Orangtua di jaman modern saat ini banyak dimudahkan oleh banyak hal. Meskipun, tentu banyak ahli juga menyarankan supaya tetap aware agar tidak 'berlebihan' dlm memanfaatkan kemajuan modern saat ini. Tentu peribahasa, "apapun yg berlebihan akan menjadi tidak baik" sangat berlaku disini.
Nah, berikut beberapa tips utk menggunakan fasilitas-fasilitas tersebut secara bijak.
1. Tokoh Kartun
- Pilihlah bersama anak alat-alat dengan gambar kartun yang disukai anak. Bila harga alat yg bergambar tokoh tertentu terasa mahal, pilihlah produk yg berwarna cerah dan bergambar ceria lainnya yang mungkin tidak berlisensi dan tidak mahal harganya. Misalnya, mintalah anak memilih, sikat gigi mana yang ia inginkan? Yang bergambar Pooh atau Ikan Lumba-lumba? Atau yang bergambar beruang? Demikian juga warnanya. Sehingga anak lebih semangat menjalani aktivitas rutinnya, seperti menyikat gigi, makan, tidur, belajar, mandi dsb.
- Ciptakan cerita yang menarik dan berkaitan dengan tokoh kartun yang ada di gambar masing-masing alat atau gunakan alat mainan yang berbentuk menarik. Misalnya, ketika anak malas mandi, pengasuh/ortu bisa menyemangati anak dan mengajaknya dengan menciptakan cerita bahwa di kamar mandi ada gurita (mainan karet) yang kotor dan ingin dimandikan oleh si anak. "Ayo dek, ini si gurita manggil kamu minta dimandiin. Tuh liat, si gurita memanjat ke atas nyariin kamu..." NB. ini baru saja saya buktikan ke anak saya yang lagi malas mandi. Alhasil dia langsung melesat ke kamar mandi mau melihat si gurita memanjat ke atas, yang notabene saya yang memindahkan si gurita ke rak atas (biasanya si gurita diletakkan di rak bawah agar terjangkau oleh anak) hehehe...
Cerita ini bisa berlaku di segala aktivitas, dan pastinya menuntut kreativitas serta kesabaran orang tua.
- Jika mungkin, variasikan waktu penggunaan alat-alat ini agar anak tidak bosan. Misalnya, hari ini gunakan piring bergambar spongebob, besok gunakan piring bergambar ikan dsb nya. Atau sediakan beberapa alternatif dan biarkan anak memilih alat mana yang ia inginkan pada suatu saat.
2.Hiburan Elektronik
Hiburan elektronik yang saya maksudkan adl vcd, dvd, acara-acara televisi, berbagai variasi games, dan sejenisnya.
- Batasi penggunaan alat elektronik pada anak dengan memberikan alternatif kegiatan yang menarik baginya.
- Hiburan-hiburan ini dapat digunakan juga untuk memotivasi anak menjalankan tugas-tugasnya. Misalnya, perbolehkan anak menonton dvd sebagai hadiah setelah mengerjakan tugas sekolahnya.
- Selain untuk memotivasi anak, orangtua yang mengasuh tanpa bantuan asisten (mbak atau babysitter) bisa menggunakan hiburan ini sebagai alat pengasuh sementara, yaitu maksimal selama 15 menit dengan syarat bahwa orangtua masih bisa memantau anak baik secara visual maupun auditori. Artinya jika anak mengalami hal-hal yg berbahaya, dan berteriak misalnya, anda bisa langsung memberikan pertolongan. Misalnya jika anda perlu mandi atau melakukan urusan pribadi anda yg kurang lebih berdurasi 15 menit, anda dapat membuat si anak 'sibuk' dengan memutarkan dvd kesukaannya. Pastikan dahulu bahwa anak anda memang tertarik dengan acara tersebut.
3. Berbagai Macam Mainan dan Buku
- Tidak seperti hiburan elektronik, menurut saya berbagai macam mainan dan buku cukup aman digunakan anak sepanjang waktu. Pembatasan dilakukan pada waktu-waktu tertentu seperti ketika mau tidur dan makan.
- Mainan dan Buku bisa digunakan juga untuk membentuk kebiasaan baik dan motivasi dalam diri anak untuk menyelesaikan tugasnya. Pelaksanaannya bisa seperti hiburan elektronik tadi. Mainan dan buku diberikan ketika anak sudah melakukan kegiatan tertentu yang diharapkan. Misalnya bila sudah mandi, anak baru boleh memainkan mainan favoritnya.
- Mainan dan buku, bila dibiasakan, bisa juga menjadi alat bantu bagi orangtua dalam mengasuh anak. Misalnya, bila anak sudah suka membaca buku, maka membaca buku juga bisa diberikan sebagai kegiatan alternatif untuk membuatnya sibuk ketika orangtua perlu melakukan kegiatan lain sehingga bisa membuat anak sibuk sejenak. Meski sama dengan tontonan elektronik tadi, anak tetap berada dalam jangkauan pantauan orang tua.
4. Berbagai jenis makanan ringan yang cukup aman dikonsumsi anak
- Pilihlah dan kontrol konsumsi anak akan berbagai makanan ringan. Usahakan jangan berlebihan memberikan makanan ringan yang mengandung perasa/penyedap makanan. Selingi dengan pemberian cemilan sehat seperti buah atau snack home made.
- Sama seperti mainan, buku dan hiburan elektronik, snack sehat favorit anak bisa digunakan sebagai reward untuk membentuk prilaku anak.
- Snack kesukaan anak bisa digunakan juga terutama untuk menyemangati anak makan. Misalnya, bila anak suka kerupuk, orangtua bisa menggunakan krupuk sebagai reward setiap kali anak mau memakan satu suap nasi dan lauknya. Berikan krupuk dalam potongan kecil, setiap kali anak makan satu suap nasi. Usahakan krupuk hanya diberikan ketika waktu makan, tidak di waktu lain. Sehingga anak tidak kehilangan minat dengan krupuk itu.
Semoga dengan tips ini, bisa membantu kita para ortu menggunakan fasilitas sekitar kita dalam mengasuh anak. Selamat mencoba. :)
Kamis, 06 Mei 2010
Kamis, 22 April 2010
Catatan Dini Hari
Pagi ini diawali dengan kejadian yang kurang mengenakkan. Argumentasi kecil memang, namun cukup membuat saya mengetikkan status 'silent scream' di pesan instant online saya. Sapaan sahabat dan cerianya Teresa cukup menghibur, sehingga tak sampai tengah hari, perasaan silent scream itu sudah lumayan memudar. Ditambah keyakinan akan menjadi baik-baik saja mengingat pengalaman kami yang sudah-sudah. Dan keyakinan itu terbukti ketika malam kami kembali bersua dalam suasana yang sudah cukup cair.
Malam ini, seperti dua malam sebelumnya, Teresa tertidur cukup cepat. Maka saya berkesempatan untuk berselancar di dunia maya. Malam ini target pertama adalah mengetikkan ide cerita anak yang baru saja saya ceritakan sebagai dongeng pengantar tidur Teresa pada malam ini. Ya, hari ini saya bertekad sebulat mungkin untuk kembali serius menekuni hobi menulis. Dan tentu saja dengan tujuan menerbitkan karya tulisanku. Sudah agak lama tujuan ini terbengkalai karena ini itu yang lain. Misalnya karena pekerjaan ngasong dan orientasi mencari uang secara online. Mengapa akhirnya saya kembali memutuskan berfokus diri terhadap hobi dan cita-cita saya sebagai penulis? Alasannya cukup sederhana, yaitu agar tidak membuang waktu dan tenaga mengerjakan pencarian uang yang tak jelas ujungnya. Lebih baik memusatkan diri pada hobi yang saya senangi dan tujuan yang lebih jelas meski tak disangkal tetap menuntut perjuangan. Seperti kata pepatah terkenal yang sering kita kutip bersama, no pain no gain beybih! :D
Meski tentu saja, saya tidak bisa memusatkan hanya pada hobi ini saja. Kenapa? Karena saya masih enjoy dan memerlukan masukan (baik materiil dan spirituil - halah) dari berbagai profesi part timer yang saya jalani. Ditambah lagi cita-cita menjajakan produk unik via online. Kalau yang terakhir ini tunggu tanggal mainnya ya. Ini anggap saja promosi awal :)
Nah, sesudah cukup banyak materi yang saya baca tentang tujuan saya menjadi penulis tersebut, saya kembali mengingat tujuan kedua saya malam ini. Yaitu memasukkan nilai ujian para mahasiswa, yang rupanya saya tunda dari tadi mungkin karena sulit mempercayai hasilnya. Tentu bukannya bagus ya, kalau ditunda. Kalau bagus ya dengan enteng saya akan memasukkan nilai-nilai mereka sedari tadi. Nah, tentu sekarang anda sudah bisa menebak seperti apa nilai-nilai mereka. Kecewa, tentu saja. Saya sudah memendamnya ketika pertama kali mengoreksi jawaban-jawaban mereka. Tapi, yang lebih berat saya pikirkan adalah bagaimana membantu mereka meningkatkan nilai akademik mereka di mata kuliah yang saya ajar. Banyak koreksi diri sendiri juga, tentang bagaimana mengajar sampai tuntutan penyampaian materi dan karakteristik peserta didik itu sendiri. So much to count on.
So, malam ini rupanya harus diakhiri dengan berakhirnya catatan dini hari ini. Semoga malam ini tidur nyenyak. Selamat malam teman semua.
Malam ini, seperti dua malam sebelumnya, Teresa tertidur cukup cepat. Maka saya berkesempatan untuk berselancar di dunia maya. Malam ini target pertama adalah mengetikkan ide cerita anak yang baru saja saya ceritakan sebagai dongeng pengantar tidur Teresa pada malam ini. Ya, hari ini saya bertekad sebulat mungkin untuk kembali serius menekuni hobi menulis. Dan tentu saja dengan tujuan menerbitkan karya tulisanku. Sudah agak lama tujuan ini terbengkalai karena ini itu yang lain. Misalnya karena pekerjaan ngasong dan orientasi mencari uang secara online. Mengapa akhirnya saya kembali memutuskan berfokus diri terhadap hobi dan cita-cita saya sebagai penulis? Alasannya cukup sederhana, yaitu agar tidak membuang waktu dan tenaga mengerjakan pencarian uang yang tak jelas ujungnya. Lebih baik memusatkan diri pada hobi yang saya senangi dan tujuan yang lebih jelas meski tak disangkal tetap menuntut perjuangan. Seperti kata pepatah terkenal yang sering kita kutip bersama, no pain no gain beybih! :D
Meski tentu saja, saya tidak bisa memusatkan hanya pada hobi ini saja. Kenapa? Karena saya masih enjoy dan memerlukan masukan (baik materiil dan spirituil - halah) dari berbagai profesi part timer yang saya jalani. Ditambah lagi cita-cita menjajakan produk unik via online. Kalau yang terakhir ini tunggu tanggal mainnya ya. Ini anggap saja promosi awal :)
Nah, sesudah cukup banyak materi yang saya baca tentang tujuan saya menjadi penulis tersebut, saya kembali mengingat tujuan kedua saya malam ini. Yaitu memasukkan nilai ujian para mahasiswa, yang rupanya saya tunda dari tadi mungkin karena sulit mempercayai hasilnya. Tentu bukannya bagus ya, kalau ditunda. Kalau bagus ya dengan enteng saya akan memasukkan nilai-nilai mereka sedari tadi. Nah, tentu sekarang anda sudah bisa menebak seperti apa nilai-nilai mereka. Kecewa, tentu saja. Saya sudah memendamnya ketika pertama kali mengoreksi jawaban-jawaban mereka. Tapi, yang lebih berat saya pikirkan adalah bagaimana membantu mereka meningkatkan nilai akademik mereka di mata kuliah yang saya ajar. Banyak koreksi diri sendiri juga, tentang bagaimana mengajar sampai tuntutan penyampaian materi dan karakteristik peserta didik itu sendiri. So much to count on.
So, malam ini rupanya harus diakhiri dengan berakhirnya catatan dini hari ini. Semoga malam ini tidur nyenyak. Selamat malam teman semua.
Selasa, 13 April 2010
Little Stories 1
Adegan 1 : Main Jual-jualan
T : Ma, ayo main jual-jualan. Teresa yang jual, Mama yg beli ya
M : (lg kumat isengya)Ah, mama lagi ga mau beli.
T : aaaahhhh Mama... ayo dong...
M : tapi Mama lagi ga perlu apa-apa. ga ada uangnya. kan uangnya mama cuma cukup untuk beli makanan, ga cukup untuk beli gelang.
T : beli ya, ya, ya... kan harganya ga mahal
M : hahahaha (sambil berpikir, ckckck.... hebat bener ya modellingnya hihihi....)
Adegan 2 : Orang dewasa ga boleh main
T : ni... santa klaus punya banyak mainan....
M : asiiikkk! mama dapet juga ya.... (ge er bener ya huahahah..)
T : ga... mama ga dapet. kan mama udh gede... ini utk temen-temen (boneka) aja...
M : loh, emangnya kalo udh gede ga dapet maenan? ga boleh main?
T : iya...
M : oooo...
T : main sm anak-anak aja...
M : ... jadi orang gede ga boleh main, krn harusnya main sm anak-anak, iya?
T : (ngangguk)
M : (spt mendapat pencerahan hihihi....)
T : Ma, ayo main jual-jualan. Teresa yang jual, Mama yg beli ya
M : (lg kumat isengya)Ah, mama lagi ga mau beli.
T : aaaahhhh Mama... ayo dong...
M : tapi Mama lagi ga perlu apa-apa. ga ada uangnya. kan uangnya mama cuma cukup untuk beli makanan, ga cukup untuk beli gelang.
T : beli ya, ya, ya... kan harganya ga mahal
M : hahahaha (sambil berpikir, ckckck.... hebat bener ya modellingnya hihihi....)
Adegan 2 : Orang dewasa ga boleh main
T : ni... santa klaus punya banyak mainan....
M : asiiikkk! mama dapet juga ya.... (ge er bener ya huahahah..)
T : ga... mama ga dapet. kan mama udh gede... ini utk temen-temen (boneka) aja...
M : loh, emangnya kalo udh gede ga dapet maenan? ga boleh main?
T : iya...
M : oooo...
T : main sm anak-anak aja...
M : ... jadi orang gede ga boleh main, krn harusnya main sm anak-anak, iya?
T : (ngangguk)
M : (spt mendapat pencerahan hihihi....)
Rabu, 24 Maret 2010
Penguatan
Kulihat kesedihan dimatanya kala menggandeng pergi peri mungilnya, di bawah naungan malaikat bumi, penunjuk arah hidupnya kini.
Mungkin benar ia menaat janji setianya
Mungkin tepat langkahnya untuk menjauh
Tapi hati dan perasaan tak pernah bohong
Emosi tetap tercermin samar dari matanya
Bahwa ia inginkan cara lain
Inginkan cara yang lebih membawa keamanan emosional utuh nan ideal bukan hanya keamanan fisik yang fana.
Tapi tentu, ia tidak bisa melampaui realita
Bahwa kini kakinya menginjak tanah lain
Biarkan akar tetap kokoh berpusat pada ibu pertiwi namun bebaskan batang, dahan dan ranting kemanapun ia berguna
Kemanapun pilihannya berlabuh.
Meski sering terasa labil akar ini, sering mempertanyakan tak henti
Hanya tanda tanya mengambang
biarkan...
Karena hidup tak bertugas untuk menyediakan jawaban
Hidup hadir secara lugas tapi lembut, bebas diartikan oleh masing-masing jiwa kelana
Pertanyaan dan konflik batin mungkin akan dibawa sampai ke surga
Biar Yang Kuasa, sang Empunya Hidup yang menjelaskan
Laksana guru yang bijak nan adil
Hidup hanya sekali, dengan bermilyar kesempatan dan sejuta hal indah.
Hidup tentang menjalani pilihan, terbuka terhadap pelajaran dan dinamika tak henti.
Laksana dongeng, ia mencaiptakan dunianya sendiri
Menempatkan masing-masing puhak pada posisi yang dianggap cocok.
Kini, meski kesedihan mewarnai mata hati, tapak hatinya telah memilih.
Kesanalah ia akan berjalan
Kesanalah ia mencurahkan diri
Disanalah komitmennya sudah ditetapkan
Tak ada penyesalan dan dendam
Hanya siklus hidup dan perkembangan pribadi alasannya
Meski rasio telah sempurna, emosi tak kunjung menguap sempurna
Lembab dan mungkin akan ditumbuhi lumut dan berkerak
Entahlah...
Jiwanya terus menghibur dirinya sendiri
Tak putus mencari cahaya penerangan hati
Agar tetap dapat menopang kekasih-kekasihnya, yang menjadi komitmen hidupnya kini
Mungkin benar ia menaat janji setianya
Mungkin tepat langkahnya untuk menjauh
Tapi hati dan perasaan tak pernah bohong
Emosi tetap tercermin samar dari matanya
Bahwa ia inginkan cara lain
Inginkan cara yang lebih membawa keamanan emosional utuh nan ideal bukan hanya keamanan fisik yang fana.
Tapi tentu, ia tidak bisa melampaui realita
Bahwa kini kakinya menginjak tanah lain
Biarkan akar tetap kokoh berpusat pada ibu pertiwi namun bebaskan batang, dahan dan ranting kemanapun ia berguna
Kemanapun pilihannya berlabuh.
Meski sering terasa labil akar ini, sering mempertanyakan tak henti
Hanya tanda tanya mengambang
biarkan...
Karena hidup tak bertugas untuk menyediakan jawaban
Hidup hadir secara lugas tapi lembut, bebas diartikan oleh masing-masing jiwa kelana
Pertanyaan dan konflik batin mungkin akan dibawa sampai ke surga
Biar Yang Kuasa, sang Empunya Hidup yang menjelaskan
Laksana guru yang bijak nan adil
Hidup hanya sekali, dengan bermilyar kesempatan dan sejuta hal indah.
Hidup tentang menjalani pilihan, terbuka terhadap pelajaran dan dinamika tak henti.
Laksana dongeng, ia mencaiptakan dunianya sendiri
Menempatkan masing-masing puhak pada posisi yang dianggap cocok.
Kini, meski kesedihan mewarnai mata hati, tapak hatinya telah memilih.
Kesanalah ia akan berjalan
Kesanalah ia mencurahkan diri
Disanalah komitmennya sudah ditetapkan
Tak ada penyesalan dan dendam
Hanya siklus hidup dan perkembangan pribadi alasannya
Meski rasio telah sempurna, emosi tak kunjung menguap sempurna
Lembab dan mungkin akan ditumbuhi lumut dan berkerak
Entahlah...
Jiwanya terus menghibur dirinya sendiri
Tak putus mencari cahaya penerangan hati
Agar tetap dapat menopang kekasih-kekasihnya, yang menjadi komitmen hidupnya kini
Selasa, 09 Maret 2010
Kecanduan Buku
Membaca buku merupakan salah satu hobi saya sampai sekarang yang cukup konsisten dijalani. Meski sempat terhenti ketika Teresa lahir karena terserapnya energi dan waktu ke pernak pernik pengasuhannya. Namun mulai (akhir) tahun kemarin, perlahan saya mulai bisa menyisihkan waktu untuk membaca. Membaca di sini artinya, membaca buku selain koran berita dan materi yg berhubungan dengan pekerjaan. Lebih spesifiknya buku-buku fiksi (atau non fiksi, jika ada yang menarik).
Berikut adalah ulasan singkat dari beberapa buku yang telah saya baca akhir-akhir ini :
1. "Kau Panggil Aku Malaikat" by Arswendo Atmowiloto :
Buku ini sudah cukup lama saya selesaikan membacanya. Jadi isi ceritanya agak lupa hehe... Intinya tentang seorang malaikat yang bersama seorang anak mengamati kehidupan berbagai orang yang akan dipanggil olehNya. Seperti biasa, karya Arswendo, membuatku kagum bagaimana beliau membuat pembaca masuk ke dalam situasi sehari-hari yang nyata dan mampu menyoroti ketidakbiasaan yang ada. Imajinasinya juga terasa sangat dekat dengan isu sehari-hari namun dikemas dengan menarik dan dramatis tanpa memaksa. Deskripsi karakter yang baik dan unik menyerap perhatian saya. Isu-isu sosial riil dipotret dalam masing-masing karakter dan alur hidupnya masing-masing. Salah satu buku Arswendo lagi yang worth to read.
2. "Ritual Gunung Kemukus" karya F. Rahardi :
Buku ini saya beli setelah melihat ulasannya di harian Kompas. Saya tertarik membelinya karena menyukai buku-buku yang berangkat dari isu sosial masyarakat yang riil. Demikianlah buku ini berdasar. Isu ritual seks yang dipercayai masyarakat untuk meluluskan permintaan pribadi mereka menjadi latar dan isu utama yang mengkaitkan beberapa karakter dalam buku ini. Jika suka dengan novel chicklit yang berbau pop, mungkin buku ini jauh dari harapan anda. Karena yang dalam buku ini lebih kental menggambarkan pengharapan dan dinamika hidup masyarakat golongan ekonomi bawah. Bagaimana mereka berusaha survive ditengah realita hidup dan harapan tinggi akan kesuksesan materiil dan badani. Perubahan dinamika pribadi karakternya juga mewakili fenomena manusia klise, dari pribadi yang menjunjung kejujuran dan kesejahteraan hati nurani, berubah menjadi pribadi yang mengutamakan materi dan mengesampingkan hati. Mungkin cenderung miris nuansanya. Namun saya cukup senang cara penulis mengangkat isu riil masyarakat yang khas Indonesia dan masalah-masalah kehidupannya.Meski ada teman lain yang membaca buku ini mengatakan bahwa penulis terlalu banyak memasukkan berbagai topik ke dalam buku ini, saya sendiri tidak menyesal untuk membeli dan membacanya. Suatu buku yang memotret keadaan sosial selalu saya hargai :)
3. "Winner Stands Alone" karya Paulo Coelho :
Buku ini saya beli setelah sekian lama tidak membaca karya Sir Coelho. Beliau bagi saya penulis yang amazing, seperti yang banyak orang setujui, saya yakin. Meski nge-fans dengan beliau, ternyata saya baru sedikit ya, membaca karya nya. Dalam memori saya, baru ada 2 buku. Wah, gawat kan... Masak ngaku fans tapi baru baca 2 buku dari sekian banyak buku karya beliau. Maka, saya bertekad membaca buku ini setelah menimbang-nimbang harganya yang lumayan untuk kantong saya. Ternyata, buku ini cukuplah mengobati kerinduan saya kepada Sir Coelho. Meski cukup beda nuansanya dengan The Alchemist, yang merupakan buku pertama yang saya baca, hehe.... (ketauan ya, saya ketinggalan banget...). Buku ini menceritakan dinamika hidup kaum selebritis dan kaum yang ingin masuk ke dunia selebriti itu. Latar belakangnya adalah pemberian penghargaan international di bidang film, yaitu penghargaan Cannes. Cukup khas beliau, mengangkat nuansa Eropa yang klasik, bergairah dan 'smart'. Materi alur cerita dan karakter juga digambarkan secara matang, kaya dan menggambarkan kepioniran beliau dalam bercerita dan berwawasan. Meski buat saya, membutuhkan kesabaran untuk mengikuti alurnya, karena detil dan keberagaman deskripsi serta cerita yang ingin disampaikan pada suatu moment. Dasar cerita sebenernya tidak terlalu istimewa, maksudnya cukup bisa ditemukan di buku-buku lain. Namun bagaimana membangun alur dan menggambarkan karakter serta dinamika mereka, kaitan satu sama lain begitu matang dan baik. Meski pelajaran hidup yang biasa menjadi trademark beliau tidak begitu mudah ditarik secara tersirat. Pesan-pesan tersurat tentu banyak... tersebar di berbagai dialog karakter. Seperti, selalu ada kesempatan untuk menjadi diri sendiri di tengah kepalsuan materi duniawi, orang terdekat belum tentu selamanya menjadi malaikat baik untuk kita, dan pesan inti dari buku ini yang saya tangkap adalah kesuksesan materiil tidak menjamin kebahagiaan hati dan jiwa. Bahkan digambarkan dengan sangat sinis, merusak otentisitas seorang pribadi. Jadi jika senang akan cerita dinamika dunia gemerlap yang cenderung palsu bisa mencoba membaca karya Sir Coelho yang satu ini.
4. "Halo, Aku dalam Novel" karya Nuril Basri :
Novel ini saya pinjam dari adik saya, yang katanya iseng saja membeli novel ini. Karena sedang ingin membaca buku dan buku sebelumnya sudah habis terbaca, ya saya coba saja membaca buku dengan sampul bergrafis menarik ini. Inti dari buku ini seperti tampak dari judulnya, adalah seorang tokoh pemuda yang menulis sebuah novel dan bagaimana novel itu menjadi bagian dari realita hidupnya. Kalau ditilik lebih dalam, ada isu psikologis yang cukup kental. Nuansa novel ini cenderung suram dan di beberapa bagian terekam adegan-adegan yang aneh dan tidak nyaman dibaca menurut ukuran saya. Pesan yang disampaikan tidak begitu kuat saya tangkap. Dasar cerita dan karakter-karakternya cukup menarik sebenarnya, hanya saya merasakan alur yang kurang greget dan ya itu tadi, ada adegan-adegan yang mungkin dimaksudkan untuk membuat pembaca excited justru membuat saya merasa sebaliknya, bad mood dengan novel ini. Penutupnya memang happy ending, jadi tidak terlalu muram lagi. Jadi, karena judulnya coba-coba membaca, yah tak perlu disesali sudah membacanya. Lain cerita, lain pesan dan ciri khasnya.
5. "Pintu Terlarang" karya Sekar Ayu Asmara :
Novel ini adalah novel thriller indonesia pertama yang saya baca. Tadinya saya tidak tahu persis apa cerita dalam buku ini, karena juga tidak mengikuti munculnya film dengan judul yang sama. Saya tertarik membaca karena profil penulisnya yang mengagumkan. Apalagi setelah membaca buku sebelumnya (no.4 di atas), saya seperti mencari buku yang mengobati kekecewaan pada buku sebelumnya itu. Ternyata baru beberapa lembar saya membaca buku ini, saya benar-benar tidak menyesal dan mendapat penghiburan dari kekecewaan sebelumnya. Saya seperti terserap pada gaya magnet yang dihadirkan penulis dalam alur cerita yang padat dan apik serta penggambaran karakteristik tokoh yang matang dan kuat. Alur cerita dan karakter tokoh yang kuat diberikan dengan detil deskripsi serta pengulangan-pengulangan yang indah. Alur yang berkembang diramu sedemikian rupa sehingga membuat pembaca enggan melepaskan buku ini dari awal sampai akhir. Cerita ini bernuansa 'gelap' dan memang menegangkan. Secara pribadi saya memiliki kesan ada keseragaman nasib kaum lelaki di dalam kisah ini, yaitu hampir semuanya memiliki sifat atau nasib yang buruk, bahkan tokoh utama cerita ini yang adalah laki-laki, merupakan korban yang sangat tragis hidupnya. Tak banyak yang bisa dibocorkan mengenai konten cerita, karena akan merusak semangat pembaca yang belum membaca buku ini. Intinya, kalo belum tau cerita tentang buku maupun filmnya, saya sarankan mencoba membaca buku ini. Isu dasar dari cerita ini membuat saya semakin salut kepada penulis, yaitu mengenai kemanusiaan, terutama kekerasan pada anak. Cukup baik menggambarkan efek tragis secara dramatis dari penyiksaan anak, meski formatnya fiksi. So, two (or more) thumbs up for this book! :D
6. "The Book of The Lost Things" karya John Connolly :
Cover buku ini mengingatkan pada buku-buku dongeng anak-anak yang banyak saya baca jaman kecil dulu. Dan memang di dalamnya berisi serupa dengan dongeng anak-anak, hanya dengan materi yang lebih cocok untuk orang dewasa. Jangan sekali-kali mencoba membacakannya untuk anak-anak, deh. Nanti pasti jadi panjang urusannya hehehe... Buku ini menceritakan perjalanan hidup David sejak kecil dengan keluarganya, Ayah, Ibu, Ibu tiri dan adik tirinya. Buku ini berlatar belakang suasana perang di dunia Barat pada jaman dulu. Kesan keseluruhan memang suram namun bagaimana penulis menjalin cerita di bagian-bagian akhir, sungguh mempesona dan membahagiakan secara tulus. David diceritakan sangat suka membaca, kebiasaan yang ditularkan dari Ibu kandungnya. Nasib suramnya berawal dari sang Ibu kandung yang mengalami sakit keras, yang amat mempengaruhi kepribadian David. Ketika akhirnya Ibu meninggal, David berproses dalam kedukaan bersama sang Ayah. Ayah menemukan pengganti istrinya, dan David mendapat keluarga tiri yang baru. Kehadiran keluarga baru ini ditolaknya sebisa mungkin, karena terbayangi oleh memori Ibu kandung yang tak kunjung usai. Pindahnya David ke rumah yang baru, mengantarnya ke pengalaman di dunia yang berbeda dengan dunia nyata tempatnya hidup. Di dunia inilah ia banyak mendapatkan pengalaman menakjubkan serupa cerita-cerita dongeng yang pernah ia baca. Dalam misi mencari jalan pulang, David berkembang menjadi pribadi yang semakin matang dan dewasa. Dalam dunia dongeng yang ia alami, saya menarik pelajaran yang mungkin ingin disampaikan oleh penulis. Bahwa masing-masing dari kita memiliki dongeng hidup masing-masing. Bagaimana dongeng itu menjadi nyata dan seperti apa kita menjalani dinamika dongeng kita itu, tergantung pada diri kita sendiri. Bila kita menghadapi monster, seperti yang beberapa kali dihadapi David, mungkin sekali monster itu adalah ciptaan kita sendiri sehingga hanya kita yang bisa mengalahkannya. Alur cerita buku ini memang mengedepankan keseruan ala dongeng. Jadi ada saatnya saya merasa agak bosan dan kurang sabar karena merasa tidak sampai-sampai pada inti atau belum menangkap pesan yang ingin disampaikan penulis. Hm, rupanya saya cenderung tidak sabar ketika membaca buku ini. Namun endingnya yang indah membuat saya tidak menyesal membaca buku ini dan merasa senang sudah membacanya.
7. "Perahu Kertas" karya Dewi 'Dee' Lestari :
Buku ini buku terakhir yang saya baca sejauh ini. Terus terang buku ini saya simpan terakhir untuk menghibur diri saya setelah membaca buku-buku yang lumayan menguras energi dan emosi seperti buku no.6 tadi. Setelah membaca buku-buku yang tadi saya ungkapkan, buku Dee ini sangat menyegarkan karena nuansa yang ceria dan positif. Meski pastilah di dalamnya ada masa-masa patah hati dan kesulitan secara emosional dari tokoh-tokohnya. Namun karena sejak awal sampai akhir selalu diselimuti nuansa cerah, maka dalam membaca saya seperti terhanyut dan mengkonsumsi sebuah cerita ftv yang berbobot. Nge-pop tapi berisi dan berkesan. Mungkin karena pada dasarnya, kisah cinta tak pernah basi untuk dikupas. Cerita berputar pada cerita cinta dan kehidupannya Kugy dan Keenan. Dua manusia yang sejak awal diceritakan berjodoh namun tak kunjung bersatu. Selain kisah cinta, buku ini juga bercerita mengenai perjalanan pencapaian cita-cita jiwa dan bagaimana hidup bisa begitu dinamis dan harmonis menyatukan apa yang sudah berjodoh, apakah jodoh cinta ataupun profesi impian. Buku ini memang sangat mudah dibaca dan dinikmati. Kata-kata dan alurnya nyaman serta cukup mudah menarik pembaca untuk terus penasaran membaca sampai akhir. Endingnya juga tidak terlalu simpel namun membahagiakan. Emosi yang ditampilkan dalam buku ini terasa pas dan tak berlebihan seperti sinetron. Demikian juga alur cerita yang cukup natural. Meski tidak seberat novel Supernova, saya senang ada prinsip-prinsip alam yang terus disisipkan Dee, seperti tidak ada kesengajaann yang terjadi dalam hidup ini. Semua kejadian di dunia ini ada alasannya masing-masing. Jadi, tak berlebihan jika saya berkata, saya mengagumi cara penulisan Dee.
Fiuh! Akhirnya selesai juga tulisan ini. Tak mudah ternyata membuat ulasan buku-buku ;). Pasti yang baca juga pegel ya... hihihi...
Dari 2 buku karya penulis non Indonesia serta 5 buku karya penulis Indonesia, saya merasa, kok buku dari penulis non Indonesia terkesan lebih berat dan njelimet dari segi materi dan alur cerita ya? Apakah karena karakter penulis yang lebih kompleks, atau karena tuntutan pembaca (penerbit) dengan karakter yang berbeda atau memang kemampuan saya pribadi saja sehingga saya lebih mudah mencerna buku dari penulis lokal? Entahlah. Satu hal yang jelas, semakin saya banyak membaca buku, semakin merasa teradiksi dan ingin lagi dan lagi dan lagi membaca lebih banyak buku. Bagaimana dengan anda? :) Happy reading to all!
Berikut adalah ulasan singkat dari beberapa buku yang telah saya baca akhir-akhir ini :
1. "Kau Panggil Aku Malaikat" by Arswendo Atmowiloto :
Buku ini sudah cukup lama saya selesaikan membacanya. Jadi isi ceritanya agak lupa hehe... Intinya tentang seorang malaikat yang bersama seorang anak mengamati kehidupan berbagai orang yang akan dipanggil olehNya. Seperti biasa, karya Arswendo, membuatku kagum bagaimana beliau membuat pembaca masuk ke dalam situasi sehari-hari yang nyata dan mampu menyoroti ketidakbiasaan yang ada. Imajinasinya juga terasa sangat dekat dengan isu sehari-hari namun dikemas dengan menarik dan dramatis tanpa memaksa. Deskripsi karakter yang baik dan unik menyerap perhatian saya. Isu-isu sosial riil dipotret dalam masing-masing karakter dan alur hidupnya masing-masing. Salah satu buku Arswendo lagi yang worth to read.
2. "Ritual Gunung Kemukus" karya F. Rahardi :
Buku ini saya beli setelah melihat ulasannya di harian Kompas. Saya tertarik membelinya karena menyukai buku-buku yang berangkat dari isu sosial masyarakat yang riil. Demikianlah buku ini berdasar. Isu ritual seks yang dipercayai masyarakat untuk meluluskan permintaan pribadi mereka menjadi latar dan isu utama yang mengkaitkan beberapa karakter dalam buku ini. Jika suka dengan novel chicklit yang berbau pop, mungkin buku ini jauh dari harapan anda. Karena yang dalam buku ini lebih kental menggambarkan pengharapan dan dinamika hidup masyarakat golongan ekonomi bawah. Bagaimana mereka berusaha survive ditengah realita hidup dan harapan tinggi akan kesuksesan materiil dan badani. Perubahan dinamika pribadi karakternya juga mewakili fenomena manusia klise, dari pribadi yang menjunjung kejujuran dan kesejahteraan hati nurani, berubah menjadi pribadi yang mengutamakan materi dan mengesampingkan hati. Mungkin cenderung miris nuansanya. Namun saya cukup senang cara penulis mengangkat isu riil masyarakat yang khas Indonesia dan masalah-masalah kehidupannya.Meski ada teman lain yang membaca buku ini mengatakan bahwa penulis terlalu banyak memasukkan berbagai topik ke dalam buku ini, saya sendiri tidak menyesal untuk membeli dan membacanya. Suatu buku yang memotret keadaan sosial selalu saya hargai :)
3. "Winner Stands Alone" karya Paulo Coelho :
Buku ini saya beli setelah sekian lama tidak membaca karya Sir Coelho. Beliau bagi saya penulis yang amazing, seperti yang banyak orang setujui, saya yakin. Meski nge-fans dengan beliau, ternyata saya baru sedikit ya, membaca karya nya. Dalam memori saya, baru ada 2 buku. Wah, gawat kan... Masak ngaku fans tapi baru baca 2 buku dari sekian banyak buku karya beliau. Maka, saya bertekad membaca buku ini setelah menimbang-nimbang harganya yang lumayan untuk kantong saya. Ternyata, buku ini cukuplah mengobati kerinduan saya kepada Sir Coelho. Meski cukup beda nuansanya dengan The Alchemist, yang merupakan buku pertama yang saya baca, hehe.... (ketauan ya, saya ketinggalan banget...). Buku ini menceritakan dinamika hidup kaum selebritis dan kaum yang ingin masuk ke dunia selebriti itu. Latar belakangnya adalah pemberian penghargaan international di bidang film, yaitu penghargaan Cannes. Cukup khas beliau, mengangkat nuansa Eropa yang klasik, bergairah dan 'smart'. Materi alur cerita dan karakter juga digambarkan secara matang, kaya dan menggambarkan kepioniran beliau dalam bercerita dan berwawasan. Meski buat saya, membutuhkan kesabaran untuk mengikuti alurnya, karena detil dan keberagaman deskripsi serta cerita yang ingin disampaikan pada suatu moment. Dasar cerita sebenernya tidak terlalu istimewa, maksudnya cukup bisa ditemukan di buku-buku lain. Namun bagaimana membangun alur dan menggambarkan karakter serta dinamika mereka, kaitan satu sama lain begitu matang dan baik. Meski pelajaran hidup yang biasa menjadi trademark beliau tidak begitu mudah ditarik secara tersirat. Pesan-pesan tersurat tentu banyak... tersebar di berbagai dialog karakter. Seperti, selalu ada kesempatan untuk menjadi diri sendiri di tengah kepalsuan materi duniawi, orang terdekat belum tentu selamanya menjadi malaikat baik untuk kita, dan pesan inti dari buku ini yang saya tangkap adalah kesuksesan materiil tidak menjamin kebahagiaan hati dan jiwa. Bahkan digambarkan dengan sangat sinis, merusak otentisitas seorang pribadi. Jadi jika senang akan cerita dinamika dunia gemerlap yang cenderung palsu bisa mencoba membaca karya Sir Coelho yang satu ini.
4. "Halo, Aku dalam Novel" karya Nuril Basri :
Novel ini saya pinjam dari adik saya, yang katanya iseng saja membeli novel ini. Karena sedang ingin membaca buku dan buku sebelumnya sudah habis terbaca, ya saya coba saja membaca buku dengan sampul bergrafis menarik ini. Inti dari buku ini seperti tampak dari judulnya, adalah seorang tokoh pemuda yang menulis sebuah novel dan bagaimana novel itu menjadi bagian dari realita hidupnya. Kalau ditilik lebih dalam, ada isu psikologis yang cukup kental. Nuansa novel ini cenderung suram dan di beberapa bagian terekam adegan-adegan yang aneh dan tidak nyaman dibaca menurut ukuran saya. Pesan yang disampaikan tidak begitu kuat saya tangkap. Dasar cerita dan karakter-karakternya cukup menarik sebenarnya, hanya saya merasakan alur yang kurang greget dan ya itu tadi, ada adegan-adegan yang mungkin dimaksudkan untuk membuat pembaca excited justru membuat saya merasa sebaliknya, bad mood dengan novel ini. Penutupnya memang happy ending, jadi tidak terlalu muram lagi. Jadi, karena judulnya coba-coba membaca, yah tak perlu disesali sudah membacanya. Lain cerita, lain pesan dan ciri khasnya.
5. "Pintu Terlarang" karya Sekar Ayu Asmara :
Novel ini adalah novel thriller indonesia pertama yang saya baca. Tadinya saya tidak tahu persis apa cerita dalam buku ini, karena juga tidak mengikuti munculnya film dengan judul yang sama. Saya tertarik membaca karena profil penulisnya yang mengagumkan. Apalagi setelah membaca buku sebelumnya (no.4 di atas), saya seperti mencari buku yang mengobati kekecewaan pada buku sebelumnya itu. Ternyata baru beberapa lembar saya membaca buku ini, saya benar-benar tidak menyesal dan mendapat penghiburan dari kekecewaan sebelumnya. Saya seperti terserap pada gaya magnet yang dihadirkan penulis dalam alur cerita yang padat dan apik serta penggambaran karakteristik tokoh yang matang dan kuat. Alur cerita dan karakter tokoh yang kuat diberikan dengan detil deskripsi serta pengulangan-pengulangan yang indah. Alur yang berkembang diramu sedemikian rupa sehingga membuat pembaca enggan melepaskan buku ini dari awal sampai akhir. Cerita ini bernuansa 'gelap' dan memang menegangkan. Secara pribadi saya memiliki kesan ada keseragaman nasib kaum lelaki di dalam kisah ini, yaitu hampir semuanya memiliki sifat atau nasib yang buruk, bahkan tokoh utama cerita ini yang adalah laki-laki, merupakan korban yang sangat tragis hidupnya. Tak banyak yang bisa dibocorkan mengenai konten cerita, karena akan merusak semangat pembaca yang belum membaca buku ini. Intinya, kalo belum tau cerita tentang buku maupun filmnya, saya sarankan mencoba membaca buku ini. Isu dasar dari cerita ini membuat saya semakin salut kepada penulis, yaitu mengenai kemanusiaan, terutama kekerasan pada anak. Cukup baik menggambarkan efek tragis secara dramatis dari penyiksaan anak, meski formatnya fiksi. So, two (or more) thumbs up for this book! :D
6. "The Book of The Lost Things" karya John Connolly :
Cover buku ini mengingatkan pada buku-buku dongeng anak-anak yang banyak saya baca jaman kecil dulu. Dan memang di dalamnya berisi serupa dengan dongeng anak-anak, hanya dengan materi yang lebih cocok untuk orang dewasa. Jangan sekali-kali mencoba membacakannya untuk anak-anak, deh. Nanti pasti jadi panjang urusannya hehehe... Buku ini menceritakan perjalanan hidup David sejak kecil dengan keluarganya, Ayah, Ibu, Ibu tiri dan adik tirinya. Buku ini berlatar belakang suasana perang di dunia Barat pada jaman dulu. Kesan keseluruhan memang suram namun bagaimana penulis menjalin cerita di bagian-bagian akhir, sungguh mempesona dan membahagiakan secara tulus. David diceritakan sangat suka membaca, kebiasaan yang ditularkan dari Ibu kandungnya. Nasib suramnya berawal dari sang Ibu kandung yang mengalami sakit keras, yang amat mempengaruhi kepribadian David. Ketika akhirnya Ibu meninggal, David berproses dalam kedukaan bersama sang Ayah. Ayah menemukan pengganti istrinya, dan David mendapat keluarga tiri yang baru. Kehadiran keluarga baru ini ditolaknya sebisa mungkin, karena terbayangi oleh memori Ibu kandung yang tak kunjung usai. Pindahnya David ke rumah yang baru, mengantarnya ke pengalaman di dunia yang berbeda dengan dunia nyata tempatnya hidup. Di dunia inilah ia banyak mendapatkan pengalaman menakjubkan serupa cerita-cerita dongeng yang pernah ia baca. Dalam misi mencari jalan pulang, David berkembang menjadi pribadi yang semakin matang dan dewasa. Dalam dunia dongeng yang ia alami, saya menarik pelajaran yang mungkin ingin disampaikan oleh penulis. Bahwa masing-masing dari kita memiliki dongeng hidup masing-masing. Bagaimana dongeng itu menjadi nyata dan seperti apa kita menjalani dinamika dongeng kita itu, tergantung pada diri kita sendiri. Bila kita menghadapi monster, seperti yang beberapa kali dihadapi David, mungkin sekali monster itu adalah ciptaan kita sendiri sehingga hanya kita yang bisa mengalahkannya. Alur cerita buku ini memang mengedepankan keseruan ala dongeng. Jadi ada saatnya saya merasa agak bosan dan kurang sabar karena merasa tidak sampai-sampai pada inti atau belum menangkap pesan yang ingin disampaikan penulis. Hm, rupanya saya cenderung tidak sabar ketika membaca buku ini. Namun endingnya yang indah membuat saya tidak menyesal membaca buku ini dan merasa senang sudah membacanya.
7. "Perahu Kertas" karya Dewi 'Dee' Lestari :
Buku ini buku terakhir yang saya baca sejauh ini. Terus terang buku ini saya simpan terakhir untuk menghibur diri saya setelah membaca buku-buku yang lumayan menguras energi dan emosi seperti buku no.6 tadi. Setelah membaca buku-buku yang tadi saya ungkapkan, buku Dee ini sangat menyegarkan karena nuansa yang ceria dan positif. Meski pastilah di dalamnya ada masa-masa patah hati dan kesulitan secara emosional dari tokoh-tokohnya. Namun karena sejak awal sampai akhir selalu diselimuti nuansa cerah, maka dalam membaca saya seperti terhanyut dan mengkonsumsi sebuah cerita ftv yang berbobot. Nge-pop tapi berisi dan berkesan. Mungkin karena pada dasarnya, kisah cinta tak pernah basi untuk dikupas. Cerita berputar pada cerita cinta dan kehidupannya Kugy dan Keenan. Dua manusia yang sejak awal diceritakan berjodoh namun tak kunjung bersatu. Selain kisah cinta, buku ini juga bercerita mengenai perjalanan pencapaian cita-cita jiwa dan bagaimana hidup bisa begitu dinamis dan harmonis menyatukan apa yang sudah berjodoh, apakah jodoh cinta ataupun profesi impian. Buku ini memang sangat mudah dibaca dan dinikmati. Kata-kata dan alurnya nyaman serta cukup mudah menarik pembaca untuk terus penasaran membaca sampai akhir. Endingnya juga tidak terlalu simpel namun membahagiakan. Emosi yang ditampilkan dalam buku ini terasa pas dan tak berlebihan seperti sinetron. Demikian juga alur cerita yang cukup natural. Meski tidak seberat novel Supernova, saya senang ada prinsip-prinsip alam yang terus disisipkan Dee, seperti tidak ada kesengajaann yang terjadi dalam hidup ini. Semua kejadian di dunia ini ada alasannya masing-masing. Jadi, tak berlebihan jika saya berkata, saya mengagumi cara penulisan Dee.
Fiuh! Akhirnya selesai juga tulisan ini. Tak mudah ternyata membuat ulasan buku-buku ;). Pasti yang baca juga pegel ya... hihihi...
Dari 2 buku karya penulis non Indonesia serta 5 buku karya penulis Indonesia, saya merasa, kok buku dari penulis non Indonesia terkesan lebih berat dan njelimet dari segi materi dan alur cerita ya? Apakah karena karakter penulis yang lebih kompleks, atau karena tuntutan pembaca (penerbit) dengan karakter yang berbeda atau memang kemampuan saya pribadi saja sehingga saya lebih mudah mencerna buku dari penulis lokal? Entahlah. Satu hal yang jelas, semakin saya banyak membaca buku, semakin merasa teradiksi dan ingin lagi dan lagi dan lagi membaca lebih banyak buku. Bagaimana dengan anda? :) Happy reading to all!
Langganan:
Postingan (Atom)