Sabtu, 17 Agustus 2013

Waktu

Waktu bukanlah empunya siapapun. Dia berkuasa atas dirinya sendiri.
Ketika kita berkata, sy punya waktu sekian-sekian... tak nyatalah kepemilikan itu. Karena waktu pasti terus melangkah, tak kan bisa diulang. Pun, tak ada bukti nyata akan kehadirannya. Seperti udara yg selalu ada namun kasat mata. Bukankah dunia penuh dg hal semacam in? Kesemuan kepemilikan, yg selalu membuat manusia menginginkannya. Padahal cinta tak harus memiliki kan?
Waktu memang akan terus ada. Meski adalah ciptaan manusia belaka, namun tampaknya akan kekal adanya. Dimaksudkan utk membatasi. Menggambarkan hidup adl fana. Semoga membawa penghargaan lebih atas setiap hela nafas manusia. Namun talk teringkari bhw waktu juga dpt membelenggu penciptanya. Salah satu ironi hidup yg tak asing, manusia diperbudak oleh ciptaannya sendiri.
Waktu akan terus berdetak. Mengawasi tanpa bermaksud mengancam. Memberikan tanpa bermaksud meminta balas. Hadir selalu tanpa tuntutan minta banyak perhatian. Mirip kasih sayang yg tulus, tanpa tuntutan, hanya memberi.
Waktu adl daya. Dapat diberdayakan, dapat disia-siakan.
Apa arti waktu bagimu?

Selasa, 18 Juni 2013

Hari 2 Libur : Percaya deh!

Pagi ini aku terbangun jam 8.30 oleh percakapan anakku dan suamiku. Ya, cukup siang hari ini dimulai. Karena tadi malam saya mengetik tugas terjemahan (sambil nonton, mendengarkan radio dan Glee back to back, dilanjutkan Apprentice Asia... eh kok banyak sambilannya ya hahahaha..) sampai jam 3 dini hari. Cukup puas karena dapat mencakup lumayan halaman. Maka aku mulai mencermati apa saja tugas hari ini yang saya harus lakukan untuk pekerjaan dan rumah. Akhirnya saya putuskan tidak mencuci baju hari ini, karena akan menggunakan waktu untuk sbb : siapkan makan pagi, selesai makan pagi, belanja sayur, masak, mengetik tugas (ada dua tugas), makan siang, mengetik lagi, sore belanja ke minimarket dengan T, sore seperti biasa. Well, tidak semulus itu. Ketika saya memasak, datanglah tukang sampah untuk mengambil sampah di rumah, jadi sayapun sibuk mengeluarkan sampah-sampah lalu karena sekitar tempat sampah ada yang kotor, maka dipel lah dulu. Baru melanjutkan masak kembali. Ketika sudah selesai masak, saya mulai bersiap-siap untuk konsentrasi mengetik soal ujian yang sudah ditunggu oleh fakultas. Eh, ternyata baru duduk satu menit T bilang, "Mah, laper..." saya melirik ke arah jam, memang sih sudah pukul 11.30. Jadilah saya utak-atik-ituk ambilin makanan. Daan... karena T tampak malas melihat makanannya dan memang harus melepaskan daging ikan, sebagai lauknya, maka sekalian lah saya menyuapinya. Sekitar 45 menit acara menyuapi selesai. Terasa perutku memanggil makanan, baiklah saya pun makan sisa sedikit dari makanan T tadi, malas ambil makanan lagi judulnya. Dan cepat-cepat saya menyelesaikan soal ujian tersebut. Akhirnyaa... bisa juga menyelesaikan satu tugas. Sudah seleseai? Beluummm.. masih ada satu lagi menunggu... tapii ketika saya mulai ingin berkonsentrasi, ternyata sudah menunjukkan pukul 3 sore, dan saya menjanjikan jam 4 sore akan pergi ke minimarket dengan T. Maka untuk satu jam saya bisa mengerjakan tugas kedua. Dan mulailah T mengingatkanku karena jam dinding sudah menunjukkan pukul 4 sore, untuk pergi ke minimarket. Yap, rentetan tugas setelahnya bukanlah tugas mengetik ini. Rutinitas sore dimulai. Dan setelah rutinintas sore selesai (baca : sudah menyiapkan makan, mandi, T juga sudah mandi) maka barulah saya bisa duduk kembali di depan komputer untuk mengetik tugas lagi. Jadi... apakah menjadi ibu rumah tangga plus-plus itu mudah dan nyaman karena 'base' di rumah? Well, ga juga... karena ternyata amat membutuhkan management waktu dan energi tersendiri. Bahkan tidak mengenal waktu kerja (office hour) karena semua terjadi 24/7. Percaya deh!

Minggu, 16 Juni 2013

Hari 1 Libur!

Hari ini, 17 Juni 2013, hari pertama libur sekolah anakku, yang naik dari kelas 1 SD ke kelas 2 SD. Dan rasanya alam sungguh mendukung suasana liburan. Cuaca mendung, hujan turun, angin dingin menerpa. Semua melegalkan untuk tidur dan bangun agak siang. (ga terlalu siang, karena akan mengacaukan hari kalau terlalu siang). Pengen rasanya tetep di tempat tidur, keruntelan sama T (Teresa). Tapiii.... ada setumpuk cucian dan banyak bab buku yang masih harus diketikkan terjemahannya. Jadiiii.... setelah menikmati pagi liburan ini. Sekarang waktunya mulai 'bekerja'. Pertama, menyiapkan makanan. T berkata, "Maaa... sekali-sekali suapin dong...!" Aku menjawab, "Mama banyak yang musti dikerjakan, udah kamu makan duluan ntar Mama suapin kalo Mama dah sempet..." Setelah kusiapkan makanan T, aku keluar dan menyortir cucian baju yang menumpuk. Pakaian sehari-hari dicuci di rumah, pakaian lain dimasukkan ke kantong laundry. Suamiku yang akan membawanya on the way ke kantor. Lalu di tengah-tengah memasukkan baju ke mesin cuci, aku curiga T belum juga makan. Maka aku periksalah ke dalam, ternyata betul dugaanku. Dan buru-burulah aku mengingatkannya, "T ya ampun, ayo makan sekarang. Itu nasinya sudah terendam kuah, nanti tidak enak." Karena kaget aku memeriksanya dan mungkin baru teringat karena asyik menonton, T langsung duduk di depan meja makannya dan akhirnya makan juga. Padahal memang lebih asyik makan sendiri kan? Lihat aja tuh, setelah beberapa suapan, udah asyik dengan mempreteli ceker ayam hehe... Tapi, setelah itu, akhirnya disuapi juga 3 suapan, dan kenyanglah. Setelah semua perut terisi, waktunya T santai (ehhh tapi kok belum mandi ya...) dan Mama mengetik tugas... Happy Holiday to all :D

Kamis, 20 Desember 2012

Konsistensi

Dalam pengasuhan anak, konsistensi memegang peranan penting. Hal ini saya simpulkan setelah mencermati berbagai kasus pengasuhan anak, terutama dua kasus berikut yang kebetulan sy temukan di lingkungan yang sama. Kebetulan juga, keduanya berkaitan dengan pengaruhnya ke kemampuan anak berprestasi dan motivasi berprestasinya. Saya mulai dengan cerita pertama, ibu yang konsisten.

1. Cerita Ibu yang Konsisten (IK) Saya bertemu IK secara tidak sengaja bertemu di sekolah anak saya. Sambil menunggu anak-anak kami pulang sekolah, kami pun mengobrol. Herannya, meski baru pertama kali bertemu dan mengobrol, kami tidak merasa jengah untuk mengobrol satu sama lain. Keakraban terasa dari isi pembicaraan dan nada suara kami berdua. Ternyata ngobrol punya ngobrol, I adalah orang tua salah seorang teman anak saya (T) yaitu E. E dan T sering bermain bersama sepulang sekolah. Dan setahu saya E merupakan murid yang cukup mampu mengikuti pelajaran dengan memadai, yaitu jarang ketinggalan catatan ketika di kelas. I pun mengakui hal ini dan hal menarik disini, I juga menyatakan bahwa I tidak pernah mengikuti secara detil pelajaran-pelajaran E di SD ini. Kerena menurut I, E sudah sangat mandiri untuk melaksanakan rutinitas belajarnya di rumah. Hasil nilai yang E dapatkan juga rata-rata 90 dan 80. Kemandirian E dalam belajar juga terbentuk karena TK yang dienyam E dulu adalah TK yang cukup disiplin (tentang tuntutan TK ini tentu bisa menjadi bahan tulisan selanjutnya...) E mengenyam TK hanya dari TK B saja. --> belajar di sekolah yang sama = konsistensi 1 (mengapa belajar di skolah yang sama saya berikan penekanan? karena ada kaitannya dengan cerita Ibu yang kurang konsisten di bawah)

E juga mandiri dalam menyelesaikan pekerjaan rumah yang ditugaskan oleh I, yaitu mencuci piring dan menyapu rumah. Hal ini dibiasakan oleh IK kepada E agar E mandiri sejak kecil, mengingat I dan suami bekerja. --> ini konsistensi 2.

Ketika E kecil, memang ada pengasuh yang menjaga E dan adiknya di rumah. Namun akhir-akhir ini, E dan adiknya harus dititipkan pada tetangga karena pengasuh tidak lagi bekerja di rumah mereka.

Setiap hari E dan adiknya terbiasa "mengikuti" jadwal kerja I, yaitu biasa terbangun pagi pukul 04.30,dimandikan dan disuapi oleh I. Menurut I, kegiatan ini adalah prinsip I sejak anak2nya kecil bahwa mandi dan makan adalah urusan I. --> konsistensi 3

Lalu E diantarkan I bersekolah dan meski E meminta I mengantarkan sampai di depan kelas, namun I sering kali membiasakan E untuk berjalan sendiri. Lalu siangnya, tugas Auah lah yang menjemput E dari sekolah. Secara rutin I selalu membiasakan jam 5 sore sudah berada di rumah. Jadi jam 4.30 sore ia pasti sudah pulang dari rumah. --> jadwal yang pasti, konsistensi 4

Jadi dapat dilihat bahwa pengasuhan IK dilakukan secara konsisten kepada E sehingga E memiliki dasar yang baik untuk mengembangkan potensi dirinya. Hal ini terlihat dari performanya di sekolah. Tentu saja ini adalah analisa kasar dari obrolan 30 menit-an ditambah observasi acak yang tidak direncanakan kepada E. Tapi cerita ini cukup baik menggambarkan bahwa komunikasi yang baik, pengasuhan yang konsisten akan dapat memfasilitasi anak mengembangkan dirinya dengan baik.

2. Ibu yang tidak konsisten (ITK) ITK adalah seorang orang tua dari salah satu teman anak saya jugam yaitu F. F saat ini masih kurang mampu secara lancar mengikuti pelajaran di sekolah, yaitu sering tidak termotivasi untuk menulis catatan di kelas, belum lancar membaca, serta sering kali 'mogok' melakukan tugas-tugas sekolah. Sejarahnya, F ini berpindah-pindah sekolah sejak kelompok bermain. Jumlah total sekolah yang telah dihadiri oleh F semasa pra sekolah adalah kurang lebih 4 sekolah yaitu 2 sekolah di taman bermain, 2 sekolah di masa TK. Lalu masuklah F ke SD nya sekarang ini, dimana tentu saja masing-masing sekolah memiliki standar prestasi yang berbeda-beda (ya, prestasi, meski ini TK, hal ini memang bisa menjadi bahan menarik lainnya utk dibicarakan). --> tidak konsisten 1

Lalu ketidakkonsistenan kedua adalah, ketika pra sekolah, F mengalami 2 masa yaitu masa ketika ITK tidak bekerja dan masa ketika ITK bekerja. Ketika ITK bekerja, F dititipkan pada seorang tetangga (T1). ITK bercerita T1 itu merupakan pengasuh yang tidak dapat memberikan disiplin kepada F sehingga F bebas berbuat sesukanya. ITK pun merasa tak kuasa mengendalikannya. Ketika T1 pergi entah kemana, F pun berganti pengasuh, tetangganya yang lain (T2). Bersama T2, menurut ITK, F memiliki jadwal harian yang lebih teratur. Meski belum seperti harapan ITK --> tidak konsisten 2 (berganti-gantinya pengasuh dan peraturan pengasuhan yang tidak konsisten)

Dari dua faktor tersebut terlihat bahwa F memiliki dasar pengasuhan yang tidak bisa diandalkan. Anak memang memiliki karakteristik khas nya masing-masing. Namun ketika anak dihadapkan pada lingkungan yang tidak konsisten, baik dari segi significant others (pengasuh2 yang utama) dan juga nilai-nilai yang diterapkan (termasuk sistem disiplin), maka anak akan 'goyah', seperti rumah yang tidak memiliki pondasi yang kuat.

Dari kedua kasus tersebut, saya memang hanya menyoroti faktor konsistensi pengasuhan secara kasar saja. Hanya sebagai reminder untuk saya, sebagai psikolog dan orang tua serta sebagai sharing saya kepada teman-teman orang tua semua, bahwa jadilah orang tua dengan pengasuhan berkualitas yang baik dan KONSISTEN. Karena dengan konsistensilah, anak mendapatkan dasar bagi kehidupannya kelak.

Catatan : cerita ini berdasarkan cerita dari kalangan para ibu, bukan berarti meniadakan peranan ayah atau menaruh beban yang berat sebelah kepada ibu dalam pengasuhan anak. namun hanya mengambil sisi praktis dari cerita yang kebetulan saya dapatkan.

Kamis, 11 Oktober 2012

Hari Ini Menyenangkan Sekali di Sekolah!

Hari ini, hari UTS kelima utk Teresa. UTS pertamanya di kelas 1 SD ini. Jadi yang sibuk bersiap-siap bukan hanya Teresa tapi juga Emaknya hehe... Eniwey ini bukan tentang UTS nya tapi cerita Teresa tentang hari ini. Ketika pulang sekolah, T bercerita hari asyik di sekolahnya. Karena hari ini ia berimajinasi menjadi detektif dan bajak laut bersama teman-temannya. Dan itu semua ide yang dicetuskan T kepada teman-temannya. Tumben, saya pikir dalam hati, karena biasanya T adalah follower ide orang lain... Hm, rupanya imajinasi memang akan menemukan jalannya ketika terus dipupuk ya... Berikut ceritanya T yang sudah ditulis ulang oleh Emak hehe... 1. Detektif Rihana (sepertinya bukan terinspirasi dari nama penyanyi itu loh... tapi dari salah satu tokoh di buku cerita yang semalam dibacakan) T bercerita : Tadi T ajak R dan A (temen-temen perempuannya) utk jadi detektif. Mengejar pencuri uang. Yang jadi pencuri adalah S (teman laki-laki T). Awalnya S tidak mau tapi akhirnya mau juga. Terus cuma T yang berhasil melompati selokan yang isinya singa, semut besar dan laba-laba (yah inilah ajaibnya, singa pun bisa hidup di selokan). Di deket kantin kita buat markas. Markasnya anti pencuri dan gempa bumi jadi terus bisa berdiri. Tapi ga anti pencuri anak, soalnya kelupaan pas membangunnya. Terus kalo menunjukkan keberanian berarti detektifnya dapet tambahan power. T blg ke R dan A, kamu kan udah menunjukkan keberanian berarti kamu dapet tambahan power (keren deh...hehehe...)Terus karena T berhasil nangkep S, T sirem pake air minumnya R, dikit kokkk... (Emak : wah kasian jgn banyak2 ntar kebasahan), jadi T maju ke tahap berikutnya. Tahap berikutnya menjaga S kabur dari penjara di markas. Tapi karena markasnya ga anti pencuri jadinya S bisa kabur deh... (wadehhhh bisa jadi ide bikin cerpen ke BOBO kalo seseru ini ceritanya...) 2.Bajak Laut Rahhh... T bercerita juga, pulang sekolah T liat K (teman perempuan lainnya) naik2 ke tiang, T terus punya ide Aha! T ajak aja main bajak laut aja. Terus ceritanya mau cari harta karun. Harta karunnya pura-pura, yaitu es kelapa yg dipegang K. Tapi kita ga boleh menyentuh lautnya. Lautnya itu batu2 yang item, jadi bolehnya injek batu bata yang merah itu. kalo kena laut, berarti hartanya berkurang sedikit demi sedikit. Terus Mama dateng jadi udahan maennya... (dan T ga mau main lagi pas Emak dateng, mungkin karena udah cape... maklum lah abis 2 ujian dan 1 pelajaran hihihihi...) Seru dan menyenangkan sekali mendengar ceritanya T, sungguh penuh imajinasi dan keseruan. Maka ga heran jika T bilang : Hari ini menyenangkan sekali di sekolah!