rumah tangga. Nah ketika si asisten datang kembali, kembali aku bersyukur, karena kedatangan mereka bertepatan dengan rencana kami berlibur ke bogor (dalam rangka thn baru-an). So, pas semuanya... Seperti iklan hehehe...
Akhir Tahun 2009
Akhir tahun 2009 pun ditutup oleh liburan menyenangkan dan refreshing di Bogor bersama keluarga kecilku. Di sana Teresa senang sekali, apalagi kalau bukan karena (suara drum hehehe) .... ada kolam renangnya. Padahal setiap Jumat, Teresa juga berenang di sekolah. Mungkin terasa beda ya kolam renang di sekolah dan di hotel hahaha... Maka ketika kami mengajaknya berpindah ke tempat menginap yg lebih dekat dg keramaian, Teresa dengan mengantuknya berkeras utk tetap tinggal di situ. Maka kami pun mengalah. Dan esok paginya, kembali Teresa berenaaanng dan sempat berkenalan dengan teman baru. Yah, suatu liburan yg juga menyenangkan utk Teresa tampaknya.
Oya, malam tahun baru jg tak kurang indahnya. Teresa amat menikmati pertunjukan Barongsay dan Liong. Pertunjukan ini diadakan di ballroom hotel tempat kami menginap. Ada juga demo keahlian wushu.... Lalu kami kembali ke kamar sebelum tengah malam agar Teresa tak terlalu lelah. Tapi... di kamar ternyata Teresa ikut merayakan thn baru dengan menonton kembang api yg indah melalui jendela kamar kami. Wuiiiiihhhh indah lho... serasa VVVVVIP hihihi.... Ngomong2 ini adl malam thn baru pertama bagi Teresa, dimana ia ikt bangun sampai jam 12 lewat! Hehehe... kebayang kan anak kecil umur 3,5 th melek sampe setengah satu pagi hahaha... Watta moment!
Perasaanku puas dengan liburan akhir tahun ini. Karena meski ga jauh, tapi bisa refreshing dengan pemandangan indah dari hotel ini. Juga benar ga ada beban pekerjaan. Seingat aku, sudah lama aku tidak merasakan sesantai ketika liburan kali ini. Its a very memorable one, then ;)
So, its all folks. Sekian cerita akhir tahun yg memorable utk aku dan keluarga. Semoga dengan datangnya tahun baru ini, semua yg terjadi di thn yg lalu bisa menjadi pelajaran berharga ya... sehingga setiap saat mendatang menjadi pencerahan bagi kita masing-masing amiiennnn... :D
Selasa, 08 Desember 2009
Reuni
Hari Jumat 4 Des 09 minggu kemarin akhirnya reuni sd/smp berlangsung juga. Setelah 13 thn-an berpisah akhirnya kerinduan terobati juga. Bahkan sebelum reuni berlangsung, berbagai persiapan sangat menggelitik rasa semangat utk ber-reuni. Panitia, yang sudah 3 thn mempersiapkan reuni dengan dedikasinya, tampak sibuk berseliweran mengedarkan undangan, menghubungi para peserta utk mendaftar, mengkonfirmasi bukti transferan, mencari foto-foto jadul, mengundang para guru, dan sebagainyaaa. Aku pribadi, meski tak ikut berpanitia-ria, tetap merasa excited dengan semua kesibukan ini dan tentu menikmati reuni pada hari H. Apa ya, yg membuat kita semua rata-rata (mungkin ada yg tidak merasa seperti ini) merasa excited utk ber-reuni (termasuk pertemuan lain di luar kegiatan reuni hari H itu)?
Aku ga tau persis jawaban masing-masing orang utk pertanyaan tadi. Untuk aku, aku merasa senang karena bisa mengetahui keberadaan teman-teman dari masa lalu, merasa terhubung kembali dengan masa lalu yg tentu sadar tak sadar membentuk aku yg sekarang, ingin sharing pengalaman, jika mungkin, tentang berbagai pengalaman hidup, dan sedikit ingin kembali mencicipi suasana masa dulu (yg pasti beda ya sama sikon dan tuntutan hidup sekarang). Ternyata masa lalu penting, ya... ternyata masa lalu yg sudah tak bisa terulang itu sadar tak sadar membuat sejarah diri kita masing-masing menjadi lengkap. Maka ketika kita menghadiri suatu acara reuni, kita merasa terlengkapi kembali. Merasa memiliki memori masa kecil kita, baik yg bahagia maupun duka. Dengan terhubungkan kembali dengan teman-teman dan guru-guru masa kecil kita, kita merasa di "rumah" lagi... Merasa diterima seperti apa adanya kita. Terlepas apapun peran yg kita jalankan sekarang, ada rasa aman bisa kembali ke masa lalu meski sebatas memori saja.
Tapi... mungkin ada juga yg menghindari reuni... Mungkin karena ada memori buruk yg pernah terjadi di masa lalunya sehingga justru menghindari reuni itu sendiri. Ah, untuk bagian yang ini untung aku tak mengalaminya. Meskipun ada mungkin sedikit, ternyata tidak membuatku merasa ingin menghindarinya... Ya, bersyukurlah aku. Karena mungkin sebagian kecil (atau besar? ) orang ada yang merasa tidak nyaman untuk kembali berkumpul demi memori masa lalu.
Apapun arti memori dalam suatu reuni, disana kita menemukan arti diri kita. Peranan diri kita bagi orang lain, seberapa jauh diri kita berubah seiring waktu dan seperti apakah kualitas perbedaan yang telah kita jalani. Memori, bisa dikubur seiring waktu dan sifat lupa manusia. Namun pasti akan ada saatnya ketika manusia kembali diingatkan bahwa kehidupan terdiri dari masa lalu, sekarang dan mendatang. Suatu siklus kehidupan yang memberi kesempatan untuk memupuk harapan, menciptakan rencana, mewujudkan mimpi dan terus menjadi lebih bahagia dari sebelumnya.
So guys, selamat bereuni-ria, dengan semua sosok di masa lalu dan terutama dengan memori diri kita di masa lalu. Semoga kita semakin didewasakan dengan semua pengalaman hidup kita.
Aku ga tau persis jawaban masing-masing orang utk pertanyaan tadi. Untuk aku, aku merasa senang karena bisa mengetahui keberadaan teman-teman dari masa lalu, merasa terhubung kembali dengan masa lalu yg tentu sadar tak sadar membentuk aku yg sekarang, ingin sharing pengalaman, jika mungkin, tentang berbagai pengalaman hidup, dan sedikit ingin kembali mencicipi suasana masa dulu (yg pasti beda ya sama sikon dan tuntutan hidup sekarang). Ternyata masa lalu penting, ya... ternyata masa lalu yg sudah tak bisa terulang itu sadar tak sadar membuat sejarah diri kita masing-masing menjadi lengkap. Maka ketika kita menghadiri suatu acara reuni, kita merasa terlengkapi kembali. Merasa memiliki memori masa kecil kita, baik yg bahagia maupun duka. Dengan terhubungkan kembali dengan teman-teman dan guru-guru masa kecil kita, kita merasa di "rumah" lagi... Merasa diterima seperti apa adanya kita. Terlepas apapun peran yg kita jalankan sekarang, ada rasa aman bisa kembali ke masa lalu meski sebatas memori saja.
Tapi... mungkin ada juga yg menghindari reuni... Mungkin karena ada memori buruk yg pernah terjadi di masa lalunya sehingga justru menghindari reuni itu sendiri. Ah, untuk bagian yang ini untung aku tak mengalaminya. Meskipun ada mungkin sedikit, ternyata tidak membuatku merasa ingin menghindarinya... Ya, bersyukurlah aku. Karena mungkin sebagian kecil (atau besar? ) orang ada yang merasa tidak nyaman untuk kembali berkumpul demi memori masa lalu.
Apapun arti memori dalam suatu reuni, disana kita menemukan arti diri kita. Peranan diri kita bagi orang lain, seberapa jauh diri kita berubah seiring waktu dan seperti apakah kualitas perbedaan yang telah kita jalani. Memori, bisa dikubur seiring waktu dan sifat lupa manusia. Namun pasti akan ada saatnya ketika manusia kembali diingatkan bahwa kehidupan terdiri dari masa lalu, sekarang dan mendatang. Suatu siklus kehidupan yang memberi kesempatan untuk memupuk harapan, menciptakan rencana, mewujudkan mimpi dan terus menjadi lebih bahagia dari sebelumnya.
So guys, selamat bereuni-ria, dengan semua sosok di masa lalu dan terutama dengan memori diri kita di masa lalu. Semoga kita semakin didewasakan dengan semua pengalaman hidup kita.
Kamis, 26 November 2009
Addicted Feeling
Bila anda seorg full time mom, sepertiku, maka rasanya akan ketagihan bila :
hari libur, anak ditemani papa, sehingga kita sebagai ibu2 tidak bertugas se-full biasanya.
hari biasa, anak ditemani si asisten, sehingga kita bs bebas me time atao mengejar kejar tayang kerjaan proyekan atau kegiatan lainnya yg tentu temanya 'memanjakan diri'
menunggui anak sekolah, menyaksikan si kecil mengacungkan jari setiap bu guru menanyakan sesuatu, atau mendengarkan keberanian si kecil bernyanyi di depan kelas, atau mengintip betapa sigap, mandiri serta tertibnya si kecil mengikuti instruksi bu guru mewarnai atau melipat kertas menjadi berbagai bentuk, atau betapa lincahnya si kecil berlarian serta memanjat berbagai permainan di taman bermain.
mendengarkan berbagai celotehannya kepada teman-teman berbulu dan empuk itu, atau mendengarkan keceriaan tawanya ketika dikitiki dan main 'gemes-gemesan', atau ikut asik jadi pasien si kecil sebagai dokter
ah.... semua itu bikin ketagihan, membuat pingin lagi, lagi, dan lagi... (spt iklan kan... hehe..)
seperti seorang terkasih berkata, nikmati setiap moment dg si kecil selagi bisa. karena tak akan terulang lagi di kemudian hari. sekarang ia masih lengkett dengan kita, sebagai satu2nya tmpt berlindung dan bersenang-senang. tapi di hari esoknya, akan ada banyak pihak yang semakin memperluas lingkungan sosialnya, sehingga tentu menempatkan kita, sebagai ortu di posisi yang sedikit berbeda. semoga ketika saat itu datang, kita tak merasa kehilangan karena pada masa sekarang kita sudah menikmati waktu "lengketnya" si kecil dan memahami setiap saat perkembangannya memiliki ciri khasnya masing-masing yg sangat indah utk dinikmati.
jadi selamat menikmati, selamat memuaskan rasa ketagihan kita, sebagai orangtua, sebagai orang yg beruntung karena diberikan kesempatan merasakan pengalaman yg demikian berharga.
selamat... dan mari... menikmati :D
hari libur, anak ditemani papa, sehingga kita sebagai ibu2 tidak bertugas se-full biasanya.
hari biasa, anak ditemani si asisten, sehingga kita bs bebas me time atao mengejar kejar tayang kerjaan proyekan atau kegiatan lainnya yg tentu temanya 'memanjakan diri'
menunggui anak sekolah, menyaksikan si kecil mengacungkan jari setiap bu guru menanyakan sesuatu, atau mendengarkan keberanian si kecil bernyanyi di depan kelas, atau mengintip betapa sigap, mandiri serta tertibnya si kecil mengikuti instruksi bu guru mewarnai atau melipat kertas menjadi berbagai bentuk, atau betapa lincahnya si kecil berlarian serta memanjat berbagai permainan di taman bermain.
mendengarkan berbagai celotehannya kepada teman-teman berbulu dan empuk itu, atau mendengarkan keceriaan tawanya ketika dikitiki dan main 'gemes-gemesan', atau ikut asik jadi pasien si kecil sebagai dokter
ah.... semua itu bikin ketagihan, membuat pingin lagi, lagi, dan lagi... (spt iklan kan... hehe..)
seperti seorang terkasih berkata, nikmati setiap moment dg si kecil selagi bisa. karena tak akan terulang lagi di kemudian hari. sekarang ia masih lengkett dengan kita, sebagai satu2nya tmpt berlindung dan bersenang-senang. tapi di hari esoknya, akan ada banyak pihak yang semakin memperluas lingkungan sosialnya, sehingga tentu menempatkan kita, sebagai ortu di posisi yang sedikit berbeda. semoga ketika saat itu datang, kita tak merasa kehilangan karena pada masa sekarang kita sudah menikmati waktu "lengketnya" si kecil dan memahami setiap saat perkembangannya memiliki ciri khasnya masing-masing yg sangat indah utk dinikmati.
jadi selamat menikmati, selamat memuaskan rasa ketagihan kita, sebagai orangtua, sebagai orang yg beruntung karena diberikan kesempatan merasakan pengalaman yg demikian berharga.
selamat... dan mari... menikmati :D
Senin, 23 November 2009
Sekarang Aku Tau
Sekarang aku tau
kenapa :
kebanyakan ibu2 memilih memotong rambutnya pendek atau kalo yang rambutnya panjang ya dijepit ke atas
karena butuh kepraktisan dan ga ada banyak waktu utk menata rambutnya, mengingat ada si kecil dan si suami yang membutuhkan tenaga dan waktunya
kebanyakan ibu2 memilih menggunakan tas berukuran besar
karena perlu selalu menyediakan berbagai keperluan si kecil dimanapun kapanpun
kebanyakan ibu2 cerewet
karena butuh katarsis dan tuntutan peran sepertinya hihihi...
kebanyakan ibu2 memilik badan yg berisi
karena pasti jadi tempat pemberhentian terakhir bagi makanan anaknya yang ga abis, daripada mubazir... dan juga ga ada banyak waktu utk olahraga atau atur diet. malah kadang2 makanan bisa jadi penghibur...
kebanyakan ibu2 memilih sepatu berhak pendek/teplek sama sekali
karena memiliki mobilitas yang tinggi dan menghindari resiko penyakit syaraf serta tulang akibat high heels...
kebanyakan ibu2 males beraktivitas serius di luar area rumah tangga
karena urusan rumah tangga udah cukup bikin pusiingggg....
kebanyakan ibu2 suka membandingkan anak2 mereka
karena keberhasilan seorang anak menggambarkan image ibunya, keberhasilan anak adl titik ukur keberhasilan seorang ibu
kebanyakan ibu2 suka berdandan yang kadang kurang sip gitu
karena kurang waktu belanja belenji utk dirinya sendiri, begitu sampe pasar/supermarket yang kepikiran, masak apa ya besok or mana ya baju sekolahan si dede, etc etc...
well, ga nyalahin siapa2 utk semua keadaan ibu2 itu
hanya, semakin tau aja, bagaimana perputaran dan perjuangan dunia ibu2 :D
kenapa :
kebanyakan ibu2 memilih memotong rambutnya pendek atau kalo yang rambutnya panjang ya dijepit ke atas
karena butuh kepraktisan dan ga ada banyak waktu utk menata rambutnya, mengingat ada si kecil dan si suami yang membutuhkan tenaga dan waktunya
kebanyakan ibu2 memilih menggunakan tas berukuran besar
karena perlu selalu menyediakan berbagai keperluan si kecil dimanapun kapanpun
kebanyakan ibu2 cerewet
karena butuh katarsis dan tuntutan peran sepertinya hihihi...
kebanyakan ibu2 memilik badan yg berisi
karena pasti jadi tempat pemberhentian terakhir bagi makanan anaknya yang ga abis, daripada mubazir... dan juga ga ada banyak waktu utk olahraga atau atur diet. malah kadang2 makanan bisa jadi penghibur...
kebanyakan ibu2 memilih sepatu berhak pendek/teplek sama sekali
karena memiliki mobilitas yang tinggi dan menghindari resiko penyakit syaraf serta tulang akibat high heels...
kebanyakan ibu2 males beraktivitas serius di luar area rumah tangga
karena urusan rumah tangga udah cukup bikin pusiingggg....
kebanyakan ibu2 suka membandingkan anak2 mereka
karena keberhasilan seorang anak menggambarkan image ibunya, keberhasilan anak adl titik ukur keberhasilan seorang ibu
kebanyakan ibu2 suka berdandan yang kadang kurang sip gitu
karena kurang waktu belanja belenji utk dirinya sendiri, begitu sampe pasar/supermarket yang kepikiran, masak apa ya besok or mana ya baju sekolahan si dede, etc etc...
well, ga nyalahin siapa2 utk semua keadaan ibu2 itu
hanya, semakin tau aja, bagaimana perputaran dan perjuangan dunia ibu2 :D
Kamis, 01 Oktober 2009
Lil Things
Aku senang diajak Mama main ke mall atau kemana saja
Di sana aku pasti meminta Mama bermain ke arena bermain
Aku senang bermain segala macam
mobil-mobilan
kuda-kudaan
prosotan
ayunan
enjot-enjotan
trampolin
loncat2an di atas bangunan balon
main drum
mainan koin
dan segalaaaa macammm mainan lainnya
Mama dan Papa dg sabar menungguiku bermain
Ketika lelah dan kantuk melanda, aku tetap ingin bermain
Tak mau kehilangan semua kesenangan di depan mata
Tapi, Mama dan Papa mengajakku pulang
Beristirahat
Pada akhir hari
bukan berbagai permainan itu yg aku rindukan
tapi...
kitikan dan pelukan Mama
cerita dan tawa Papa
itu yg selalu aku nantikan
Tak usah susah-susah membawaku ke arena hiburan di ujung dunia, Ma&Pa
Karena hanya bersama kasih sayang Mama dan Papalah aku merasa bahagia
*inspired by Teresa*
Setelah aku perhatikan, Teresa seneng sm hal2 sederhana & kecil, sperti main kitik2an, loncat2an di kasur, nonton vcd, main bola, ngobrol, menggambar, prosotan, ayunan, didongengi (baca buku atau cerita boneka).... dan lainnya. Memang hal2 kecil sering kali membawa arti besar, daripada hal2 besar yg kadang kala malah kurang berkesan.Seperti kata orang bijak, "setialah pada hal-hal kecil..."

Di sana aku pasti meminta Mama bermain ke arena bermain
Aku senang bermain segala macam
mobil-mobilan
kuda-kudaan
prosotan
ayunan
enjot-enjotan
trampolin
loncat2an di atas bangunan balon
main drum
mainan koin
dan segalaaaa macammm mainan lainnya
Mama dan Papa dg sabar menungguiku bermain
Ketika lelah dan kantuk melanda, aku tetap ingin bermain
Tak mau kehilangan semua kesenangan di depan mata
Tapi, Mama dan Papa mengajakku pulang
Beristirahat
Pada akhir hari
bukan berbagai permainan itu yg aku rindukan
tapi...
kitikan dan pelukan Mama
cerita dan tawa Papa
itu yg selalu aku nantikan
Tak usah susah-susah membawaku ke arena hiburan di ujung dunia, Ma&Pa
Karena hanya bersama kasih sayang Mama dan Papalah aku merasa bahagia
*inspired by Teresa*
Setelah aku perhatikan, Teresa seneng sm hal2 sederhana & kecil, sperti main kitik2an, loncat2an di kasur, nonton vcd, main bola, ngobrol, menggambar, prosotan, ayunan, didongengi (baca buku atau cerita boneka).... dan lainnya. Memang hal2 kecil sering kali membawa arti besar, daripada hal2 besar yg kadang kala malah kurang berkesan.Seperti kata orang bijak, "setialah pada hal-hal kecil..."

Rabu, 30 September 2009
Casting
Suatu siang, aku menuruni mobil kami yang berdebu.
"Ayo, Nak. Nanti jangan lupa senyum ya di depan kamera. Terus nanti kalo disuruh sama tante atau Om-nya, nurut ya... Senyum dan da-dah ke kamera. Oke...?" kataku memberikan wejangan terakhir kepada si cantik berkuncir satu, anak semata wayangku itu.
"Iya, Mah..." kata si cantik patuh.
Sampai disana, sudah ada Mbak berbaju ungu menyuruh kami absen. Dengan agak ketus ia menyuruh kami duduk menunggu giliran sesi pemotretan dan pengambilan adegan dengan menaiki odong-odong di halaman depan.
Aku mengintip dan melihat studio foto agak kosong. Aku nekat ke dalam bersama si cantikku.
"Mbak, anak saya bisa dipotret sekarang?" kataku cuek.
"Ooo.. Mbak dari mana ya? dari agen mana? " jawabnya dengan tanya juga, sambil meneliti kami berdua dari kepala ke ujung kaki.
"Kami diminta datang oleh Mbak Vivi. Kemarin bertemu di sebuah mall." aku berusaha menjelaskan.
"Ooo... oke... coba aja masuk ke dalam studio, tunggu giliran sesudah anak itu." ia mempersilahkan kami masuk.
Sesi pemotretan berlangsung singkat dan lancar. Si cantik tidak kesulitan bergaya sedikit di depan kamera, bahkan direkam dengan mengucapkan perkenalan singkat.
Lalu sesi disyut kamera di halaman depan dengan menaiki odong-odong, bersama tiga anak lainnya.
Anakku standar. Tidak tampak banci kamera, tapi juga tidak kaku. Dan juga tidak bergaya aneh-aneh. Anak perempuan di depan anakku tampak sangat terlatih, tersenyum tampak gigi dan menggoyang-goyangkan kepala ke kanan-kiri tak henti mengikuti lagu odong-odong. Anak lelaki di sebelahnya, cukup ganteng dan berisi. Namun tak henti mengedipkan salah satu matanya. Entah mengapa. Kedua orangtua anak lelaki itu beserta kakaknya tak henti mencoba menghentikan kebiasaannya mengedipkan mata itu. Di belakangnya, di sebelah anakku, ada anak perempuan yg sama standarnya dengan anakku. Namun sedikit lebih cemberut.
Lagu berganti-ganti. Beberapa lagu yg familiar bagi anakku. Maka ia sibuk mengikuti kata demi kata lagu itu. Dan anak perempuan di sebelahnya mengikuti kegiatan anakku ini. Akibatnya, instruksi tante sutradara tak terlalu diikuti, yaitu untuk berteriak Horeee dengan gembira sambil mengangkat tangan ke atas. Kadang diikuti kadang tidak. Yang konsisten dan responsif ssi tuntutan sutradara hanya si anak perempuan di depan anakku tadi.
Setelah itu masih ada satu adegan ternyata. Di tengah siang bolong, empat anak balita itu diminta berlarian. Sementara si anak yg baik aktingnya tadi (yg tadi duduk di depan anakku) diminta berakting sedih. Spontan anak tsb menolak.
"Aku ga seneng disuruh sedih..." katanya protes kepada Ibunya.
Dibujuklah ia agar skenario terpenuhi, dengan es krim. Tapi masih belum lancar. Yahh... namanya juga anak2 ya... Maka adegannya dibuat terpenggal. Yang lari dulu, baru yg sedih. Sekali lagi, anakku tak mengalami kesulitan memenuhi peranannya berlari ke arah odong-odong. Karena si Papa ada di ujung menyuruhnya lari ssi aba-aba sutradara.
Maka saatnya kami pulang
Mbak Vivi, yg dari tadi tampak sedikit bangga akan kehadiran anakku, mengucapkan terima kasih dan berjanji akan mengabari kami.
Dalam hati, spontan, terbersit harapan supaya adegan atau usaha semacam tadi berhenti disini. Kurang sreg rasanya utk kembali menjalani proses tadi, meski anakku tampak lancar-lancar saja menjalaninya.
Maka dengan lega hati kami meninggalkan lokasi. Dan mencari es krim, memenuhi rengekan si cantik kecilku.
Setelah makan es krim di mobil, ia pun tertidur. Lelah karena pengalaman baru tadi dan hawa panas yang memang ckp menyesakkan.
***
Di mobil, aku dan suamiku sepakat, akan mengutamakan sekolah dan pengembangan diri lainnya utk anakku. Pengalaman tadi untuk menambah wawasan saja. Tak perlu ngoyo untuk mengejar "pengembangan diri" di bidang entertainment. Dunia yg dari awal memang kurang cocok bagiku pribadi. Ada bbrp alasan mengapa aku tak menyukai dunia yg satu itu. Misalnya, waktu aktivitas yg kadang tak menentu, kurang 'mengajarkan' nilai penting dari suatu proses atau usaha sebelum bisa tampil secara publik, instan, dll.
Buat anakku? Ya, tampaknya dia enjoy aja mengikuti proses casting tadi. Tapi, ga kebayang dan ga mau lah jalanin lagi secara lebih sering proses seperti itu lagi. Melelahkan utk anak seusianya. Lebih baik diisi dengan bermain, bersenang-senang, mengembangkan potensi lain, berteman, bersekolah...
"Ayo, Nak. Nanti jangan lupa senyum ya di depan kamera. Terus nanti kalo disuruh sama tante atau Om-nya, nurut ya... Senyum dan da-dah ke kamera. Oke...?" kataku memberikan wejangan terakhir kepada si cantik berkuncir satu, anak semata wayangku itu.
"Iya, Mah..." kata si cantik patuh.
Sampai disana, sudah ada Mbak berbaju ungu menyuruh kami absen. Dengan agak ketus ia menyuruh kami duduk menunggu giliran sesi pemotretan dan pengambilan adegan dengan menaiki odong-odong di halaman depan.
Aku mengintip dan melihat studio foto agak kosong. Aku nekat ke dalam bersama si cantikku.
"Mbak, anak saya bisa dipotret sekarang?" kataku cuek.
"Ooo.. Mbak dari mana ya? dari agen mana? " jawabnya dengan tanya juga, sambil meneliti kami berdua dari kepala ke ujung kaki.
"Kami diminta datang oleh Mbak Vivi. Kemarin bertemu di sebuah mall." aku berusaha menjelaskan.
"Ooo... oke... coba aja masuk ke dalam studio, tunggu giliran sesudah anak itu." ia mempersilahkan kami masuk.
Sesi pemotretan berlangsung singkat dan lancar. Si cantik tidak kesulitan bergaya sedikit di depan kamera, bahkan direkam dengan mengucapkan perkenalan singkat.
Lalu sesi disyut kamera di halaman depan dengan menaiki odong-odong, bersama tiga anak lainnya.
Anakku standar. Tidak tampak banci kamera, tapi juga tidak kaku. Dan juga tidak bergaya aneh-aneh. Anak perempuan di depan anakku tampak sangat terlatih, tersenyum tampak gigi dan menggoyang-goyangkan kepala ke kanan-kiri tak henti mengikuti lagu odong-odong. Anak lelaki di sebelahnya, cukup ganteng dan berisi. Namun tak henti mengedipkan salah satu matanya. Entah mengapa. Kedua orangtua anak lelaki itu beserta kakaknya tak henti mencoba menghentikan kebiasaannya mengedipkan mata itu. Di belakangnya, di sebelah anakku, ada anak perempuan yg sama standarnya dengan anakku. Namun sedikit lebih cemberut.
Lagu berganti-ganti. Beberapa lagu yg familiar bagi anakku. Maka ia sibuk mengikuti kata demi kata lagu itu. Dan anak perempuan di sebelahnya mengikuti kegiatan anakku ini. Akibatnya, instruksi tante sutradara tak terlalu diikuti, yaitu untuk berteriak Horeee dengan gembira sambil mengangkat tangan ke atas. Kadang diikuti kadang tidak. Yang konsisten dan responsif ssi tuntutan sutradara hanya si anak perempuan di depan anakku tadi.
Setelah itu masih ada satu adegan ternyata. Di tengah siang bolong, empat anak balita itu diminta berlarian. Sementara si anak yg baik aktingnya tadi (yg tadi duduk di depan anakku) diminta berakting sedih. Spontan anak tsb menolak.
"Aku ga seneng disuruh sedih..." katanya protes kepada Ibunya.
Dibujuklah ia agar skenario terpenuhi, dengan es krim. Tapi masih belum lancar. Yahh... namanya juga anak2 ya... Maka adegannya dibuat terpenggal. Yang lari dulu, baru yg sedih. Sekali lagi, anakku tak mengalami kesulitan memenuhi peranannya berlari ke arah odong-odong. Karena si Papa ada di ujung menyuruhnya lari ssi aba-aba sutradara.
Maka saatnya kami pulang
Mbak Vivi, yg dari tadi tampak sedikit bangga akan kehadiran anakku, mengucapkan terima kasih dan berjanji akan mengabari kami.
Dalam hati, spontan, terbersit harapan supaya adegan atau usaha semacam tadi berhenti disini. Kurang sreg rasanya utk kembali menjalani proses tadi, meski anakku tampak lancar-lancar saja menjalaninya.
Maka dengan lega hati kami meninggalkan lokasi. Dan mencari es krim, memenuhi rengekan si cantik kecilku.
Setelah makan es krim di mobil, ia pun tertidur. Lelah karena pengalaman baru tadi dan hawa panas yang memang ckp menyesakkan.
***
Di mobil, aku dan suamiku sepakat, akan mengutamakan sekolah dan pengembangan diri lainnya utk anakku. Pengalaman tadi untuk menambah wawasan saja. Tak perlu ngoyo untuk mengejar "pengembangan diri" di bidang entertainment. Dunia yg dari awal memang kurang cocok bagiku pribadi. Ada bbrp alasan mengapa aku tak menyukai dunia yg satu itu. Misalnya, waktu aktivitas yg kadang tak menentu, kurang 'mengajarkan' nilai penting dari suatu proses atau usaha sebelum bisa tampil secara publik, instan, dll.
Buat anakku? Ya, tampaknya dia enjoy aja mengikuti proses casting tadi. Tapi, ga kebayang dan ga mau lah jalanin lagi secara lebih sering proses seperti itu lagi. Melelahkan utk anak seusianya. Lebih baik diisi dengan bermain, bersenang-senang, mengembangkan potensi lain, berteman, bersekolah...
Selasa, 29 September 2009
Merdeka!
(Posted on FB Notes at August 17th 09)
17 Agustus
hari sakral tampaknya
tapi apa benar sakral?
tentu... utk para pejuang, dari yang elite sampe yg di barisan bawah
tapi... utk para muda (kita...) di masa skarang? bagaimana kemerdekaan itu dihayati?
rata-rata dari kita sudah merasakan kebebasan sejak lahir
mendapat semua kebutuhan hidup mendasar
minum, makan, sandang, papan
bahkan banyak yg dari kita (yg tergolong beruntung dibanding lapisan masy. lain) yg bisa rutin berrekreasi, menghibur diri, relaks...
tapi... di luar kelompok rata-rata (meski data statistik menunjukkan kenyataan lain pastinya...) banyaaakk yg sejak lahir sudah mengenal apa yg namanya kemiskinan
miskin ekonomi
yg hampir otomatis membawa kemiskinan lain
miskin pendidikan
miskin kesehatan
miskin .... dsb...
ah... jadi bertanya, betulkah negara ini sudah Merdeka dalam arti yg sesungguhnya?
betul! kita bebas berpendapat tanpa takut dibungkam
(apakah betul? krn kemarin masih kudengar proses pengadilan si Ibu yg menulis surat mengkritik salah satu rumah sakit ituh, masih menggantung entah sampai kapan...)
betul! kita bebas untuk memilih apa yg kita inginkan tanpa disetir keinginan 'penjajah'
(apa betul begitu? krn setiap hari kita terdesak oleh sejuta tawaran konsumerisme yg menjajah pola pikir dan gaya hidup kita, sejumlah tawaran media/para pemilik modal yg tak sehat, sadar atau tak sadar...)
betul! kita bebas utk berjalan kemana-mana... tanpa ada ancaman yg berarti...
(namun apakah betul begitu? mengingat polusi dimana-mana, mengingat premanisme masih terus ada, mengingat ancaman moral masih jg mengerogoti..)
betul! keadilan sudah bisa dituntut dalam sebuah sistem yg siap digunakan
(tapi... masih terus kudengar adanya tragedi kemanusiaan yg tak berpangkal meski menelan jiwa yg tak bersalah, masih ada mafia para penegak hukum, dan sejuta pe-er lainnya..)
eits... itu hanya sejumlah pertanyaan... sejumlah refleksi singkat yg bisa ditambahkan oleh siapapun, tentang apapun lagi...
tidak bermaksud pesimis
hanya bersikap waspada
tdk mau terbuai dg keadaan damai sentosa yg berhembus
sebab nyatanya masih banyak sisi-sisi dan detil-detil yg harus dibangun bersama
dengan semua kondisi itu,
Aku cinta Indonesia... sebuah negri unik tak ada duanya...
utk mencintai sesuatu.. bukan berarti menyoroti kekurangan
tapi, berusaha bertumbuh bersama, agar terus menerus menjadi dewasa...
berusaha 'membangun' dari dalam
bukan merongrong dari luar
mari kita bernyanyi dengan bangga (dengan lantang or dlm hati saja, yg penting penghayatannya...)
"Hiduplah tanahku, hiduplah negriku
bangsaku, rakyatku, semuanya
bangunlah jiwanya, bangunlah badannya
untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya, merdeka merdeka
tanahku, negriku, yang kucinta
Indonesia Raya, merdeka merdeka
hiduplah Indonesia Raya!"
Dirgahayu negriku... negri sejuta masyarakat...
meski bernoda bajumu, namun hatimu akan terus dijaga sejuta tangan berbakti
meski lusuh tampangmu, namun jiwamu tetap akan terbakar berjuta semangat perjuangan hidup tak henti
17 Agustus
hari sakral tampaknya
tapi apa benar sakral?
tentu... utk para pejuang, dari yang elite sampe yg di barisan bawah
tapi... utk para muda (kita...) di masa skarang? bagaimana kemerdekaan itu dihayati?
rata-rata dari kita sudah merasakan kebebasan sejak lahir
mendapat semua kebutuhan hidup mendasar
minum, makan, sandang, papan
bahkan banyak yg dari kita (yg tergolong beruntung dibanding lapisan masy. lain) yg bisa rutin berrekreasi, menghibur diri, relaks...
tapi... di luar kelompok rata-rata (meski data statistik menunjukkan kenyataan lain pastinya...) banyaaakk yg sejak lahir sudah mengenal apa yg namanya kemiskinan
miskin ekonomi
yg hampir otomatis membawa kemiskinan lain
miskin pendidikan
miskin kesehatan
miskin .... dsb...
ah... jadi bertanya, betulkah negara ini sudah Merdeka dalam arti yg sesungguhnya?
betul! kita bebas berpendapat tanpa takut dibungkam
(apakah betul? krn kemarin masih kudengar proses pengadilan si Ibu yg menulis surat mengkritik salah satu rumah sakit ituh, masih menggantung entah sampai kapan...)
betul! kita bebas untuk memilih apa yg kita inginkan tanpa disetir keinginan 'penjajah'
(apa betul begitu? krn setiap hari kita terdesak oleh sejuta tawaran konsumerisme yg menjajah pola pikir dan gaya hidup kita, sejumlah tawaran media/para pemilik modal yg tak sehat, sadar atau tak sadar...)
betul! kita bebas utk berjalan kemana-mana... tanpa ada ancaman yg berarti...
(namun apakah betul begitu? mengingat polusi dimana-mana, mengingat premanisme masih terus ada, mengingat ancaman moral masih jg mengerogoti..)
betul! keadilan sudah bisa dituntut dalam sebuah sistem yg siap digunakan
(tapi... masih terus kudengar adanya tragedi kemanusiaan yg tak berpangkal meski menelan jiwa yg tak bersalah, masih ada mafia para penegak hukum, dan sejuta pe-er lainnya..)
eits... itu hanya sejumlah pertanyaan... sejumlah refleksi singkat yg bisa ditambahkan oleh siapapun, tentang apapun lagi...
tidak bermaksud pesimis
hanya bersikap waspada
tdk mau terbuai dg keadaan damai sentosa yg berhembus
sebab nyatanya masih banyak sisi-sisi dan detil-detil yg harus dibangun bersama
dengan semua kondisi itu,
Aku cinta Indonesia... sebuah negri unik tak ada duanya...
utk mencintai sesuatu.. bukan berarti menyoroti kekurangan
tapi, berusaha bertumbuh bersama, agar terus menerus menjadi dewasa...
berusaha 'membangun' dari dalam
bukan merongrong dari luar
mari kita bernyanyi dengan bangga (dengan lantang or dlm hati saja, yg penting penghayatannya...)
"Hiduplah tanahku, hiduplah negriku
bangsaku, rakyatku, semuanya
bangunlah jiwanya, bangunlah badannya
untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya, merdeka merdeka
tanahku, negriku, yang kucinta
Indonesia Raya, merdeka merdeka
hiduplah Indonesia Raya!"
Dirgahayu negriku... negri sejuta masyarakat...
meski bernoda bajumu, namun hatimu akan terus dijaga sejuta tangan berbakti
meski lusuh tampangmu, namun jiwamu tetap akan terbakar berjuta semangat perjuangan hidup tak henti
Sebuah Adegan Siang Tadi
Di sebuah restoran cepat saji, seorang anak balita chubby berkulit putih bermata sipit ditemani dua embak pengasuhnya (membuat gw bertanya2,kenapa satu anak perlu ditemani dua orang mbak?). ternyata mereka menemani si anak bermain di playground restoran itu tanpa membeli produk restoran tersebut (udah biasa kali yee...).
Anak : (langsung berlari ke arah perosotan, membuka sendal dengan melemparkannya tanpa peduli kemana sendal itu melayang) ---> terlihat nilai kerapihan yg dibiasakan oleh pengasuh/ortu
Mbak 1 : (ikut naik tangga dan meluncur lewat prosotan) --> bikin gw melongo
Mbak 2 : (menunggui si anak di ujung perosotan, sambil kadang kala menggendong anak yg tiba2 loncat ke tempat penyewaan mobil maenan berbatere di dekat restoran) ---> gendongan menjadi kebiasaan utk mengarahkan anak rupanya, bkn penjelasan
Mbak 1 & 2 : (sibuk membetulkan ikatan rambut mereka, atau foto2 dg HP, sambil mengajak si anak berpose... "action" kata mereka kepada si anak...) --> yaaa... efek konsumerisme HP jaman sekarang apa mau dikata...
(bahkan foto2 tanpa peduli ada anak gw yg pengen naik perosotan) --> krn males menegur, gw ajak anak gw menjauh dulu sementara...
Anak : "orang gila... orang gila..." (tiba2 mengucapkan kata2 ini kepada Mbak 2)
Mbak 2 : "bego...kurang asem... " (langsung berekspresi gemas dan menunggui si anak di ujung perosotan sambil mengganggunya, seakan2 membalas teriakan si anak)
--> ketebak dari siapa si anak bisa bicara demikian...
Kritiikkkk mulu ya gw... tapi... jadi, kebayang kan... apa aja bisa terjadi ketika anak dititipkan pada si pengasuh....? mulai dari kebiasaan yg kurang baik (kerapihan, kata2 kasar) sampai komunikasi yg buruk (mengangkat anak langsung tanpa penjelasan verbal, as if si anak ga ngerti or bukan manusia yg bisa diajak bicara... menyedihkan...)...
Anak : (langsung berlari ke arah perosotan, membuka sendal dengan melemparkannya tanpa peduli kemana sendal itu melayang) ---> terlihat nilai kerapihan yg dibiasakan oleh pengasuh/ortu
Mbak 1 : (ikut naik tangga dan meluncur lewat prosotan) --> bikin gw melongo
Mbak 2 : (menunggui si anak di ujung perosotan, sambil kadang kala menggendong anak yg tiba2 loncat ke tempat penyewaan mobil maenan berbatere di dekat restoran) ---> gendongan menjadi kebiasaan utk mengarahkan anak rupanya, bkn penjelasan
Mbak 1 & 2 : (sibuk membetulkan ikatan rambut mereka, atau foto2 dg HP, sambil mengajak si anak berpose... "action" kata mereka kepada si anak...) --> yaaa... efek konsumerisme HP jaman sekarang apa mau dikata...
(bahkan foto2 tanpa peduli ada anak gw yg pengen naik perosotan) --> krn males menegur, gw ajak anak gw menjauh dulu sementara...
Anak : "orang gila... orang gila..." (tiba2 mengucapkan kata2 ini kepada Mbak 2)
Mbak 2 : "bego...kurang asem... " (langsung berekspresi gemas dan menunggui si anak di ujung perosotan sambil mengganggunya, seakan2 membalas teriakan si anak)
--> ketebak dari siapa si anak bisa bicara demikian...
Kritiikkkk mulu ya gw... tapi... jadi, kebayang kan... apa aja bisa terjadi ketika anak dititipkan pada si pengasuh....? mulai dari kebiasaan yg kurang baik (kerapihan, kata2 kasar) sampai komunikasi yg buruk (mengangkat anak langsung tanpa penjelasan verbal, as if si anak ga ngerti or bukan manusia yg bisa diajak bicara... menyedihkan...)...
Perceraian Itu
Pagi tadi sekilas menyaksikan infotainment. Lagi-lagi, berita klise (so sorry to say its cliche) ttg artis : perceraian.Berita yg sll membuat bete.
Perceraian.Perpisahan, dalam konteks pernikahan tentu. Kata orang, ada pertemuan, ada perpisahan. Tapi saya kira (seharusnya) tidak ada istilah itu dalam pernikahan. Katakan aku naif. Tapi, buatku tidak ada kata itu dalam kamusku. Katakan aku tak empatik, tapiii apapun itu, niatkanlah dan jangan biarkan pemikiran itu memasuki pernikahan kita... maka semua daya upaya pasti akan menuju kesana...Katakan aku bodoh, tapi setau aku sedikit saja kita beri celah pada pemikiran negatif (perceraian) maka makin lama angin berhembus makin kencan, merobohkan segala sisa dinding pertahanan. Katakan aku kaku, tapi, dogma agama yg aku pegang, sungguh membantuku menetapkan hati mempertahankan komitmen.
Katakan aku berlebihan, tapi sungguh, tak ada yg bisa diberikan utk healing luka anak yg mengalami perceraian...
Memang,apa yg kutulis sebagian berdasar hanya pada ketakutan dan keprihatinan. Ketakutan akan menghadapi masalah yg sama dengan para pasangan yg bercerai. Keprihatinan akan nasib anak2 yg mengalami peceraian dan juga (mungkin) luka yg dialami masing-masing pasangan. Entahlah... masih buta aku dalam ranah ini. Dan terus berharap buta, sehingga tak harus memikirkan pilihan itu.
Ah, ini hanya sekedar notes pribadi. Tak bermaksud menyalahkan siapapun. Apalagi mereka yg telah memutuskan hal itu. Aku percaya apa yg sudah diputuskan sdh dipikirkan konsekuensinya secara matang... Tapi, utk yg blm "mengarah" ke sana, mari sama2 berusaha... jgn sampai angin negatif itu berhembus sedikit saja dalam pikiran kita. (Amin)
Perceraian.Perpisahan, dalam konteks pernikahan tentu. Kata orang, ada pertemuan, ada perpisahan. Tapi saya kira (seharusnya) tidak ada istilah itu dalam pernikahan. Katakan aku naif. Tapi, buatku tidak ada kata itu dalam kamusku. Katakan aku tak empatik, tapiii apapun itu, niatkanlah dan jangan biarkan pemikiran itu memasuki pernikahan kita... maka semua daya upaya pasti akan menuju kesana...Katakan aku bodoh, tapi setau aku sedikit saja kita beri celah pada pemikiran negatif (perceraian) maka makin lama angin berhembus makin kencan, merobohkan segala sisa dinding pertahanan. Katakan aku kaku, tapi, dogma agama yg aku pegang, sungguh membantuku menetapkan hati mempertahankan komitmen.
Katakan aku berlebihan, tapi sungguh, tak ada yg bisa diberikan utk healing luka anak yg mengalami perceraian...
Memang,apa yg kutulis sebagian berdasar hanya pada ketakutan dan keprihatinan. Ketakutan akan menghadapi masalah yg sama dengan para pasangan yg bercerai. Keprihatinan akan nasib anak2 yg mengalami peceraian dan juga (mungkin) luka yg dialami masing-masing pasangan. Entahlah... masih buta aku dalam ranah ini. Dan terus berharap buta, sehingga tak harus memikirkan pilihan itu.
Ah, ini hanya sekedar notes pribadi. Tak bermaksud menyalahkan siapapun. Apalagi mereka yg telah memutuskan hal itu. Aku percaya apa yg sudah diputuskan sdh dipikirkan konsekuensinya secara matang... Tapi, utk yg blm "mengarah" ke sana, mari sama2 berusaha... jgn sampai angin negatif itu berhembus sedikit saja dalam pikiran kita. (Amin)
Campur Tangan
Sejak bayi, manusia tak bisa mengelakkan campur tangan orang lain dalam hidupnya. Dari hal yang paling sederhana, seperti pemberian nama... seorang bayi sudah diberikan nama, yg tak bisa dipilihnya, oleh orang tua atau kerabat dekat lainnya. Nama itu akan melekat seumur hidupnya. Sepele memang tampaknya, sebuah nama itu. Hanya bila dipikir lebih lanjut, nama adalah label utk kita sandang seumur hidup kita. Dan tentu tidak lepas dari arti dari nama yang tersurat dalam nama sang bayi. Bayi akan tumbuh dan bertambah usia dari tahun ke tahun. Tanpa nama, bayi kehilangan identitasnya. Jadi pemberian nama adalah logis menurut saya, karena memberikan identitas pertama pada si anak. Misalnya,pemberian nama keluarga kepada bayi, maka bayi memiliki identitas bahwa ia adalah anggota keluarga si A. Pemberian nama pada bayi berdasarkan nama tokoh (agama maupun tokoh umum lainnya), maka bayi diberikan harapan atau teladan hidup yang baik. Nama-nama lainnya, yang mungkin berakar budaya atau tradisi tertentu, juga akan turut membawa implikasi akar asal usul si bayi. Dengan nama, seorang individu akan tampil memperkenalkan dirinya dan juga lingkungan asalnya.
Pemberian nama ini mungkin telah terjadi entah dari kapan, mungkin sejak peradaban manusia terjadi (masih butuh pencarian data lagi ttg hal ini). Dan akan terus berulang, saya rasa, sampai kapanpun. Bila diartikan secara positif, tentu amatlah positif. Mengingat dengan nama, seperti yg dijelaskan di atas, sso mendapatkan identitas (awal)nya. Dan pembentukan identitas tentu akan terus berproses sepanjang hidupnya, misalnya melalui berbagai karya yang dihasilkan.
Secara negatif, atau sisi sebaliknya... dapat dikatakan bahwa adanya peristiwa pemberian nama ini menunjukkan tidak dapatnya manusia mengelakkan campur tangan manusia lainnya ke dalam kehidupan kita. Seperti yang selalu digaungkan, manusia adl makhluk sosial. Dan itu telah ditegaskan sejak lahir, dari penamaan oleh orang tua sampai proses kelahiran yang dibantu staff medis serta peranan orang tua juga tentunya, terutama Ibu.
Selanjutnya si bayi terus bertumbuh, tentu dengan peranan pengasuhan dari berbagai pihak, dengan orang tua yg berperan utama. Lalu ketika memasuki usia sekolah, anak belajar menerima campur tangan dari para guru dan pendidik lainnya. Ketika dewasa, ia akan mulai belajar menerima campur tangan dari teman, pacar, organisasi, rekan-rekan kerja, atasan dalam dunia kerja dan sebagainya.
Hmmm... jadi, bila mulai merasa, kok saya tidak bisa hidup tanpa orang lain? atau sebaliknya, saya ingin hidup tanpa orang lain? Pikirkan lagi, proses yg telah kita jalani dari bayi sampai dewasa, sekarang ini. Apakah memang mungkin kita hidup tanpa orang lain? (misalnya pun, kita hidup di hutan? hehehe....)
Notes ini hanya sekedar pemikiran, yg muncul ketika saya menghadapi sejumlah nama siswa/i dalam laporan yg harus saya selesaikan... :)
Pemberian nama ini mungkin telah terjadi entah dari kapan, mungkin sejak peradaban manusia terjadi (masih butuh pencarian data lagi ttg hal ini). Dan akan terus berulang, saya rasa, sampai kapanpun. Bila diartikan secara positif, tentu amatlah positif. Mengingat dengan nama, seperti yg dijelaskan di atas, sso mendapatkan identitas (awal)nya. Dan pembentukan identitas tentu akan terus berproses sepanjang hidupnya, misalnya melalui berbagai karya yang dihasilkan.
Secara negatif, atau sisi sebaliknya... dapat dikatakan bahwa adanya peristiwa pemberian nama ini menunjukkan tidak dapatnya manusia mengelakkan campur tangan manusia lainnya ke dalam kehidupan kita. Seperti yang selalu digaungkan, manusia adl makhluk sosial. Dan itu telah ditegaskan sejak lahir, dari penamaan oleh orang tua sampai proses kelahiran yang dibantu staff medis serta peranan orang tua juga tentunya, terutama Ibu.
Selanjutnya si bayi terus bertumbuh, tentu dengan peranan pengasuhan dari berbagai pihak, dengan orang tua yg berperan utama. Lalu ketika memasuki usia sekolah, anak belajar menerima campur tangan dari para guru dan pendidik lainnya. Ketika dewasa, ia akan mulai belajar menerima campur tangan dari teman, pacar, organisasi, rekan-rekan kerja, atasan dalam dunia kerja dan sebagainya.
Hmmm... jadi, bila mulai merasa, kok saya tidak bisa hidup tanpa orang lain? atau sebaliknya, saya ingin hidup tanpa orang lain? Pikirkan lagi, proses yg telah kita jalani dari bayi sampai dewasa, sekarang ini. Apakah memang mungkin kita hidup tanpa orang lain? (misalnya pun, kita hidup di hutan? hehehe....)
Notes ini hanya sekedar pemikiran, yg muncul ketika saya menghadapi sejumlah nama siswa/i dalam laporan yg harus saya selesaikan... :)
Feel Blessed
Sebelum kembali tenggelam dalam laporan, ingin rasanya share perasaan "terberkati" yg akhir2 ini muncul dlm hati...
TERESA
Teresa mjd bukti nyata cinta Dia yg disana utk hidupku. Banyak hal yang aku pelajari dari kehadiran Teresa... spt yg pernah aku tulis di notes sblmnya, mjd ortu membawa byk perubahan, dari yg kecil sampai hal yg besar. Yg kecil2 misalnya, jadwal sehari2, gaya hidup, dll... Hal yg besar misalnya, pemilihan profesi, pengembangan kesabaran, disiplin, lebih concern akan kesehatan, dll...
Setiap saat bersama Teresa, aku merasakan ada bukti nyata bahwa Tuhan hadir, berkarya dan being very kind to me...
Tentu ada masa2 sulit, namanya jg Hidup... kalo pas Teresa ngambek, sulit diatur, makannya diemut, sulit dibangunkan pagi hari utk ke sekolah, minum susunya musti disendokin&lamaaa... bener, dlsbnya....
But at the end of that all... I just feel blessed by her...
TEMAN-TEMAN
Aku adl pribadi yg pada dasarnya mudah berteman dg siapa saja... dan sering kali menemukan kondisi ktk aku kehilangan inti pembicaraan krn ngalor ngidul ngobrol dg teman... Meski sekarang sdg smkn membaik sihhh hahaha... (Really...? hihihii) yg artinya aku sangat menikmati pertemanan, bersosialisasi kata para ahli ;)
Teman, ada yang kayaknya dah life long friends gitu ya... ada yg dari sd, smp, sma sampe skarang masiii kontak terus... meski ga sll bersama, tp yg katanya hati ttp deket itu, kerasa loh... pas chat lewat ym or telp, wahhh bisa ga setop2 ngomongin ini itu... dari curhatan mendalam sampai yg omongan ringan hehehe...
Teman, ada juga yg baru ketemu, tp kok ya baru kenalan 1-2 hr bisa juga tuh ngomong sampe beleber hahaha.... ya namanya nge-klik n auranya nyambung kali ye...
Teman, ada jg yg bkn aku amazed, meski kenal dah lama n ga gitu deket, eh kok ya ada satu kejadian bisa membuat kita setiap hari kontak, terutama tentang masalah cintanya... meski aku merasa tak membantunya apa-apa.. tp tokh ada keterikatan yg terus membuat kita saling kontak dan itulah artinya hubungan 'terapeutik' kali yee... hihihihi...
Teman, ada juga yg 'menghilang' entah ditelan apa juga aku ga tau... tadinya deket tp kok sekarang leng ples aja ilang.... begitu coba dikontak, sulitnya minta ampun, entah dr koneksi komunikasi yg kurang memadai sampai obrolan yg ga nyambung lagi... aneh n masi misteri utkku...
Intinya, dari semua teman itu, banyak pelajaran hidup yg aku dapatkan... Dan really feel blessed of it.
TERESA
Teresa mjd bukti nyata cinta Dia yg disana utk hidupku. Banyak hal yang aku pelajari dari kehadiran Teresa... spt yg pernah aku tulis di notes sblmnya, mjd ortu membawa byk perubahan, dari yg kecil sampai hal yg besar. Yg kecil2 misalnya, jadwal sehari2, gaya hidup, dll... Hal yg besar misalnya, pemilihan profesi, pengembangan kesabaran, disiplin, lebih concern akan kesehatan, dll...
Setiap saat bersama Teresa, aku merasakan ada bukti nyata bahwa Tuhan hadir, berkarya dan being very kind to me...
Tentu ada masa2 sulit, namanya jg Hidup... kalo pas Teresa ngambek, sulit diatur, makannya diemut, sulit dibangunkan pagi hari utk ke sekolah, minum susunya musti disendokin&lamaaa... bener, dlsbnya....
But at the end of that all... I just feel blessed by her...
TEMAN-TEMAN
Aku adl pribadi yg pada dasarnya mudah berteman dg siapa saja... dan sering kali menemukan kondisi ktk aku kehilangan inti pembicaraan krn ngalor ngidul ngobrol dg teman... Meski sekarang sdg smkn membaik sihhh hahaha... (Really...? hihihii) yg artinya aku sangat menikmati pertemanan, bersosialisasi kata para ahli ;)
Teman, ada yang kayaknya dah life long friends gitu ya... ada yg dari sd, smp, sma sampe skarang masiii kontak terus... meski ga sll bersama, tp yg katanya hati ttp deket itu, kerasa loh... pas chat lewat ym or telp, wahhh bisa ga setop2 ngomongin ini itu... dari curhatan mendalam sampai yg omongan ringan hehehe...
Teman, ada juga yg baru ketemu, tp kok ya baru kenalan 1-2 hr bisa juga tuh ngomong sampe beleber hahaha.... ya namanya nge-klik n auranya nyambung kali ye...
Teman, ada jg yg bkn aku amazed, meski kenal dah lama n ga gitu deket, eh kok ya ada satu kejadian bisa membuat kita setiap hari kontak, terutama tentang masalah cintanya... meski aku merasa tak membantunya apa-apa.. tp tokh ada keterikatan yg terus membuat kita saling kontak dan itulah artinya hubungan 'terapeutik' kali yee... hihihihi...
Teman, ada juga yg 'menghilang' entah ditelan apa juga aku ga tau... tadinya deket tp kok sekarang leng ples aja ilang.... begitu coba dikontak, sulitnya minta ampun, entah dr koneksi komunikasi yg kurang memadai sampai obrolan yg ga nyambung lagi... aneh n masi misteri utkku...
Intinya, dari semua teman itu, banyak pelajaran hidup yg aku dapatkan... Dan really feel blessed of it.
Langganan:
Postingan (Atom)