I’m in the car, but not moving
Hundreds of people surrounding our car
Feels like trapped
Feels can not breath
Even a little bit panic inside
Don’t know where to go
Slowly…
I saw a peacefully scenery
Two children playing cooking game
They have their own world
They enjoy and cherish every moment of it
The boy hold a cooking pan
The girl hold a bigger bowl
They look like cooking soup
The water looks brown, the vegetables looks purple
Hem, watta a delicious meal, they think
As they play
All the people around them busy rushing and searching for things
But they just don’t care
They only play what they like
They never lie of anything
They free to be who they are
They can find a peacefull place inside them
No gold wanted
Only happiness they search
Could we stay and be like them?
That think simple and honest all the time
No need to keep anything in the name of some values
Live in a peacefull world
No worries, no boundaries from others
No need to fuss any targets
In the super-crowded area and stucked position
No need to feel unbreathable
No need to feel panic
Cos somehow you’ll find your peacefull energy
From other source or from inside of you
That u might not expected
Breath in
And be optimistic again
Soon you’ll have the right getaway
Ella
311008
(One fine day with my husband and my lovely daughter, when we went to the zoo)
Kamis, 22 Januari 2009
Selasa, 13 Januari 2009
Semangkuk Mi Instan
Siang ini, seperti biasanya, aku sedang menikmati me-time ku selagi anakku tidur. Listrik mati semenit yg lalu. Aku pun tak bisa menyalakan teman baikku di kala senggang, laptopku si compaq. Koneksi ke dunia maya pun terputus. Mataku enggan terpejam meski telah berbaring di kasurku yg nyaman. Maka muncullah ide yg tertunda sebelumnya. Makan mi instan hangat sambil membaca majalah dengan artikel berbobot yg sudah lama tak tertuntaskan.
Maka aku pun cepat2 menyiapkan mi instan rasa basic kesukaanku (mi kuah rasa ayam bawang merk s*p*rmi), sebelum anakku bangun. Untuk memasak mi instan, aku punya cara tersendiri loh... mau coba? Monggo... berikut caranya :
1. Supaya mengurangi bahan pengawet pada mi, maka biasanya aku membuang air rebusan yang pertama kali digunakan utk membuat mi. Biasanya setelah air tampak kekuningan, air rebusan akan kubuang. Lalu masukkan air yg baru untuk merebus seperti biasa.
2. Supaya rasa mi instan tidak standar dan tidak terlalu gurih karena penyedap, maka biasanya saya menambahkan berbagai bahan, seperti tomat, daun bawang, daun sledri, bawang bombay. Biasanya tergantung dg bahan apa yg ada di kulkas hehehe. Bisa salah satu, salah dua, atau salah semua eh, maksudnya dimasukkan semuanya ke dalam mi instan.
3. Kalau ingin lebih berisi, mi instan bisa juga ditambahkan telur.
4. Jadilah mi instan yg memikat hati.... hihihi
Setelah mi instan ini jadi, maka aku membawanya ke tempat duduk favoritku, dan mengambil majalah yg sudah lama ingin kutuntaskan. Maka kira2 dalam waktu setengah jam, aku pun asik dengan kegiatanku ini, makan mi instan dan membaca. Hem, ternyata matinya listrik tetap bisa membuatku menambah asupan perut dan otak loh... hehehe. Bahkan mendapat ide beberapa topik tulisan. So, kalau kapan2 listrik mati... jangan mati gaya... beralihlah ke mi instan dan buku2 anda... hehehe ;)
Maka aku pun cepat2 menyiapkan mi instan rasa basic kesukaanku (mi kuah rasa ayam bawang merk s*p*rmi), sebelum anakku bangun. Untuk memasak mi instan, aku punya cara tersendiri loh... mau coba? Monggo... berikut caranya :
1. Supaya mengurangi bahan pengawet pada mi, maka biasanya aku membuang air rebusan yang pertama kali digunakan utk membuat mi. Biasanya setelah air tampak kekuningan, air rebusan akan kubuang. Lalu masukkan air yg baru untuk merebus seperti biasa.
2. Supaya rasa mi instan tidak standar dan tidak terlalu gurih karena penyedap, maka biasanya saya menambahkan berbagai bahan, seperti tomat, daun bawang, daun sledri, bawang bombay. Biasanya tergantung dg bahan apa yg ada di kulkas hehehe. Bisa salah satu, salah dua, atau salah semua eh, maksudnya dimasukkan semuanya ke dalam mi instan.
3. Kalau ingin lebih berisi, mi instan bisa juga ditambahkan telur.
4. Jadilah mi instan yg memikat hati.... hihihi
Setelah mi instan ini jadi, maka aku membawanya ke tempat duduk favoritku, dan mengambil majalah yg sudah lama ingin kutuntaskan. Maka kira2 dalam waktu setengah jam, aku pun asik dengan kegiatanku ini, makan mi instan dan membaca. Hem, ternyata matinya listrik tetap bisa membuatku menambah asupan perut dan otak loh... hehehe. Bahkan mendapat ide beberapa topik tulisan. So, kalau kapan2 listrik mati... jangan mati gaya... beralihlah ke mi instan dan buku2 anda... hehehe ;)
Minggu, 11 Januari 2009
Suamiku Suamimu
Pagi ini seperti biasa, sehabis memandikan anakku, aku membereskan kamar mandi yang penuh dengan berbagai permainan air dan satu bak mandi penuh air sabun. Hari ini adalah hari Senin pertama di tahun 2009. Kalau aku bekerja sebagai seorang karyawan, pasti pagi ini aku mengalami sindrom ‘I hate Monday’, apalagi setelah libur panjang akhir tahun. Tapi aku adalah seorang ibu rumah tangga yang tidak mengenal libur dan hari kerja. Setiap hari adalah hari kerja bagi para ibu rumah tangga. Aku pun berandai-andai. Jika saja hari ini adalah hari libur maka akan ada suamiku yang membantuku memebereskan kamar mandi atau hanya sekedar menemani anak kami bermain sehingga aku memiliki waktu yang lebih leluasa. Namun hari ini adalah hari Senin, jadi tak ada suamiku yang bisa menjadi asisten sementara. Meski ada Mbok Yem, yang membantu pekerjaan mencuci, memasak serta membersihkan rumah, namun semua keperluan Naya, anakku, aku yang melakukannya sendiri.
Tiba-tiba aku teringat percakapanku dengan seorang kenalanku di dunia maya. Dia juga adalah seorang ibu rumah tangga seperti aku. Kami berkenalan lewat sebuah mailing list (milis) yang mengampanyekan pentingnya ASI bagi ibu dan bayi. Setelah beberapa kali bertukar pendapat mengenai berbagai macam isyu pengasuhan bayi, kami pun ber-kopi darat pada suatu waktu. Nah, percakapan pada waktu kopi darat inilah yang kuingat sekarang ini. Karena berhubungan dengan suami yang tadi kuharapkan bantuannya itu.
Hari itu hari Minggu siang yang amat panas. Beruntunglah kami bisa duduk dengan nyaman di dalam ruangan ber-AC ditemani berbagai makanan enak serta minuman segar. Mbak Di, begitu aku menyapa temanku itu, sedang sibuk dengan anaknya, Rafa yang baru berusia 8 bulan. Sedangkan anakku, Brigita, sedang asyik bermain bersama suamiku di sebuah arena bermain, tak jauh dari restoran tempat kami duduk sekarang ini.
Mbak Di berkomentar sambil menyuapi Rafa, “Enak ya, kamu punya suami seperti itu..”
“Maksud Mbak seperti itu apa, Mbak?” tanyaku penasaran.
“Itu lho, mau diminta jagain anak… kan ga semua suami seperti itu,” jelas Mbak Di, dengan suara agak mengecil dan sedikit menerawang.
“Memang saya bersyukur punya suami seperti Mas Dika, Mbak. Karena dia ‘care’ sekali sama urusan anak, termasuk untuk menjaganya,” kataku menimpali.
“Coba ya suamiku seperti Mas Dika…” kata Mbak Di menerawang.
“Emang suami Mbak kenapa?” kataku ingin tau.
“Begini Niek, suamiku itu ga peduli sama sekali dengan urusan rumah tangga. Dia itu masih kolot. Dia menganggap semua urusan rumah dan anak adalah urusanku. Untung anakku baru satu, coba kalau nambah lagi, wah makin pusing deh aku!” sahut Mbak Di panjang lebar.
Aku tidak terlalu terkejut mendengar penjelasan Mbak Di, karena aku pernah mendengar suami semacam itu sebelumnya dari beberapa temanku. Aku menimpalinya juga dengan penjelasan panjang lebar tentang suamiku, “ Tapi Mbak, ga selalu enak kok punya suami kayak Mas Dika. Kadang-kadang aku ngerasa Mas Dika terlalu over-involved, sedikit salah dalam mengatur urusan rumah tangga pasti dimarahinya. Bosan aku. Jadi kesannya aku selalu harus sempurna. Padahal manusia kan ga sempurna, ya Mbak. Ah, bukannya aku ga bersyukur. Aku senang punya suami seperti Mas Dika, yang sangat saying dan peduli pada anak dan istri. Hanya kadang aku cape kalo setiap kali melakukan keteledoran, pasti deh dia ngomel… Coba Mas Dika cuek dikittt ajaa…. Jadinya aku ga selalu ngerasa was-was kalo aku ga sengaja berbuat salah…”
“Waduh, Niek. Jangan merasa seperti itu. Aku yakin Mas Dika ga mau kamu merasa demikian. Pasti dia cuma pengen yang terbaik untuk kamu dan anakmu. Ga usahlah terlalu dimasukkan ke hati. Lebih enak punya suami yang terus ngomeli kamu karena peduli, daripada punya suami yang nanya tentang anak aja jaraaannng banget. Ya, kayak suamiku itu…. Yang taunya pulang kantor, nyampe rumah, makan, mandi, nonton tv atau baca koran, dan tidur. Nengok anak pun cuma sebentar. Jarang ngajak maen. Kasian Rafa…. Kan pengeng juga sekali-sekali bercanda dan bermain sama Ayahnya. Tapi ya itu, Niek. Kalo aku ingatkan, Mas Dodi hanya bilang kalau dia sudah lelah seharian bekerja dan ingin cepat-cepat beristirahat serta berpendapat bahwa Rafa sudah cukup bermain dengan aku seharian…” demikian tanggapan Mbak Dini yang sekaligus merupakan curahan hatinya, yang rupanya telah lama dipendamnya.
“Hem…, iya ya Mbak. Ada benernya juga ya. Kalo dipikir-pikir emang sih enakan ada yang peduli, meski pedulinya kadang-kadang ya itu, nyebelin. Mungkin kayak minum obat kali ya… meski pahit tapi membawa ke keadaan yang lebih baik.” Kataku merasa agak bersyukur dengan adanya Mas Dika.
“Iya, Niek. Bener itu… Tokh kan Mas Dika ga selalu marah kan, pasti ada ketawa-ketiwinya juga kan….” kata Mba Di menyetujui.
“Iya, Mbak bener juga… emang ga lama sih dia kalo marah… besoknya palingan jug sudah becandaan lagi… Oya, Mbak udah coba membicarakan uneg-uneg Mbak ini kepada Mas Dodi? Siapa tau suami Mbak mau berusaha berubah dan lebih peduli dengan kegiatan rumah tangga, terutama membangun hubungan ayah-anak yang lebih dekat dengan Rafa…” kataku berusaha menyarankan.
“Ya itulah Niek. Aku memang belum mencoba, karena energiku sehari-hari sudah habis rasanya untuk mengurus Rafa dan rumah. Aku juga takut jadinya berantem dengan Mas DOdi kalau hal ini aku bicarakan. Aku belum ketemu waktu dan cara yang pas untuk bicarain ini, Niek… ya doain aja ya, supaya aku bisa berani dan nemu cara serta waktu yang pas untuk bicarain hal ini ke Mas Dodi.” jelas Mbak Di.
“Ya Mbak, pasti aku doakan. Yah, emang manusia ga ada puasnya ya, Mbak. Kayaknya berlaku tuh pepatah waktu kita SD, rumput tetangga selalu lebih hijau… Suami orang selalu tampak lebih baik daripada suami sendiri… hahahah…” kataku berusaha menyimpulkan percakapan kami.
“Hahaha… iya, Niek. Kamu bisa aja…. Yang penting kita berusaha yang terbaik ya, untuk anak dan suami..” kata Mbak Di mengiyakan kata-kataku.
Itulah sepenggal percakapanku dengan Mbak Di, yang membuatku selalu semakin bersyukur memiliki suami seperti Mas Dika. Meskipun sering merasa kesal karena Mas Dika mengomeli aku hanya karena hal sepele, namun aku sadar omelannya itu adalah bentuk dari kepeduliannya. Jadi aku tidak lagi terlalu menyimpan kekesalanku ini. Dengan kritikan serta masukan dari Mas Dika, aku berusaha menjadi seorang istri dan ibu yang kian hari kian baik dari sebelumnya.
Tiba-tiba aku teringat percakapanku dengan seorang kenalanku di dunia maya. Dia juga adalah seorang ibu rumah tangga seperti aku. Kami berkenalan lewat sebuah mailing list (milis) yang mengampanyekan pentingnya ASI bagi ibu dan bayi. Setelah beberapa kali bertukar pendapat mengenai berbagai macam isyu pengasuhan bayi, kami pun ber-kopi darat pada suatu waktu. Nah, percakapan pada waktu kopi darat inilah yang kuingat sekarang ini. Karena berhubungan dengan suami yang tadi kuharapkan bantuannya itu.
Hari itu hari Minggu siang yang amat panas. Beruntunglah kami bisa duduk dengan nyaman di dalam ruangan ber-AC ditemani berbagai makanan enak serta minuman segar. Mbak Di, begitu aku menyapa temanku itu, sedang sibuk dengan anaknya, Rafa yang baru berusia 8 bulan. Sedangkan anakku, Brigita, sedang asyik bermain bersama suamiku di sebuah arena bermain, tak jauh dari restoran tempat kami duduk sekarang ini.
Mbak Di berkomentar sambil menyuapi Rafa, “Enak ya, kamu punya suami seperti itu..”
“Maksud Mbak seperti itu apa, Mbak?” tanyaku penasaran.
“Itu lho, mau diminta jagain anak… kan ga semua suami seperti itu,” jelas Mbak Di, dengan suara agak mengecil dan sedikit menerawang.
“Memang saya bersyukur punya suami seperti Mas Dika, Mbak. Karena dia ‘care’ sekali sama urusan anak, termasuk untuk menjaganya,” kataku menimpali.
“Coba ya suamiku seperti Mas Dika…” kata Mbak Di menerawang.
“Emang suami Mbak kenapa?” kataku ingin tau.
“Begini Niek, suamiku itu ga peduli sama sekali dengan urusan rumah tangga. Dia itu masih kolot. Dia menganggap semua urusan rumah dan anak adalah urusanku. Untung anakku baru satu, coba kalau nambah lagi, wah makin pusing deh aku!” sahut Mbak Di panjang lebar.
Aku tidak terlalu terkejut mendengar penjelasan Mbak Di, karena aku pernah mendengar suami semacam itu sebelumnya dari beberapa temanku. Aku menimpalinya juga dengan penjelasan panjang lebar tentang suamiku, “ Tapi Mbak, ga selalu enak kok punya suami kayak Mas Dika. Kadang-kadang aku ngerasa Mas Dika terlalu over-involved, sedikit salah dalam mengatur urusan rumah tangga pasti dimarahinya. Bosan aku. Jadi kesannya aku selalu harus sempurna. Padahal manusia kan ga sempurna, ya Mbak. Ah, bukannya aku ga bersyukur. Aku senang punya suami seperti Mas Dika, yang sangat saying dan peduli pada anak dan istri. Hanya kadang aku cape kalo setiap kali melakukan keteledoran, pasti deh dia ngomel… Coba Mas Dika cuek dikittt ajaa…. Jadinya aku ga selalu ngerasa was-was kalo aku ga sengaja berbuat salah…”
“Waduh, Niek. Jangan merasa seperti itu. Aku yakin Mas Dika ga mau kamu merasa demikian. Pasti dia cuma pengen yang terbaik untuk kamu dan anakmu. Ga usahlah terlalu dimasukkan ke hati. Lebih enak punya suami yang terus ngomeli kamu karena peduli, daripada punya suami yang nanya tentang anak aja jaraaannng banget. Ya, kayak suamiku itu…. Yang taunya pulang kantor, nyampe rumah, makan, mandi, nonton tv atau baca koran, dan tidur. Nengok anak pun cuma sebentar. Jarang ngajak maen. Kasian Rafa…. Kan pengeng juga sekali-sekali bercanda dan bermain sama Ayahnya. Tapi ya itu, Niek. Kalo aku ingatkan, Mas Dodi hanya bilang kalau dia sudah lelah seharian bekerja dan ingin cepat-cepat beristirahat serta berpendapat bahwa Rafa sudah cukup bermain dengan aku seharian…” demikian tanggapan Mbak Dini yang sekaligus merupakan curahan hatinya, yang rupanya telah lama dipendamnya.
“Hem…, iya ya Mbak. Ada benernya juga ya. Kalo dipikir-pikir emang sih enakan ada yang peduli, meski pedulinya kadang-kadang ya itu, nyebelin. Mungkin kayak minum obat kali ya… meski pahit tapi membawa ke keadaan yang lebih baik.” Kataku merasa agak bersyukur dengan adanya Mas Dika.
“Iya, Niek. Bener itu… Tokh kan Mas Dika ga selalu marah kan, pasti ada ketawa-ketiwinya juga kan….” kata Mba Di menyetujui.
“Iya, Mbak bener juga… emang ga lama sih dia kalo marah… besoknya palingan jug sudah becandaan lagi… Oya, Mbak udah coba membicarakan uneg-uneg Mbak ini kepada Mas Dodi? Siapa tau suami Mbak mau berusaha berubah dan lebih peduli dengan kegiatan rumah tangga, terutama membangun hubungan ayah-anak yang lebih dekat dengan Rafa…” kataku berusaha menyarankan.
“Ya itulah Niek. Aku memang belum mencoba, karena energiku sehari-hari sudah habis rasanya untuk mengurus Rafa dan rumah. Aku juga takut jadinya berantem dengan Mas DOdi kalau hal ini aku bicarakan. Aku belum ketemu waktu dan cara yang pas untuk bicarain ini, Niek… ya doain aja ya, supaya aku bisa berani dan nemu cara serta waktu yang pas untuk bicarain hal ini ke Mas Dodi.” jelas Mbak Di.
“Ya Mbak, pasti aku doakan. Yah, emang manusia ga ada puasnya ya, Mbak. Kayaknya berlaku tuh pepatah waktu kita SD, rumput tetangga selalu lebih hijau… Suami orang selalu tampak lebih baik daripada suami sendiri… hahahah…” kataku berusaha menyimpulkan percakapan kami.
“Hahaha… iya, Niek. Kamu bisa aja…. Yang penting kita berusaha yang terbaik ya, untuk anak dan suami..” kata Mbak Di mengiyakan kata-kataku.
Itulah sepenggal percakapanku dengan Mbak Di, yang membuatku selalu semakin bersyukur memiliki suami seperti Mas Dika. Meskipun sering merasa kesal karena Mas Dika mengomeli aku hanya karena hal sepele, namun aku sadar omelannya itu adalah bentuk dari kepeduliannya. Jadi aku tidak lagi terlalu menyimpan kekesalanku ini. Dengan kritikan serta masukan dari Mas Dika, aku berusaha menjadi seorang istri dan ibu yang kian hari kian baik dari sebelumnya.
Rabu, 07 Januari 2009
Once Upon A Time
Once upon a time
I had a place that I called home
It filled with people I knew
People that had same interest as I
Its the place where my soul grew
The place to share with
The place of love
As I grew
I learn that I have many homes of interests
That made me realize that the world is larger than I had been imagined before
As I grew
I learn to see things differently as the people, once I called my family
I learn to see things differently
I learn to set priorities
Learn to let go
Learn to see&accept that some stays
some must go
As I grew
I learn to see things in many aspects
through different point of view
As I grew
I have different opinions about many things
Things that I once loved n be my most of all above anything
became the last priority of life
I learn to put many things that once I adored so much
Learn to live realistically
Cos life change
That's the only thing constant in life
Change
There will another 'Once upon a time...' in the future
When I'll see over my shoulder
n maybe give a big grin
or teared apart
I dont know yet
But
I learn
My "Once upon a time..."
Has mold me into who I am now
I had a place that I called home
It filled with people I knew
People that had same interest as I
Its the place where my soul grew
The place to share with
The place of love
As I grew
I learn that I have many homes of interests
That made me realize that the world is larger than I had been imagined before
As I grew
I learn to see things differently as the people, once I called my family
I learn to see things differently
I learn to set priorities
Learn to let go
Learn to see&accept that some stays
some must go
As I grew
I learn to see things in many aspects
through different point of view
As I grew
I have different opinions about many things
Things that I once loved n be my most of all above anything
became the last priority of life
I learn to put many things that once I adored so much
Learn to live realistically
Cos life change
That's the only thing constant in life
Change
There will another 'Once upon a time...' in the future
When I'll see over my shoulder
n maybe give a big grin
or teared apart
I dont know yet
But
I learn
My "Once upon a time..."
Has mold me into who I am now
Selasa, 06 Januari 2009
Pernahkah
Pernahkah anda...
merasa sangat penuh
pengen itu
pengen ini
merasa banyak yg pengen diraih
yang itu
yang ini
merasa banyak hal yg menarik utk dilewatkan
tp ya harus dilewatkan juga krn satu dan lain hal
pernahkah anda...
merasa ingin dan bisa meraih bintang nun jauh di angkasa
tp ternyata bintang terindah itu ada disamping anda
pernahkah...
merasa sangat penuh
pengen itu
pengen ini
merasa banyak yg pengen diraih
yang itu
yang ini
merasa banyak hal yg menarik utk dilewatkan
tp ya harus dilewatkan juga krn satu dan lain hal
pernahkah anda...
merasa ingin dan bisa meraih bintang nun jauh di angkasa
tp ternyata bintang terindah itu ada disamping anda
pernahkah...
Langganan:
Postingan (Atom)